Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Karhutla Kalimantan Menggila, Asap Ancam Langit dan Paru-paru

by dimas
Agustus 21, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Karhutla Kalimantan meluas dengan 1.487 titik panas. Asap mulai mengancam penerbangan, kesehatan warga, dan memperlihatkan lemahnya pencegahan.

Tabooo.id – Api tidak hanya membakar hutan dan lahan. Kali ini, asapnya mulai mengusik ruang yang lebih luas: bandara, sekolah, jalan, hingga saluran pernapasan warga.

BNPB mencatat 1.487 titik panas tersebar di wilayah Kalimantan. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, mencapai 767 titik.

Kalimantan Barat menyusul dengan 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan memiliki 74 titik, Kalimantan Timur 74 titik, dan Kalimantan Utara tiga titik.

Angka itu bukan sekadar statistik satelit. Di balik ribuan titik panas tersebut, ada udara yang memburuk dan aktivitas warga yang ikut terancam.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan hotspot.

Ini Belum Selesai

Listyo Sigit Mau Pensiun, Tapi Siap Demo jika Desk Buruh Mandek?

Investasi dan Harga Sebuah Kepercayaan

“BNPB bersama pemerintah daerah melakukan pemantauan perkembangan titik panas, pemetaan wilayah rawan, serta koordinasi,” kata Berton, Kamis.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada berapa banyak titik api yang muncul. Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa cepat negara mampu memutus rantai kebakaran sebelum asap berubah menjadi bencana kesehatan.

Ketika Api Mulai Mengganggu Langit

Ancaman karhutla kini sudah memasuki ruang transportasi udara.

Kabut asap mengganggu penerbangan di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan. Kondisi itu menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak lagi berada jauh dari pusat aktivitas masyarakat.

Anggota Komisi IV DPR Johan Rosihan menilai pemerintah harus bergerak sebelum asap mengganggu penerbangan dan kesehatan.

“Penanganan tidak boleh baru masif setelah asap mengganggu penerbangan dan membahayakan kesehatan masyarakat,” kata Johan.

Pernyataan itu menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Negara sering kali terlihat bergerak paling cepat ketika dampak sudah terlihat dan mengganggu aktivitas publik.

Padahal, kebakaran tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses panjang sebelum titik panas berubah menjadi kepulan asap yang menutup langit.

Kalimantan Berhadapan dengan Cuaca Kering

BMKG memetakan Kalimantan sebagai salah satu wilayah yang harus mendapat perhatian serius.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur sebagai wilayah prioritas hotspot.

Masalahnya, kondisi atmosfer belum memberikan banyak ruang untuk bernapas.

BMKG memprediksi pertumbuhan awan masih minim dalam sepuluh hari ke depan di sejumlah wilayah Indonesia. Kalimantan termasuk kawasan yang berpotensi mengalami kondisi kering berkepanjangan.

Kondisi tersebut membuat api memiliki ruang untuk bertahan dan meluas.

Pemerintah kemudian menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC. Operasi itu tidak hanya bertujuan membantu pemadaman, tetapi juga mengisi waduk.

Kalimantan Barat masih memiliki peluang pelaksanaan OMC pada 23–27 Agustus. Namun, Kalimantan Tengah menghadapi persoalan berbeda.

Menurut BMKG, hingga akhir Agustus tidak terdapat potensi awan hujan yang cukup untuk disemai di wilayah tersebut.

Dengan kata lain, teknologi modifikasi cuaca pun memiliki batas.

Masalahnya Bukan Sekadar Musim Kering

Di titik inilah narasi karhutla tidak boleh berhenti pada persoalan cuaca.

Cuaca kering memang memperbesar risiko kebakaran. Namun, kebakaran berulang juga memperlihatkan persoalan pencegahan, pengawasan, dan tata kelola.

Johan menilai pemerintah perlu memperkuat deteksi dini dan patroli terpadu. Pemerintah juga harus mengevaluasi kesiapan sarana serta kepatuhan perusahaan pemegang konsesi.

“Persoalannya bukan sekadar cuaca, tetapi juga kelemahan tata kelola pencegahan dan koordinasi penanganan karhutla,” ujar Johan.

Kritik tersebut penting karena karhutla selalu menghadirkan pola yang hampir sama.

Api muncul. Asap menyebar. Aktivitas terganggu. Warga mulai mengeluh. Pemerintah meningkatkan penanganan.

Lalu, setelah api padam, perhatian perlahan surut.

Pola semacam itu membuat karhutla berisiko menjadi siklus tahunan. Negara sibuk memadamkan api, tetapi pencegahan sering tertinggal dari kecepatan ancaman.

Ketika Paru-paru Menjadi Korban Berikutnya

Asap tidak mengenal batas administrasi.

Partikel hasil pembakaran dapat masuk ke ruang hidup masyarakat, terutama ketika konsentrasi asap meningkat dan warga tetap melakukan aktivitas di luar rumah.

Kementerian Kesehatan meminta masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Warga juga diminta menghindari rokok selama kondisi udara memburuk.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman meminta masyarakat menjaga asupan makanan, mencuci tangan, beristirahat cukup, dan menghindari rokok.

Masyarakat juga harus mengenali gejala ISPA.

Batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, dan nyeri dada membutuhkan perhatian medis. Kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Kemenkes bahkan telah mendistribusikan bantuan kesehatan ke sejumlah daerah terdampak.

Bantuan itu mencakup 267.630 masker, 54 oxygen concentrator, 1.000 pasang sarung tangan, 36 oxycan, dan sejumlah perlengkapan kesehatan lainnya.

Kalimantan Barat menerima porsi masker terbesar, yakni 157.000 masker. Kalimantan Tengah menerima 42.400 masker serta 28 oxygen concentrator.

Bantuan tersebut penting. Namun, masker dan oksigen hanya menjawab dampak setelah asap masuk ke ruang hidup manusia.

Api Berada di Hutan, Dampaknya Berada di Mana-mana

Karhutla memperlihatkan satu paradoks.

Api membakar lahan di satu wilayah. Namun, dampaknya bisa bergerak menuju kota, bandara, sekolah, fasilitas kesehatan, bahkan wilayah negara tetangga.

Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan tidak cukup berdasarkan jumlah api yang padam.

Pertanyaannya juga harus bergeser.

Berapa banyak titik api yang berhasil dicegah?

Seberapa cepat sistem peringatan bekerja?

Seberapa kuat patroli berlangsung sebelum kebakaran membesar?

Dan siapa yang bertanggung jawab ketika berbagai lembaga berada di lapangan tetapi respons tetap terlambat?

Johan menyoroti lemahnya komando tunggal dalam situasi darurat. Ia mengingatkan agar pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Manggala Agni, TNI-Polri, dan pengelola konsesi tidak saling menunggu.

Di sinilah persoalan karhutla berubah menjadi persoalan tata kelola.

Ini Bukan Sekadar Kebakaran. Ini Pola.

1.487 hotspot bukan sekadar angka. Ia menunjukkan betapa cepat persoalan ekologis berubah menjadi persoalan publik.

Dampak karhutla kini merembet jauh dari kawasan hutan. Kabut asap mulai mengganggu penerbangan dan memperburuk kualitas udara yang dihirup masyarakat. Di tengah kondisi itu, kesehatan warga ikut terancam, sementara aktivitas pendidikan dan mobilitas publik juga menghadapi risiko ketika jarak pandang menurun.

Ketika sekolah harus mempertimbangkan aktivitas luar ruang, masalahnya masuk ke pendidikan. Ketika jarak pandang menurun, keselamatan publik ikut dipertaruhkan.

Karhutla akhirnya tidak lagi bisa diperlakukan sebagai urusan pemadam kebakaran semata.

Ia menyentuh tata ruang, pengawasan lahan, kesiapan pemerintah, kepatuhan konsesi, perubahan cuaca, kesehatan, dan keselamatan publik.

Api mungkin terlihat di hutan. Tetapi kegagalan mencegahnya terasa di seluruh ruang kehidupan.

Karena itu, pekerjaan pemerintah tidak boleh berhenti ketika bara terakhir padam.

Sebab jika pola yang sama terus berulang, persoalannya bukan lagi tentang bagaimana memadamkan api.

Persoalannya adalah mengapa api selalu mendapatkan kesempatan untuk kembali. @dimas

Tags: Kabut AsapKarhutla KalimantanKebakaran HutanKesehatan Masyarakat

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

by teguh
Agustus 21, 2026

Musim kering belum selesai, tetapi asap kembali menjadi cerita Karhutla Kalimantan. Per 19/08/2026, data BNPB yang disampaikan Wakil Ketua Komisi...

Karhutla Kalimantan Mengganas, Malaysia Kebagian Dampaknya

Karhutla Kalimantan Mengganas, Malaysia Kebagian Dampaknya

by dimas
Agustus 21, 2026

Karhutla Kalimantan mengganas, asap menyeberang ke Malaysia hingga mengganggu kualitas udara dan memaksa 108 sekolah di Sarawak tutup sementara. Tabooo.id...

Merah Putih di Tengah Asap, Potret Kemerdekaan yang Belum Utuh

Merah Putih di Tengah Asap, Potret Kemerdekaan yang Belum Utuh

by dimas
Agustus 13, 2026

Merah Putih berkibar di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Palangka Raya, menggambarkan kemerdekaan yang belum sepenuhnya terasa bagi warga....

Next Post
Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id