Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Karhutla Tak Hanya Membakar Hutan, Tapi Juga Kehidupan Warga Desa

by dimas
Mei 25, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter
Karhutla di Kalimantan Tengah tak hanya membakar hutan, tetapi juga memukul ekonomi keluarga, perempuan, dan masa depan anak desa.

Tabooo.id: Reality – Di bawah langit Pulang Pisau yang memerah karena asap, Elin memandangi hutan yang terbakar di belakang sekolahnya. Sementara kelompok Masyarakat Peduli Api berjibaku memadamkan kobaran api, ia justru memikirkan masa depannya yang terasa ikut hangus bersama hutan.

“Kalaupun uang tumbuh dari tanah, pasti sudah terbakar,” katanya kepada Bunga, teman pindahannya dari Bandung.

Dialog itu bukan sekadar adegan fiksi. Nadiyah Suyatna dan Sofyan Ansori menulis kisah tersebut dalam komik Smoldering setelah mereka meneliti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, sejak 2023.

Program Fire Play milik LPPSP FISIP Universitas Indonesia melahirkan komik tersebut bersama sejumlah jurnal penelitian dan film dokumenter. Peneliti mempresentasikan hasilnya dalam Dialog Kebijakan bertajuk “Penguatan Tata Kelola Karhutla Inklusif” di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Masalahnya, karhutla di Kalimantan kini bukan cuma soal asap atau pohon yang terbakar. Krisis itu mulai merusak sekolah, ekonomi keluarga, hingga masa depan anak-anak desa.

Ini Belum Selesai

Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi, Ada Apa?

Bakar Sampah Berujung Kebakaran Kabel PT Sangsaka di Bantul

Perempuan Memikul Beban Ganda

Dosen Sosiologi Fisipol Universitas Palangka Raya, Evi Nurleni, menilai perempuan justru memikul beban paling berat saat karhutla melanda.

Menurut Evi, banyak laki-laki desa pergi merantau karena takut membuka ladang setelah pemerintah melarang pembakaran lahan. Mereka mencari pekerjaan di luar kampung selama satu hingga tiga bulan.

“Banyak kampung di Kalimantan Tengah jadi sepi laki-laki,” ujar Evi.

Situasi itu memaksa perempuan adat mengurus rumah, menjaga anak, mengelola ladang, sekaligus memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Mereka menjalani semuanya sendirian demi biaya dapur dan sekolah anak.

Akibatnya, sebagian anak akhirnya putus sekolah karena ekonomi keluarga terus melemah.

Evi juga mengkritik pendekatan pemerintah yang terlalu menekankan pidana dan aturan sentralistis. Menurutnya, aparat sering memandang peladang sebagai ancaman lingkungan, bukan masyarakat yang sedang bertahan hidup.

“Ladang akhirnya berubah menjadi lokus pidana,” katanya.

Pengetahuan Lokal Mulai Tersingkir

Peneliti Fire Play, Sri Paramita Budhi Utami, menilai tata kelola karhutla di Indonesia masih memakai paradigma maskulin. Pemerintah lebih fokus memadamkan api secara fisik daripada memahami akar sosial di balik kebakaran.

Utami menegaskan masyarakat adat sebenarnya memiliki pengetahuan lokal yang penting untuk mencegah karhutla. Pengalaman perempuan desa, kelompok adat, hingga difabel seharusnya ikut masuk dalam kebijakan.

“Pengetahuan lokal meliputi pengalaman masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan dan api,” ujar Utami.

Ia juga meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan tanpa bakar secara lebih fleksibel. Menurutnya, pendekatan hukum semata justru membuat masyarakat takut berladang.

Perempuan, kata Utami, menghadapi tekanan berlapis akibat asap karhutla. Mereka menanggung risiko kesehatan reproduksi sekaligus tambahan beban kerja di rumah.

Daerah Kehilangan Dukungan

Di sisi lain, kemampuan daerah menghadapi musim kemarau mulai melemah. Setelah pemerintah membubarkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), banyak infrastruktur penanganan karhutla tidak lagi terawat.

Joni, anggota Masyarakat Peduli Api di Desa Tanjung Taruna, mengaku kelompoknya kini hampir tidak memiliki anggaran patroli.

“Sekarang kami bergerak kalau ada api saja,” katanya.

Padahal sebelumnya BRGM membangun ribuan sekat kanal dan sumur bor di berbagai wilayah Kalimantan untuk membantu mitigasi kebakaran.

Kepala BPBD Pulang Pisau, Herman Wibowo, bahkan mengaku kesulitan melacak titik sumur bor yang pernah dibangun.

Padahal BMKG sudah memperingatkan musim kemarau tahun ini datang lebih cepat dan lebih kering. Sebanyak 325 zona musim di Indonesia diprediksi mengalami kemarau lebih awal dari biasanya.

Api yang Menyisakan Luka Sosial

Karhutla terus memperlihatkan satu ironi besar. Negara sibuk memadamkan api, tetapi banyak warga desa tetap memikul dampak sosialnya sendirian.

Ini bukan sekadar kebakaran hutan. Ini pola ketika kebijakan lahir jauh dari suara masyarakat yang hidup paling dekat dengan hutan.

Dan ketika asap kembali turun ke desa-desa, perempuan serta anak-anak lagi-lagi menjadi pihak yang pertama menanggung sesaknya. serta anak-anak lagi-lagi menjadi pihak yang pertama menanggung sesaknya. @dimas

Tags: Kalimantan TengahKarhutla KalimantanKebakaran HutanKrisis LingkunganPerempuan Adat

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

by dimas
September 16, 2026

Karhutla 2026 meluas di sejumlah wilayah. Penanganan kasus kini turut menyoroti dugaan tanggung jawab korporasi, kewajiban pencegahan, dan penegakan hukum...

Karhutla Kalimantan: Saat Api, Adat dan Hukum Beradu

Karhutla Kalimantan: Saat Api, Adat dan Hukum Beradu

by dimas
September 7, 2026

Karhutla Kalimantan mempertemukan persoalan kebakaran, tradisi masyarakat adat, penegakan hukum, dan konflik penguasaan lahan dalam satu dilema. Tabooo.id - Kabut...

Masyarakat Adat Kaltim Tolak Jadi Kambing Hitam Karhutla

Masyarakat Adat Kaltim Tolak Jadi Kambing Hitam Karhutla

by dimas
September 3, 2026

Masyarakat Adat Kaltim menolak dijadikan kambing hitam karhutla. AMAN menyoroti praktik ladang tradisional dan meminta sumber kebakaran ditelusuri hingga kawasan...

Next Post
Negara Hukum Indonesia: Saat Pancasila Diuji di Tengah Kekacauan Abad 21

Negara Hukum Indonesia: Saat Pancasila Diuji di Tengah Kekacauan Abad 21

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id