Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Miyos Gangsa Sekati Memanas, Dua Kubu Keraton Beda Klaim

by dimas
Agustus 19, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Miyos Gangsa Sekati di Masjid Agung Solo memanas setelah Rumbay terlibat adu mulut. Dua kubu Keraton berbeda klaim soal izin Gamelan Sekati.

Tabooo.id: Surakarta – Adu mulut pecah di kawasan Masjid Agung Surakarta setelah prosesi Miyos Gangsa Gamelan Kyai Sekati, Rabu (19/8/2026). Pengageng Sasana Wilapa Pakoe Boewono XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, terlibat cekcok dengan sejumlah pria yang berjaga di kawasan Bangsal Pagongan.

Rumbay hendak masuk ke Bangsal Pagongan. Namun, sejumlah pria berjaga di pintu masuk dan menghalangi langkahnya. Adu mulut pun terjadi di lokasi.

Keributan muncul setelah Gamelan Kyai Sekati keluar dari keraton untuk rangkaian Sekaten.

Rumbay kemudian memilih tidak memperpanjang persoalan. Ia juga enggan membahas keributan tersebut secara detail.

“Nggak usah, saya nggak mau ramai,” kata Rumbay kepada awak media di Masjid Agung, Rabu (19/8/2026).

Ini Belum Selesai

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Meski begitu, Rumbay tetap menyampaikan keberatannya terkait keluarnya Gamelan Kyai Sekati dari keraton.

Menurut Rumbay, pihak yang mengambil gamelan tersebut tidak meminta izin kepada Pakoe Boewono XIV Purbaya.

“Yang jelas mengambil gamelan tanpa seizin Sinuhun (PB XIV Purbaya) itu aja,” ujarnya.

Rumbay juga mengaku sempat terjatuh saat keributan berlangsung.

“Iya (sempat jatuh), udah ya,” katanya sebelum meninggalkan lokasi.

LDA Punya Versi Berbeda

Sementara itu, Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, mengaku sempat melerai keributan tersebut.

Eddy menyampaikan versi berbeda mengenai pelaksanaan rangkaian Sekaten. Menurut dia, pihaknya menjalankan seluruh rangkaian acara bersama Pakoe Boewono XIV Mangkubumi dan instansi terkait.

“Lha kami seluruh rangkaian acara Sekaten kita selenggarakan bersama-sama Sinuhun (PB XIV Mangkubumi) juga instansi terkait,” kata Eddy.

Selain itu, Eddy mengatakan PB XIV Mangkubumi sebenarnya hendak hadir dalam prosesi tersebut. Namun, rencana itu batal.

“Tadi Sinuhun mau hadir sebenarnya. Nanti cari waktu yang pas,” ujarnya.

Perbedaan keterangan itu menunjukkan bahwa persoalan Gamelan Kyai Sekati tidak berhenti pada keributan di depan Bangsal Pagongan. Ada dua versi mengenai legitimasi pelaksanaan prosesi dan pihak yang memiliki kewenangan atas gamelan tersebut.

Tradisi yang Terseret Konflik

Gamelan Kyai Sekati bukan sekadar perangkat musik dalam rangkaian Sekaten. Benda pusaka itu menjadi bagian dari tradisi yang menghubungkan kehidupan keraton, kebudayaan Jawa, dan ritual keagamaan.

Karena itu, keributan di Masjid Agung menghadirkan ironi tersendiri. Tradisi tetap berjalan, tetapi para pihak yang berada di dalamnya justru berhadapan.

Di satu sisi, Rumbay mempersoalkan keluarnya gamelan tanpa izin PB XIV Purbaya. Di sisi lain, LDA menyatakan rangkaian Sekaten berlangsung bersama PB XIV Mangkubumi dan instansi terkait.

Dengan demikian, persoalannya bukan hanya tentang gamelan. Konflik kepemimpinan di lingkungan keraton ikut masuk ke ruang tradisi.

Padahal, Karaton Surakarta semestinya menjadi contoh dalam merawat nilai kebersamaan. Warisan leluhur juga seharusnya mempertemukan perbedaan, bukan memperlebar jarak.

Namun, kejadian di Masjid Agung menunjukkan keadaan yang berbeda.

Gamelan pusaka keluar untuk menjalankan tradisi. Akan tetapi, prosesnya justru memperlihatkan pertentangan di antara pihak-pihak yang sama-sama mengklaim menjaga warisan keraton.

Di titik inilah peristiwa tersebut menjadi lebih besar daripada sekadar adu mulut.

Konflik internal keraton kini tidak hanya hadir dalam perdebatan soal kepemimpinan. Konflik itu juga menyentuh simbol budaya yang memiliki makna historis bagi masyarakat.

Karena itu, penyelesaian persoalan tidak cukup hanya dengan menghentikan keributan. Para pihak juga perlu menjelaskan kewenangan, mekanisme pengelolaan pusaka, dan posisi masing-masing secara terbuka.

Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan gamelan untuk mendengar bunyinya. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa tradisi yang diwariskan leluhur tetap memiliki marwah.

Jika simbol persatuan terus menjadi arena pertarungan, yang perlahan hilang bukan hanya ketenangan dalam prosesi. Wibawa tradisi pun ikut dipertaruhkan.

Dan pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan sekadar siapa yang membawa Gamelan Kyai Sekati.

Pertanyaannya: siapa yang benar-benar mampu menjaga nilai leluhur ketika kepentingan kekuasaan masuk ke dalam tradisi? @dimas

Tags: Gamelan SekatiKeraton SurakartaKonflik KeratonMiyos Gangsa SekatiTradisi Sekaten

Kamu Melewatkan Ini

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

by eko
Agustus 20, 2026

Tradisi nginang kembali hadir di Sekaten Solo. Dari sirih hingga beberangen, kebiasaan lama ini menjaga jejak budaya lintas generasi. Tabooo.id...

Bondoloemakso, Jejak Ekonomi Keraton Surakarta

Bondoloemakso, Jejak Ekonomi Keraton Surakarta

by eko
Agustus 6, 2026

Jauh sebelum bank modern berkembang, Keraton Surakarta sudah memiliki Bondoloemakso. Lembaga ini menjadi bukti kemajuan ekonomi pada masa Paku Buwono...

Malam 1 Suro dan Dua Takhta yang Saling Membelakangi

Malam 1 Suro dan Dua Takhta yang Saling Membelakangi

by dimas
Juni 17, 2026

Dualisme Keraton Surakarta kembali terlihat pada Malam 1 Suro 2026. Dua takhta, dua prosesi, dan satu pertanyaan: ke mana arah...

Next Post
Bunga Bisa Mahal, Pedagang Belum Tentu Untung

Bunga Bisa Mahal, Pedagang Belum Tentu Untung

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id