Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Indonesia Mau Upacara Bendera, Tapi Benderanya Belum Ada

by teguh
Agustus 18, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Setiap tahun Indonesia mau upacara bendera dan Pasukan bersiap, Protokol bekerja. Pemerintah menata kebutuhan untuk 17 Agustus. Kemudian muncul satu pertanyaan yang terdengar seperti lelucon yaitu, Benderanya mana?.

Tabooo.id – Yang dicari bukan Merah Putih biasa. Panitia mencari Bendera Pusaka, kain yang dijahit Fatmawati pada 1945 dan menjadi saksi Proklamasi. Sekitar 60 jam sebelum upacara dimulai, benda paling penting dalam seremoni itu belum ditemukan. Indonesia mau upacara bendera tapi simbol negaranya masih loading.

Semua Persiapan Jalan. Benderanya Justru Tidak Kelihatan

Menjelang 17/08/1967, Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Maraden Panggabean memeriksa persiapan upacara.

Salah satu persoalan penting tentu saja Bendera Pusaka. Panggabean kemudian meminta staf istana mencari benda tersebut. Mereka membuka laci. Lemari ikut diperiksa. Ruangan pun ditelusuri.

Hasilnya nihil, Benderanya tidak ada dan Panggabean kemudian menceritakan kejadian tersebut dalam autobiografinya yang berjudul, Berjuang dan Mengabdi.

Kabar soal hilangnya Bendera Pusaka akhirnya beredar ke publik dan menimbulkan kehebohan.

Ini Belum Selesai

Listyo Sigit Mau Pensiun, Tapi Siap Demo jika Desk Buruh Mandek?

Investasi dan Harga Sebuah Kepercayaan

Kalau kejadian ini muncul di era media sosial, grup panitia mungkin sudah berubah menjadi ruang investigasi nasional “Guys, siapa terakhir pegang bendera?”

Benderanya Ternyata Ada

Pencarian kemudian mengarah kepada Soekarno sebab setelah peralihan kekuasaan, Soekarno meninggalkan Istana Merdeka. Barang-barang pribadinya ikut berpindah.

Muncul dugaan bahwa Bendera Pusaka ikut terbawa. Maraden Panggabean lalu menemui Soekarno, Di titik inilah ceritanya berubah.

Benderanya ternyata ada, Soekarno menyimpannya dan menurut kesaksian Panggabean, Soekarno kemudian bertanya:

“Selama ini saya sendiri yang menyimpannya. Apa TNI AD sanggup menyelamatkannya?” Pertanyaan tersebut membuat urusan bendera berubah menjadi persoalan kepercayaan.

Pemerintah ingin memastikan bendera aman. Soekarno ingin memastikan pihak yang mengambilnya mampu menjaga benda tersebut.

Maka masalahnya bukan lagi “Benderanya di mana?” tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih rumit “Siapa yang boleh mengambilnya?”

Negara Mulai Kejar Deadline

Tanggal 17 Agustus semakin dekat, sementara itu, Bendera Pusaka masih berada dalam penguasaan Soekarno.

Pemerintah pun menyiapkan opsi cadangan. Jika bendera asli gagal diperoleh, panitia akan menggunakan Merah Putih biasa.

Secara teknis, upacara tetap bisa berlangsung namun secara simbolik, persoalannya jauh lebih besar.

Bayangkan sebuah negara merayakan kemerdekaan, tetapi simbol sejarahnya belum berada di tangan pemerintah.

Backup plan ada, Bendera utama belum kelar. Kalau peristiwa itu terjadi sekarang, notifikasi grup panitia mungkin sudah berbunyi setiap lima menit seperti “UPDATE, bendera masih proses.”

Soekarno Akhirnya Menyerahkan Bendera

Pemerintah kemudian mengirim utusan untuk menemui Soekarno. Rombongan tersebut berusaha meyakinkannya agar menyerahkan Bendera Pusaka.

Menurut Rachmawati Soekarnoputri dalam memoarnya Bapakku Ibuku, Dua Manusia yang Kucintai dan Kukagumi, sejumlah tokoh militer ikut dalam rombongan tersebut.

Negosiasi akhirnya menghasilkan kesepakatan dan Soekarno bersedia menyerahkan bendera. Namun, ia lebih dulu membawa rombongan menuju tempat penyimpanan yang ia kehendaki.

Lokasi tersebut berada di kawasan Monumen Nasional. Pada 16/08/1967 sekitar pukul 16.00, pemerintah akhirnya menerima kembali Bendera Pusaka.

Artinya, pemerintah memperoleh bendera itu kurang dari 24 jam sebelum upacara dan ini bukan lagi sekadar H-1 tapi Ini sudah mode “semoga besok aman.”

Panggabean kemudian menyerahkan bendera tersebut kepada Pejabat Presiden Soeharto.

Yang Dicari Bukan Sekadar Kain

Di balik kelucuan situasinya, ada bagian sejarah yang tidak bisa kita jadikan bahan lelucon. Bendera tersebut memiliki hubungan langsung dengan lahirnya Republik Indonesia.

Fatmawati menjahitnya pada 1945. Bendera itu kemudian berkibar dalam berbagai momentum awal kemerdekaan. Karena itu, Soekarno tidak memandangnya sebagai kain biasa.

Rachmawati menggambarkan kesedihan ayahnya ketika harus menyerahkan bendera tersebut dan menurut kesaksiannya, Soekarno menangis.

Di titik ini, satir berhenti sebentar sebab benda yang membuat panitia panik ternyata menyimpan memori yang jauh lebih dalam.

Pemerintah sedang mencari sebuah bendera. Soekarno sedang menjaga sebuah ingatan.

17 Agustus Tetap Jalan

Akhirnya, Bendera Pusaka kembali ke tangan pemerintah. Sehari kemudian, upacara 17 Agustus 1967 berlangsung.

Indonesia pun lolos dari skenario paling absurd karena hampir terjadi upacara kemerdekaan tanpa Bendera Pusaka.

Namun ada satu fakta yang perlu diluruskan yaitu, Bendera Pusaka bukan terakhir kali berkibar pada 1967 tetapi pemerintah masih mengibarkannya pada 17/08/1968.

Setelah itu, kondisi fisik bendera semakin rapuh. Pemerintah kemudian menghentikan penggunaannya dalam upacara dan duplikat mengambil alih tugas seremoni.

Kronologinya menjadi jelas:

1945: Fatmawati menjahit Bendera Pusaka.
1958: pemerintah menetapkannya sebagai Bendera Pusaka.
1967: bendera sempat tidak ditemukan menjelang upacara.
1968: Bendera Pusaka terakhir kali berkibar.
Setelah itu: duplikat digunakan dalam upacara.

Yang Hilang Bukan Cuma Bendera

Cerita 1967 menjadi lebih menarik ketika kita melihat konteks politiknya. Indonesia sedang melewati masa peralihan kekuasaan.

Soekarno telah kehilangan kekuasaan politik. Soeharto mulai mengambil posisi penting dalam pemerintahan.

Di tengah perubahan tersebut, Bendera Pusaka masuk dalam sebuah negosiasi. Benda itu berubah menjadi simbol yang lebih besar.

Di satu sisi ada masa lalu dan di sisi lain muncul kekuasaan baru. Satu bendera akhirnya berada di tengah perubahan besar republik.

Negaranya sedang berganti arah bahkan benderanya ikut terseret ke dalam dramanya.

Fatmawati dan Ingatan yang Tidak Bisa Diganti

Bendera Pusaka juga membawa nama Fatmawati karena beliau yang menjahit bendera tersebut pada 1945. Peran itu membuat namanya melekat kuat dalam sejarah kelahiran Republik.

Namun makna bendera tidak berhenti pada orang yang menjahitnya. Kain itu kemudian menjadi artefak yang merekam perjalanan bangsa.

Proklamasi ada di belakangnya karena pergantian kekuasaan ikut mengiringinya. Perdebatan mengenai siapa yang menyimpan dan siapa yang mengambilnya juga pernah terjadi.

Karena itu, Bendera Pusaka memiliki nilai sejarah yang jauh melampaui fungsi seremoni karena merah putihnya kecil. Ceritanya tidak.

Kenapa Kamu Perlu Peduli?

Setiap 17 Agustus, kita melihat Merah Putih berkibar. Namun bendera yang kita lihat sekarang bukan Bendera Pusaka asli.

Setelah pemerintah menghentikan penggunaan bendera asli, duplikat menggantikan tugasnya dalam upacara. Bendera Pusaka kemudian menjadi artefak sejarah yang harus dirawat.

Artinya, ketika Merah Putih berkibar di sekolah, kantor, jalan, atau rumahmu, kita sebenarnya sedang melihat lebih dari sekadar kain.

Warna merah menyimpan sejarah, Warna putih membawa perjalanan panjang. Di belakangnya ada Proklamasi, Fatmawati, Soekarno, pergantian kekuasaan, dan perjalanan republik.

Pernah ada satu momen ketika negara menghadapi persoalan yang terdengar sederhana yaitu, “Benderanya mana?”

Yang Bikin Geleng Kepala

Persiapan upacara sudah matang, Pasukan siap, Protokol bekerja, Pemerintah bersiap dan tanggal 17 Agustus tinggal menghitung jam.

Tinggal satu masalah kecil simbol negaranya belum ketemu. Untungnya, kejadian ini berlangsung pada 1967.

Kalau terjadi sekarang? Bukan cuma benderanya yang trending tapi panitianya mungkin ikut trending.

Drama di Balik Merah Putih

Sejarah tidak selalu hadir lewat perang besar. Kadang, ia muncul dari kepanikan kecil di sebuah ruangan.

Seseorang mencari bendera, Orang lain menyimpannya, Pemerintah mengejarnya. Di sebuah negara menunggu cerita itu memang terdengar absurd.

Namun di balik absurditas tersebut, ada pelajaran yang lebih serius. Simbol negara tidak pernah benar-benar cuma simbol.

Ia membawa memori, Ia membawa identitas bahkan, dalam situasi tertentu, ia ikut berada di tengah pertarungan makna dan kekuasaan.

Karena itu, pertanyaan 1967 bukan sekadar “Di mana benderanya?”

Pertanyaan yang lebih besar justru “Siapa yang sedang memegang ingatan sebuah bangsa?”. @teguh


Tags: 17 AgustusBendera PusakaFatmawatiHUT RIIndonesiaPaskibrakaSejarah IndonesiaSoehartoSoekarno

Kamu Melewatkan Ini

Hampir Seabad “Indonesia Raya”, Siapa yang Menjaga Warisan W.R. Soepratman?

Hampir Seabad “Indonesia Raya”, Siapa yang Menjaga Warisan W.R. Soepratman?

by teguh
Agustus 19, 2026

Pada Senin, 17 Agustus 2026, Warisan W.R. Soepratman kembali muncul di Istana Kepresidenan Jakarta. Kali ini, bukan biola yang menjadi...

Sehari Sebelum Merah Putih Berkibar, Bendera Pusaka Asli Hilang

Sehari Sebelum Merah Putih Berkibar, Bendera Pusaka Asli Hilang

by teguh
Agustus 17, 2026

Persiapan terus berjalan. Pasukan mulai bersiap. Protokol mengatur setiap detail. Pemerintah baru ingin memastikan upacara kemerdekaan berlangsung tanpa cela. Namun,...

Riuh Tepuk Tangan di Istana: Paskibraka dan Wajah Indonesia

Riuh Tepuk Tangan di Istana: Paskibraka dan Wajah Indonesia

by dimas
Agustus 17, 2026

Riuh tepuk tangan mengiringi Paskibraka di Istana. Di balik barisan mereka, tersimpan cerita tentang persatuan dan wajah Indonesia. Tabooo.id -...

Next Post
BEM UI Dicegat Polisi, Ketertiban atau Pembatasan Hak?

BEM UI Dicegat Polisi, Ketertiban atau Pembatasan Hak?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id