Bukan pengupas bawang, Susanah ternyata bekerja sebagai karyawan dapur MBG di SPPG Bojong dan menjahit kain majun dengan upah Rp700 per kilogram.
Tabooo.id – Rp700.000 per kilogram terdengar seperti upah yang bikin banyak orang melongo.
Prabowo menyebut Susanah sebagai buruh harian pengupas bawang dari Kabupaten Bogor. Ia juga menyebut perempuan itu menerima upah sekitar Rp700.000 per kilogram.
Namun, keluarga Susanah kemudian memberikan cerita berbeda.
Menurut keluarga, Susanah bukan pengupas bawang. Ia bekerja di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menjahit kain lap majun.
Lebih menarik lagi, angka Rp700 memang ada.
Hanya saja, bukan Rp700.000.
Tiga Nol yang Mengubah Cerita
Wina, kakak ipar Susanah, menjelaskan pekerjaan perempuan berusia 38 tahun tersebut.
Sekitar tujuh bulan terakhir, Susanah bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) daerah Bojong. Di sana, ia bertugas sebagai petugas ompreng MBG.
Pekerjaan utamanya justru menjahit kain lap majun.
Aktivitas itu terlihat di rumah Susanah di Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Sebuah mesin jahit berada di bagian depan rumah. Tumpukan kain majun juga memenuhi sebagian lantai.
Beberapa anggota keluarga tampak menjahit dan merapikan kain.
Gambaran tersebut membuat cerita tentang pekerjaan Susanah menjadi lebih jelas.
Lalu, dari mana angka Rp700 muncul?
Wina menjelaskan bahwa Susanah menerima Rp700 untuk setiap kilogram kain lap yang ia jahit.
Dalam sehari, Susanah disebut mampu menyelesaikan sekitar 20 kilogram kain.
Hitungannya sederhana: Rp700 dikali 20 kilogram menghasilkan sekitar Rp14.000 per hari.
Bukan Rp700.000.
Bukan pula Rp700.000 untuk setiap kilogram bawang.
Jarak kedua angka tersebut mencapai seribu kali lipat.
Angka Fantastis, Realitas Justru Tipis
Di sinilah cerita tersebut mulai terasa lebih serius.
Publik awalnya melihat Rp700.000 sebagai gambaran penghasilan seorang buruh. Setelah keluarga memberikan klarifikasi, gambaran ekonominya berubah drastis.
Susanah memiliki tiga anak.
Anak pertamanya baru lulus. Dua anak lainnya masih bersekolah.
Sementara itu, suaminya bekerja sebagai buruh dan kuli bangunan.
Di sisi lain, Susanah mengandalkan pekerjaan menjahit kain majun serta pekerjaannya di SPPG.
Dengan kondisi tersebut, Rp14.000 bukan sekadar hasil hitungan matematika.
Uang itu punya arti nyata.
Ia bisa membantu membayar ongkos. Ia bisa menambah kebutuhan sekolah. Ia juga bisa masuk ke belanja rumah.
Karena itu, selisih Rp700 dan Rp700.000 bukan kesalahan kecil.
Angka tersebut mengubah cara publik membaca kehidupan seseorang.
Ketika Warga Berubah Menjadi Ilustrasi
Prabowo menyebut Susanah dalam pidatonya sebagai contoh warga Kabupaten Bogor.
Presiden juga menyampaikan bahwa Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anak Susanah.
Narasi itu membawa pesan yang jelas: program pemerintah hadir dan memberi manfaat bagi keluarga.
Masalah muncul ketika pekerjaan warga yang menjadi contoh tidak sesuai dengan klarifikasi keluarganya.
Pertanyaan publik pun seharusnya bergerak lebih jauh.
Siapa yang memeriksa cerita sebelum seseorang masuk ke panggung kenegaraan?
Siapa yang memastikan angka penghasilan tersebut benar?
Bagaimana proses verifikasi pekerjaan Susanah dilakukan?
Pertanyaan itu penting karena negara tidak sedang menceritakan tokoh fiksi.
Negara sedang menceritakan manusia nyata.
Susanah Disebut Terkejut
Klarifikasi keluarga tidak berhenti pada keterangan Wina.
Akun Instagram yang mengaku sebagai anak Susanah turut memberikan penjelasan.
Menurut akun tersebut, Susanah terkejut ketika mendengar dirinya disebut sebagai pengupas bawang.
Keluarga menyebut pekerjaan Susanah sebenarnya adalah menjahit kain lap.
Akun itu juga menjelaskan alasan Susanah menghadiri acara kenegaraan.
Ia menerima undangan tersebut karena menganggap kesempatan itu sebagai rezeki.
Di titik ini, ironi muncul dengan sendirinya.
Susanah datang sebagai warga yang mendapat undangan.
Publik kemudian mengenalnya melalui pekerjaan yang menurut keluarganya tidak pernah ia jalani.
Satu panggung mengubah seseorang menjadi simbol.
Satu pernyataan kemudian mengubah cara publik mengenalnya.
Negara Suka Angka. Rakyat Hidup dari Angka
Angka memiliki kekuatan besar dalam politik.
Ia membuat sebuah cerita terlihat konkret. Angka juga membuat keberhasilan kebijakan terasa mudah dipamerkan.
Namun, kehidupan warga tidak berhenti pada angka di podium.
Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, setiap angka punya fungsi.
Rp700 berarti upah.
Rp14.000 berarti hasil kerja sehari.
Sebaliknya, Rp700.000 bisa mengubah persepsi publik terhadap kondisi ekonomi sebuah keluarga.
Karena itu, persoalannya bukan cuma tiga nol.
Yang lebih penting ialah cara angka membentuk cerita tentang kemiskinan, pekerjaan, dan keberhasilan program pemerintah.
Ketika angkanya keliru, narasinya ikut bergeser.
Saat narasi bergeser, publik ikut melihat realitas melalui kacamata yang salah.
Ini Bukan Sekadar Salah Sebut
Dalam jurnalistik, fakta harus melewati proses verifikasi. Atribusi juga harus jelas agar cerita tidak melenceng dari kenyataan.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika cerita tentang seorang warga masuk ke dalam pidato kenegaraan.
Sebab, kisah itu tidak lagi berdiri sebagai cerita pribadi.
Cerita tersebut ikut menjadi bagian dari narasi kebijakan.
Karena itu, standar verifikasi harus bekerja lebih keras.
Bukan hanya untuk menemukan angka yang benar.
Lebih jauh, verifikasi harus memastikan manusia di balik angka tetap menjadi manusia.
Yang Dipertaruhkan Bukan Cuma Tiga Nol
Publik memang bisa menjadikan kasus ini sebagai bahan lelucon.
Media sosial bahkan bisa mengubah Rp700 dan Rp700.000 menjadi meme dalam hitungan menit.
Namun, kita akan kehilangan inti persoalan jika berhenti pada kelucuan angka.
Susanah memiliki rumah dengan mesin jahit di dalamnya.
Ia memiliki tiga anak yang membutuhkan biaya pendidikan.
Suaminya bekerja sebagai buruh dan kuli bangunan.
Susanah juga bekerja di SPPG serta menjahit kain majun.
Semua itu merupakan bagian dari realitas hidupnya.
Namun, satu pernyataan di panggung kenegaraan membuat publik mengenalnya melalui pekerjaan yang menurut keluarganya keliru.
Di sinilah kekuatan sekaligus bahaya narasi bekerja.
Narasi dapat membantu publik memahami realitas.
Sebaliknya, narasi juga bisa menyederhanakan realitas sampai kehilangan bentuk aslinya.
Rakyat Bukan Properti Narasi
Susanah tidak meminta dirinya menjadi simbol.
Keluarganya pun tidak meminta kehidupannya menjadi bahan perdebatan nasional.
Setelah namanya muncul dalam pidato kenegaraan, cerita tentang dirinya langsung menjadi konsumsi publik.
Karena itu, negara punya tanggung jawab memastikan cerita tersebut akurat.
Tujuannya bukan sekadar menjaga citra pemerintah.
Lebih penting lagi, langkah itu menghormati warga yang kehidupannya masuk ke dalam cerita negara.
Sebab, ketika negara memakai kehidupan rakyat untuk menjelaskan keberhasilan sebuah program, rakyat tidak boleh berubah menjadi properti narasi.
Mereka bukan sekadar angka dalam pidato. Mereka punya suara, kehidupan, dan fakta yang berhak diceritakan dengan benar.
Tabooo Bertanya
Kasus Susanah akhirnya membuka pertanyaan yang lebih besar.
Di atas podium, sebuah cerita bisa terlihat utuh. Namun, ketika kita mengetuk pintu rumah warga, realitasnya bisa jauh lebih rumit. Susanah mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak sesederhana angka yang terdengar meyakinkan.
Susanah mengingatkan kita bahwa realitas tidak selalu cocok dengan naskah.
Apalagi ketika tiga nol bisa mengubah seorang penjahit menjadi pengupas bawang.
Jadi, masalahnya bukan sekadar Rp700 atau Rp700.000.
Masalah sebenarnya muncul ketika narasi tentang rakyat berjalan lebih cepat daripada verifikasi terhadap rakyat itu sendiri.
Kalau negara ingin menjadikan warga sebagai wajah keberhasilan, satu hal tidak boleh hilang cerita mereka harus tetap menjadi milik mereka. @dimas








