Gempa M7,7 mengguncang NTT. Ratusan warga Nagekeo mengungsi dan bertahan dengan patungan makanan karena bantuan belum tiba.
Tabooo.id – Sabtu (15/8/2026) dini hari, tanah Nagekeo berguncang keras. Ratusan warga Desa Tendakinde pun meninggalkan rumah dan mencari tempat aman.
Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur sekitar pukul 04.58 WIB. Episentrum gempa berada di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Guncangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah. Namun, bagi warga Tendakinde, masalah tidak berhenti setelah tanah kembali tenang.
Sehari setelah gempa, ratusan pengungsi masih bertahan di kantor desa. Bantuan yang mereka harapkan belum juga tiba.
Kantor Desa Berubah Menjadi Tempat Bertahan Hidup
Minggu (16/8/2026), kantor Desa Tendakinde tidak lagi sekadar menjadi pusat administrasi. Bangunan itu berubah menjadi tempat warga mencari rasa aman setelah gempa mengguncang kehidupan mereka.
“Kami di sini bertahan hidup dengan patungan bahan makanan, belum ada bantuan dari pihak mana pun. Jaringan listrik terputus, jadi kami andalkan genset,” ujar Sima.
Kondisi itu memperlihatkan bagaimana warga mengisi kekosongan dengan solidaritas. Ketika bantuan belum datang, mereka memakai apa pun yang masih tersedia.
Sebungkus bahan makanan menjadi penting. Genset menjadi sumber listrik. Tetangga menjadi tempat saling menguatkan.
Namun, persediaan warga tidak punya tombol ajaib untuk bertambah.
Jika bantuan terus tertunda, stok makanan patungan juga akan menyusut. Pada titik itulah solidaritas menghadapi batas yang sangat nyata.
Kendaraan Aparat Lewat, Warga Tetap Menunggu
Warga Tendakinde sebenarnya tidak hanya duduk diam.
Sima menuturkan, warga sempat mencoba meminta bantuan kepada kendaraan TNI dan Polri yang melintas di sekitar lokasi pengungsian.
Harapan muncul ketika kendaraan aparat terlihat mendekat. Sayangnya, kendaraan tersebut terus melaju karena membawa misi menuju wilayah lain yang juga terdampak gempa.
Situasi itu menunjukkan betapa rumitnya distribusi bantuan dalam situasi bencana.
Banyak wilayah membutuhkan pertolongan dalam waktu bersamaan. Sementara itu, setiap kendaraan dan personel harus membagi perhatian ke berbagai titik.
Bagi warga yang menunggu, persoalannya jauh lebih sederhana.
Mereka membutuhkan makanan.
Air bersih juga mereka perlukan. Layanan kesehatan tidak kalah penting. Listrik pun menjadi kebutuhan untuk menjalani hari.
Jadi, ketika kendaraan bantuan melintas tanpa berhenti, warga hanya bisa kembali menunggu.
Ketika Warga Membuat Negara Kecil di Pengungsian
Di tengah keterbatasan, warga Tendakinde membangun sistem bertahan sendiri.
Satu keluarga menyumbangkan bahan makanan. Keluarga lain ikut berbagi. Sebagian warga mencari cara agar genset tetap menyala.
Tanpa rapat panjang, kantor desa berubah menjadi dapur solidaritas.
Pemandangan semacam ini sering muncul ketika bencana melanda. Masyarakat bergerak dengan kekuatan gotong royong, sementara lembaga negara menjalankan mekanisme penanganan bencana.
Masalahnya muncul ketika kedua gerakan itu belum bertemu di titik yang sama.
Warga tidak bisa makan dari informasi bahwa bantuan sedang bergerak. Mereka membutuhkan makanan yang benar-benar sampai.
Begitu pula dengan air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Semua memiliki batas waktu.
Perut tidak mengenal istilah “sedang dalam perjalanan”.
Air minum juga tidak memahami bahasa birokrasi.
Ini Bukan Sekadar Gempa. Ini Ujian Sistem
Gempa memang berasal dari proses alam.
Namun, penderitaan setelah gempa juga bergantung pada kemampuan manusia mengelola keadaan darurat.
Pemerintah tidak hanya menghadapi guncangan utama. Setelah itu, sistem harus memastikan warga mampu melewati fase pengungsian dengan aman.
Di sinilah distribusi bantuan menjadi ujian sebenarnya.
Peta mungkin menunjukkan titik-titik terdampak. Data mungkin mencatat jumlah gempa dan kerusakan.
Akan tetapi, warga mengalami bencana dalam bentuk yang jauh lebih konkret.
Mereka kini menghadapi rumah rusak, listrik padam, tempat tinggal sementara, serta persediaan makanan yang terus menipis.
Karena itu, keberhasilan penanganan bencana tidak cukup terlihat dari jumlah kendaraan yang bergerak.
Ukuran paling nyata justru berada di tempat pengungsian.
Sudahkah warga makan?
Apakah air bersih tersedia?
Adakah layanan kesehatan yang bisa mereka akses?
Bisakah mereka memperoleh kebutuhan dasar tanpa harus patungan terus-menerus?
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Justru karena sederhana, jawabannya tidak boleh rumit.
Gotong Royong Boleh Jadi Kekuatan, Bukan Tameng Kegagalan
Warga Tendakinde memperlihatkan bahwa solidaritas belum mati.
Mereka berbagi ketika persediaan sendiri terbatas. Mereka saling membantu ketika keadaan memaksa semua orang menjadi rentan.
Namun, ada batas yang perlu ditegaskan.
Gotong royong tidak boleh berubah menjadi alasan agar warga terus menyelamatkan dirinya sendiri.
Masyarakat memang bisa berbagi makanan. Mereka juga bisa membantu tetangga dan menghidupkan genset.
Tetapi penanganan bencana tetap membutuhkan sistem yang terorganisasi.
Negara memiliki sumber daya, lembaga, personel, dan kewenangan. Semua itu akhirnya harus terasa di titik paling bawah.
Sebab, bagi pengungsi, negara bukan konsep abstrak.
Negara hadir saat kebutuhan dasar warga terpenuhi dan mereka tak lagi merasa sendirian.
Bantuan Bukan Sekadar Paket, tetapi Kehadiran
Bencana selalu memperlihatkan siapa yang memiliki cadangan dan siapa yang paling rentan.
Keluarga dengan persediaan makanan mungkin mampu menunggu lebih lama. Sebaliknya, warga tanpa cadangan harus segera mencari pertolongan.
Karena itu, bantuan tidak cukup dipahami sebagai paket logistik.
Kehadiran juga berarti memastikan warga mendapatkan perlindungan dan akses terhadap kebutuhan dasar.
Di Tendakinde, warga masih bertahan dengan kemampuan mereka sendiri. Mereka mengumpulkan makanan, mengandalkan genset, dan saling menguatkan.
Tetapi solidaritas warga seharusnya menjadi jembatan menuju bantuan, bukan pengganti bantuan.
Ada ironi yang sulit diabaikan.
Di satu sisi, semua orang berbicara tentang penanganan bencana. Di sisi lain, ratusan warga masih menghitung berapa lama bahan makanan patungan bisa bertahan.
Mungkin inilah ukuran paling jujur dari sebuah sistem.
Bukan seberapa cepat kita mengatakan “bantuan sedang dikirim”.
Melainkan seberapa cepat warga benar-benar menerima bantuan.
Karena setelah tanah berhenti berguncang, satu pertanyaan masih terus menggantung di kantor Desa Tendakinde:
Jika warga sudah melakukan bagian mereka untuk bertahan hidup, kapan sistem melakukan bagiannya? @dimas








