Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mayor Faizal Dituntut 5 Tahun: Pesawat TNI Nyaris Jadi Jalur Sabu

by dimas
Agustus 14, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Mayor Faizal dituntut 5 tahun penjara dan dipecat dari TNI AL setelah didakwa mengedarkan sabu lewat pesawat TNI.

Tabooo.id – Pesawat TNI AL semestinya membawa personel, logistik, atau menjalankan misi negara. Namun, perkara Mayor Laut Faisal Mulia menghadirkan ironi yang sulit diabaikan.

Dalam dakwaan, Faisal diduga memanfaatkan pesawat CN 235 untuk mengirim sabu ke Madiun, Jawa Timur. Oditur militer kemudian menuntutnya lima tahun penjara dan pemecatan dari dinas TNI AL.

Sidang berlangsung di Pengadilan Militer Tinggi I Medan, Jumat (14/8/2026). Kolonel Sarifuddin Tarigan memimpin persidangan bersama dua hakim anggota, Kolonel Agus Budiman dan Kolonel Hanifan Hidayattulah.

Oditur militer Letkol Bambang Permadi juga meminta hakim menjatuhkan denda Rp500 juta. Jika Faisal tidak membayar, oditur meminta pengganti enam bulan kurungan.

Namun, tuntutan bukan putusan. Faisal masih memiliki hak untuk membela diri sampai hakim menjatuhkan putusan berkekuatan hukum tetap.

Ini Belum Selesai

Gempa NTT Belum Usai, 87 Tewas dan 150 Ribu Mengungsi

Korporasi Diduga Main Api, Prabowo: Tindak Tegas Kalau Terbukti!

Sabu 8 Gram, Lalu Menjadi 14 Paket

Perkara ini bermula ketika Faisal menjabat Kepala Seksi Operasi dan Latihan Wing 1 Puspenerbal di Kepulauan Riau.

Pada 22 November 2025, Faisal bersama istrinya, MBP, berangkat dari Tanjung Pinang menuju Batam.

Keesokan harinya, Faisal meminta rekannya menghubungi seseorang bernama Kapak. Ia memesan sabu seberat 8 gram dengan harga Rp7,5 juta.

Kapak kemudian datang ke Hotel Sans dan menyerahkan narkotika tersebut.

Menurut dakwaan, Faisal, MBP, dan Kapak mengonsumsi sebagian sabu di kamar hotel. Setelah itu, Faisal dan istrinya berpindah ke Hotel Pasifik.

Di sana, mereka bertemu Hendra dan Rizal. Dakwaan juga menyebut MBP mengonsumsi ekstasi.

Setelah kembali ke Tanjung Pinang, Faisal membawa sisa sabu tersebut.

Perkara lalu memasuki babak yang jauh lebih serius.

Ketika Seragam Militer Masuk ke Cerita

Pada 24 November 2025, Faisal mencari informasi penerbangan CN 235 nomor lambung P-8305.

Pesawat tersebut memiliki rute Tanjung Pinang-Jakarta dan dijadwalkan berangkat pada 26 November.

Faisal juga sempat menawarkan sabu kepada Kapten Laut I Made Surya di Surabaya. Namun, transaksi itu batal karena Surya masih memiliki utang pembelian sabu sebelumnya.

Setelah rencana tersebut gagal, Faisal mencari jalur lain.

Menurut dakwaan, ia berencana mengirim sabu kepada tiga rekan perempuan istrinya di Madiun.

Pada hari yang sama, Faisal membagi sisa sabu menjadi 14 paket.

Sebanyak 12 paket masuk ke kemasan makanan ringan. Faisal kemudian memasukkannya ke dalam kotak sepatu PDL TNI AL.

Kotak tersebut membawa tulisan yang terdengar seperti pesan keluarga biasa:

“Selamat umroh Ibu, dari Brtenda dan Ichal.”

Namun, menurut dakwaan, kotak itu justru menyimpan 12 paket sabu.

Dua paket lainnya Faisal simpan secara terpisah. Satu paket masuk ke kotak rokok HD di saku baju terbang. Satu paket lain disebut disimpan MBP di lemari plastik kamar.

Pesawat TNI Nyaris Jadi Kurir

Pada 26 November 2025, MBP menyerahkan kotak sepatu tersebut kepada Co-Pilot Pesud CN 235 P-8305, Letda Laut (P) Mazaki Moza.

Sekitar satu jam kemudian, Faisal menuju shelter CN 235 untuk melakukan Merplug.

Di titik itulah rencana tersebut terbongkar.

Kasi Intelud Mayor Edwar mengamankan Faisal bersama 12 paket sabu yang menurut dakwaan hendak dikirim ke Madiun.

Petugas kemudian menyerahkan Faisal kepada POM Kodaeral IV Batam.

Penggeledahan di rumah Faisal juga menemukan dua paket sabu dan peralatan konsumsi narkotika.

Total barang bukti dari 14 paket tersebut mencapai 9,83 gram.

Ini Bukan Sekadar Soal 9,83 Gram

Angka 9,83 gram memang menjadi bagian penting dalam perkara ini.

Namun, persoalan yang lebih besar terletak pada jalurnya.

Jika seluruh uraian dakwaan terbukti, seseorang yang memiliki akses ke lingkungan militer diduga mencoba menggunakan fasilitas penerbangan TNI untuk mengirim narkotika.

Di sinilah publik punya alasan untuk bertanya.

Bagaimana sistem pengawasan bekerja?

Siapa yang memeriksa barang?

Seberapa ketat kontrol terhadap akses penerbangan?

Dan yang paling penting, mengapa rencana seperti ini sempat bergerak sampai mendekati pesawat?

Pertanyaan tersebut tidak berhenti pada seorang terdakwa.

Pertanyaan itu menyentuh sistem.

Negara Punya Aturan, Manusia Punya Celah

Militer memiliki prosedur dan rantai komando.

Personel juga menjalankan sistem keamanan dan pengawasan.

Namun, aturan tidak akan berarti banyak jika orang yang menjalankannya menemukan celah untuk menyalahgunakannya.

Kasus ini menunjukkan paradoks tersebut.

Sistem bisa terlihat kokoh dari luar. Tetapi satu penyalahgunaan akses dapat memperlihatkan titik lemahnya.

Karena itu, penyelesaian perkara seharusnya tidak hanya melihat hukuman terhadap Faisal.

Institusi juga perlu melihat bagaimana pengawasan bisa mencegah kejadian serupa.

Sebab memecat seorang pelaku tidak otomatis menutup pintu yang pernah terbuka.

Hukuman Berat Tidak Otomatis Menyelesaikan Masalah

Oditur meminta hukuman lima tahun penjara.

Ia juga meminta pemecatan dari dinas militer serta denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan.

Tuntutan tersebut menunjukkan bahwa oditur memandang perkara ini serius.

Namun, hukuman individu hanya menyelesaikan satu bagian masalah.

Jika pengadilan kelak menyatakan dakwaan terbukti, institusi juga perlu mengevaluasi prosedur pengamanan.

Pemeriksaan barang, kontrol akses, pengawasan penerbangan, hingga mekanisme intelijen layak menjadi bagian evaluasi.

Publik membutuhkan lebih dari sekadar hukuman.

Publik membutuhkan jaminan bahwa fasilitas negara tidak mudah berubah fungsi menjadi alat kepentingan pribadi.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Mungkin ada yang menganggap kasus ini hanya urusan internal TNI.

Pandangan itu terlalu sederhana.

Pesawat militer merupakan bagian dari fasilitas negara. Sistem pengamanannya juga menyangkut uang, kepercayaan, dan kepentingan publik.

Ketika fasilitas negara diduga masuk dalam perkara narkotika, persoalannya menyentuh kepercayaan masyarakat.

Seragam memberikan kewenangan.

Jabatan memberikan akses.

Fasilitas negara memberikan daya.

Semua itu seharusnya bekerja untuk kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi.

Bukan Cuma Siapa yang Membawa Sabu

Kasus Faisal bukan sekadar cerita tentang seorang mayor dan 14 paket narkotika.

Ini juga cerita tentang celah dalam sebuah sistem.

Sebab pertanyaan paling penting bukan hanya siapa yang membawa sabu.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa barang itu hampir bisa ikut terbang?

Di situlah kasus ini menjadi lebih besar daripada angka 9,83 gram.

Kalau seorang personel dapat merencanakan pengiriman narkotika melalui fasilitas militer, maka sistem pengawasan harus ikut diuji.

Jangan sampai negara sibuk menghitung paket setelah semuanya terbongkar.

Negara seharusnya memastikan paket itu tidak pernah punya kesempatan untuk berangkat.

Dan mungkin, di situlah pelajaran paling pahit dari perkara ini:

Seragam bisa menunjukkan kewenangan, tetapi integritas menentukan untuk apa kewenangan itu digunakan. @dimas

Tags: Mayor FaizalNarkotikaPengadilan MiliterPesawat TNIsabuTNI AL

Kamu Melewatkan Ini

Sabu Naik Pesawat TNI, Pengawasan ke Mana?

Sabu Naik Pesawat TNI, Pengawasan ke Mana?

by dimas
Agustus 11, 2026

Kasus Mayor Faisal mengungkap dugaan pengiriman sabu lewat pesawat TNI AL. Seberapa kuat pengawasan fasilitas negara? Tabooo.id - Pesawat militer...

Pilot Positif Narkotika, Keselamatan Penerbangan Dipertaruhkan

Pilot Positif Narkotika, Keselamatan Penerbangan Dipertaruhkan

by dimas
Agustus 1, 2026

Pilot Malaysia Airlines positif narkotika setelah membawa puluhan ribu ekstasi. Kasus ini memicu kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan. Tabooo.id: Jakarta -...

Vape: Gaya Hidup atau Pintu Masuk Narkotika?

Vape: Gaya Hidup atau Pintu Masuk Narkotika?

by dimas
April 7, 2026

Tabooo.id: Nasional - Vape selama ini hadir sebagai alternatif “lebih aman”. Lebih modern, lebih stylish, bahkan terlihat lebih sehat.Tapi bagaimana...

Next Post
Warkop Dirampok Ternyata Rekayasa, Uang Diduga untuk Judol

Warkop Dirampok Ternyata Rekayasa, Uang Diduga untuk Judol

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id