Tabooo.id: Life – Kota selalu menyimpan legenda yang tidak tercatat. Bukan kisah kerajaan, melainkan cerita manusia biasa yang terus berjalan meski tubuhnya menuntut jeda. Salah satunya adalah Pak Untung (68), lelaki dengan dua keranjang kacang yang seolah menjadi perpanjangan bahunya saat melangkah pelan di Jalan Nakula, Seminyak.
Pagi itu keringatnya mengalir. “Jam setengah sepuluh tadi saya berangkat,” ucapnya sambil mengusap wajah. Ada keteguhan dalam kalimat sederhana itu keteguhan yang jarang kita sadari.
Rumah yang Tidak Sepenuhnya Menjadi Rumah
Usianya sudah senja, namun tempat berteduhnya hanya emperan sebuah rumah di kawasan Ubung. Pemilik rumah mengizinkan ia tinggal, tapi tidak menyediakan ruang yang benar-benar nyaman. Malam sering menusuk tulang, lantai keras menjadi pembatas tipis antara tubuhnya dan dunia yang menua terlalu cepat.
Untuk mandi, ia harus membayar Rp10 ribu setiap dua hari. Sementara itu, biaya membeli 100 ikat kacang mentah sebesar Rp5 ribu. Tempat merebus kacang tidak dipungut bayaran, satu-satunya keringanan kecil dalam hidup yang terus bergerak tanpa kompromi.
Jalan Panjang yang Diukur Bukan oleh Kilometer, tapi Keteguhan
Lebih dari dua puluh lima tahun ia menjalani hidup sebagai pedagang kacang keliling. Denpasar, Seminyak, Jimbaran semua ia tempuh dengan langkah kaki yang tak pernah benar-benar berhenti. Jarak pulang-pergi mencapai 36 kilometer, semacam maraton tanpa medali.
“Saya nggak capek. Ini kerja saya untuk makan,” katanya jujur. Kalimat itu seperti menampar kenyataan tubuh boleh letih, tapi hidup tidak memberi pilihan.
Ia tidak mengejar mimpi yang megah. Keinginannya sederhana sekadar menyambung hari tanpa kelaparan.
Pertemuan Pahit dengan Orang Baik Palsu
Tidak semua perjalanannya berbuah manis. Suatu siang di kawasan Dewi Sri, seorang pemuda mendekatinya dan menawarkan pembelian semua dagangan, lengkap dengan janji pekerjaan membersihkan villa. Harapan tumbuh kecil di dadanya, namun justru hilang dipatahkan.
“Tiga hari uang jualan hilang, delapan ratus ribu,” ujarnya pelan.
Hari itu ia menangis, bukan hanya karena kehilangan uang, tapi karena disakiti oleh orang yang memanfaatkan kelemahannya.
Meski dihantam tipu muslihat, ia tetap melanjutkan hidup. Besoknya, keranjang kacang kembali ia pikul, seolah luka itu hanya bagian kecil dari perjalanan panjangnya.
Kacang, Keteguhan, dan Impian yang Masih Menyala
Modal awalnya hanya Rp500 ribu. Kacang ia beli dari seorang tetangga di Banyuwangi yang sekaligus menjadi bos kecilnya. Jumlah ikat bergantung pada kebutuhan hari itu, terkadang mencapai 500. Harga per ikat Rp1.000, dan setiap penjualan menjadi penentu nasib harinya.
Pendapatannya tidak menentu. Kadang ia membawa pulang Rp300 ribu. Kadang upah tambahan Rp50 ribu hingga Rp70 ribu ikut menutup kebutuhan sederhana. Semua ia kumpulkan demi dua mimpi rumah kecil dan motor bekas yang masih layak jalan.
Impian itu mungkin terlihat sederhana, namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu manusiawi.
Kota Cantik yang Tidak Selalu Ramah
Kisah Pak Untung bukan hanya cerita seorang pedagang. Ini juga tentang Bali pulau yang menawarkan ketenangan bagi dunia, namun menghadirkan kerasnya perjuangan bagi sebagian warganya. Wisatawan menikmati pantai dan lampu-lampu kota, sementara ia berjuang menjual kacang di sela-sela hiruk pikuk.
Bali memberi keindahan, tetapi membiarkan lelaki tua itu berjalan puluhan kilometer demi hidup. Ironi itu mencolok pulau yang menenangkan banyak orang justru menuntut kesabaran ekstrem dari seorang manusia yang hanya ingin bertahan.
Namun satu hal membuatnya terus bangkit keyakinan. Ia percaya kerja keras masih bisa membawanya ke hari lebih baik. Ia memeluk harapan itu seperti memeluk masa depan.
Akhir yang Belum Pernah Benar-Benar Menjadi Akhir
Kisah Pak Untung tidak berakhir di sini. Ia masih melangkah, kota masih memanggil, dan keranjang kacangnya akan terus ikut kemana pun nasib membawanya. Esok, ia tetap berjalan menembus panas Denpasar, menjalani legenda kecil yang jarang kita perhatikan.
Mungkin setelah membaca ini, kita akan menatap pedagang keliling dengan lebih lembut.
Atau mungkin kita akan bertanya, Berapa banyak Pak Untung lain yang sedang berjuang di sekitar kita tanpa pernah kita lihat?
Hidup tidak selalu berat karena tragedi besar. Kadang ia berat hanya karena seseorang harus berjalan terlalu jauh untuk sekadar bertahan. @teguh





