Hari Anak Nasional 2026 di Solo mengingatkan pentingnya kehadiran ayah, ruang tumbuh, dan perhatian bagi setiap anak.
Tabooo.id – Tawa anak-anak terdengar dari Taman Lingkar, Lokananta, Surakarta. Mereka berlari, bermain games, mengikuti edukasi, bersosialisasi, lalu pulang membawa hadiah. Pagi itu terasa seperti hari biasa bagi anak-anak. Ada permainan yang membuat mereka tertawa, ada teman yang membuat mereka sibuk bercanda, dan ada orang dewasa yang mengajak mereka belajar.
Namun, di tengah keramaian itu, ada pesan yang lebih besar dari sekadar perayaan Hari Anak Nasional 2026. Anak-anak tidak hanya membutuhkan acara. Mereka membutuhkan kehadiran.
Pemerintah Kota Surakarta melalui DP3AP2KB menggelar kegiatan bertajuk “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surakarta juga ikut membawa murid-muridnya dalam kegiatan tersebut. Bagi Anik, guru pendamping yang sudah 29 tahun menemani anak-anak, momen seperti ini punya arti lebih panjang. Ia melihat anak bukan sekadar peserta acara, melainkan manusia yang sedang belajar mengenal dunia dan dirinya sendiri.
Ketika Ayah Berangkat Saat Anak Masih Tidur
Karena itu, Anik mendukung program Wali Kota Surakarta Respati Ardi, GAS MAS atau Gerakan Bapak Seneng Momong Anak Solo. Menurut Anik, program tersebut bisa mendekatkan ayah dengan anak. “Gagasan Mas Wali ini sangat bagus, karena dapat mendekatkan anak kepada ayah yang biasanya anak bangun tidur ayah sudah kerja, anak tidur ayah baru di rumah,” kata Anik.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh realitas yang sering terjadi di banyak rumah. Ayah berangkat ketika anak masih tidur. Ayah pulang ketika anak mulai mengantuk. Hari berganti, pekerjaan terus berjalan, tetapi waktu bersama anak semakin tipis.
Tidak ada yang benar-benar ingin menciptakan jarak itu. Orang tua bekerja demi keluarga, sementara anak membutuhkan kebutuhan hidup yang cukup. Tetapi di tengah semua kebutuhan tersebut, ada satu hal yang sering luput: waktu.
Padahal, anak mungkin tidak menghitung berapa banyak uang yang orang tuanya hasilkan. Mereka lebih mudah mengingat siapa yang duduk di sampingnya ketika mereka bercerita, siapa yang datang ketika mereka ingin menunjukkan sesuatu, dan siapa yang mau mendengar cerita yang bagi orang dewasa terasa sepele.
Di sinilah kehadiran orang tua menjadi penting. Anak tidak hanya membutuhkan fasilitas untuk tumbuh. Mereka juga membutuhkan hubungan yang membuat mereka merasa aman dan dihargai.
Anak Bukan Angka di Buku Nilai
Di sisi lain, Anik melihat anak-anak dengan kemampuan yang berbeda. Ia terbiasa mendampingi anak berkebutuhan khusus dan memahami bahwa proses tumbuh setiap anak tidak bisa memakai ukuran yang sama.
Ada anak yang cepat memahami pelajaran , ada yang membutuhkan waktu lebih panjang dan ada pula yang harus berjuang lebih keras untuk melakukan sesuatu yang terlihat sederhana bagi orang lain.
Karena itu, Anik selalu mendorong anak-anak untuk belajar dan berlatih. Namun, ia juga ingin mereka percaya bahwa kemampuan mereka tetap memiliki nilai.
“Prestasi dan kemampuan anak itu sesuai dengan kemampuan mereka. Tugas kita meyakinkan anak-anak, Allah itu Maha Adil,” ujarnya.
Pesan itu terasa penting di tengah dunia yang sering mengukur anak lewat angka. Nilai bagus mendapat pujian. Piala mendapat sorotan. Prestasi menjadi kebanggaan.
Tetapi tidak semua perjuangan anak berbentuk medali. Bagi seorang anak berkebutuhan khusus, keberanian mencoba sesuatu yang baru juga bisa menjadi prestasi. Bagi anak lain, keberanian tampil di depan orang banyak bisa menjadi kemenangan kecil.
Bahkan, bagi sebagian anak, keberanian bertanya bisa menjadi langkah besar.
Satu Senyum yang Tidak Butuh Piala
Hari Anak Nasional seharusnya memberi ruang untuk melihat hal-hal kecil seperti itu. Masa kecil bukan perlombaan. Anak tidak harus selalu menjadi yang paling pintar. Mereka juga tidak harus selalu menang.
Mereka hanya perlu merasa bahwa orang-orang di sekitarnya percaya kepada mereka.
Perasaan itu pula yang terlihat dari Rashik, salah satu murid difabel yang mengikuti kegiatan di Lokananta. Ia tidak bicara panjang tentang masa depan. Ia hanya mengatakan satu hal.
“Hari ini saya sangat bahagia sekali, full senyum,” kata Rashik.
Senyumnya menjadi bagian kecil dari keramaian hari itu. Namun, kebahagiaan anak memang sering sesederhana itu. Ada teman, ada permainan, ada kesempatan untuk ikut serta, dan ada orang yang mau mendengar.
Rashik berharap kegiatan seperti itu terus berlanjut.
“Harapan saya kegiatan ini tahun ke tahun harus berlanjut dan dapat membuat tema yang jauh lebih membuat anak semangat lagi,” ujarnya.
Harapan itu sederhana. Tetapi justru karena sederhana, orang dewasa perlu mendengarnya.
Setelah Panggung Dibongkar, Apa yang Tersisa?
Setelah panggung dibongkar dan permainan selesai, anak-anak kembali ke rumah. Di rumah, kehidupan berjalan seperti biasa. Ayah kembali bekerja, ibu kembali mengurus pekerjaan, anak kembali belajar, dan rutinitas kembali mengambil ruang.
Di situlah pesan Hari Anak Nasional sebenarnya diuji.
Bukan ketika panggung ramai. Bukan ketika kamera menyala. Tetapi ketika tidak ada siapa-siapa yang melihat.
Apakah ayah masih mau menemani? Apakah ibu masih mau mendengar dan apa orang dewasa masih memberi ruang bagi anak untuk bercerita?
Program GAS MAS membawa percakapan itu ke ruang yang lebih dekat dengan keluarga. Gerakan tersebut tidak hanya bicara tentang aktivitas bersama anak. Lebih jauh, program itu mengingatkan bahwa hubungan orang tua dan anak membutuhkan waktu untuk tumbuh.
Kedekatan tidak muncul otomatis. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang terus berulang.
Yang Anak Ingat Bukan Selalu Hadiahnya
Dari makan bersama, mengantar sekolah, menemani bermain, hingga mendengarkan cerita. Dari hadir ketika anak sedang senang sampai tetap menemani ketika mereka kecewa.
Semua terlihat sederhana. Namun, pengalaman seperti itu bisa membentuk ingatan seorang anak jauh lebih kuat daripada sebuah hadiah.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka juga tidak membutuhkan orang tua yang selalu punya waktu sepanjang hari. Mereka membutuhkan orang tua yang mau hadir ketika ada kesempatan.
Karena hadiah bisa membuat anak tersenyum hari ini. Tetapi kehadiran bisa menjadi cerita yang mereka bawa sampai dewasa.
Mungkin kelak Rashik tidak mengingat semua permainan yang ia ikuti di Lokananta. Mungkin ia juga lupa hadiah yang ia bawa pulang. Namun, rasa bahagia karena pernah diterima, ditemani, dan dianggap penting bisa tinggal lebih lama.
Hari Anak Nasional akhirnya bukan hanya tentang bagaimana membuat anak tersenyum selama sehari. Ini tentang bagaimana orang dewasa memastikan mereka tetap punya alasan untuk tersenyum setelah acara selesai.
Sebab anak tidak hanya sedang menunggu masa depan. Mereka sedang menjalani masa kecilnya sekarang.
Dan masa kecil tidak bisa diulang.@eko








