PHRI Solo menggelar Fun Run 5K dari Balai Kota Surakarta. Event ini menyatukan olahraga, pariwisata, hotel, komunitas, dan UMKM Solo
Tabooo.id – Ratusan peserta memadati kawasan Balai Kota Surakarta untuk mengikuti PHRI Solo Fun Run 5K. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Solo menggelar kegiatan ini dengan titik start dan finish di Balai Kota Surakarta.
Sejak pagi, peserta tampak antusias menunggu waktu start. Mereka datang dari berbagai kalangan untuk berlari, berkumpul bersama komunitas, sekaligus menikmati suasana Kota Solo.
Pantauan Tabooo.id di lokasi menunjukkan antusiasme peserta cukup tinggi. Para pelari mengikuti rute sejauh lima kilometer sebelum kembali menuju garis finish di Balai Kota.
Namun, PHRI Solo tidak sekadar mengajak masyarakat berolahraga.
Event ini membawa misi yang lebih besar. PHRI ingin menghubungkan olahraga dengan pariwisata dan ekonomi lokal.
Lima Kilometer dengan Misi Lebih Panjang
Willy Hizkia Mambat, General Manager Hotel Sahid Jaya Solo, mengatakan PHRI Solo Run menjadi salah satu gagasan PHRI untuk menciptakan magnet baru bagi pariwisata Solo.
Menurut Willy, kegiatan olahraga bisa menjadi pintu masuk untuk menarik wisatawan dari luar daerah.
Peserta dari luar Solo tidak hanya datang untuk berlari. Mereka bisa menginap di hotel, menikmati kuliner, mengunjungi destinasi wisata, hingga berbelanja produk UMKM.
“Tujuannya mendatangkan peserta dari luar daerah serta mendukung program Wali Kota Surakarta 72 Jam berada di Solo. Ada suatu kegiatan, serta meningkatkan okupansi hotel dan meningkatkan penjualan UMKM,” ujar Willy.
Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah event olahraga dapat menggerakkan banyak sektor sekaligus.
Peserta membutuhkan hotel ketika mereka datang dari luar kota. Mereka juga membutuhkan makanan, transportasi, dan aktivitas selama berada di Solo.
Kebutuhan tersebut kemudian membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.
Hotel mendapatkan peluang tamu baru. Restoran mendapat tambahan pelanggan. UMKM memiliki kesempatan menawarkan produk. Destinasi wisata juga berpeluang menerima kunjungan lebih banyak.
Olahraga Bertemu Pariwisata
PHRI Solo melihat olahraga sebagai salah satu cara untuk memperkuat daya tarik wisata kota.
Selama ini, masyarakat mengenal Solo melalui budaya, kuliner, sejarah, dan berbagai agenda seni. Kini, PHRI ingin menambahkan aktivitas olahraga ke dalam ekosistem pariwisata tersebut.
Fun Run menawarkan konsep yang cukup sederhana.
Orang datang untuk berlari. Setelah itu, mereka bisa menikmati kota.
Peserta dari luar daerah bahkan bisa datang sehari sebelum acara. Mereka dapat menginap di hotel, mencoba kuliner lokal, mengunjungi pusat kota, atau mencari destinasi wisata lain di sekitar Solo.
Pola seperti ini memberi keuntungan lebih besar bagi kota.
Wisatawan tidak hanya datang untuk satu agenda. Mereka memiliki alasan untuk memperpanjang waktu tinggal.
Mendukung Konsep 72 Jam di Solo
Willy mengatakan PHRI Solo Run juga selaras dengan program Wali Kota Surakarta mengenai konsep 72 Jam Berada di Solo.
Program tersebut mendorong wisatawan untuk menghabiskan waktu lebih lama di Solo. Event olahraga dapat menjadi salah satu alasan yang membuat wisatawan memilih Solo sebagai tujuan perjalanan.
Misalnya, peserta dari luar kota datang pada Jumat. Mereka mengikuti kegiatan pada Sabtu, lalu memanfaatkan Minggu untuk menikmati destinasi wisata dan kuliner sebelum kembali ke daerah asal.
Satu event akhirnya bisa menciptakan perjalanan yang lebih panjang.
Dampaknya juga bisa menyebar ke berbagai sektor.
Hotel menerima tamu. Restoran melayani pelanggan. Pelaku UMKM menjual produk. Transportasi lokal mengantar wisatawan. Destinasi wisata menerima pengunjung.
Rantai ekonomi tersebut menjadi salah satu alasan PHRI ingin mengembangkan event olahraga secara berkelanjutan.
Hotel Melihat Peluang dari Event Olahraga
Bagi industri perhotelan, event menjadi salah satu cara untuk mendatangkan tamu.
Hotel tidak hanya mengandalkan wisatawan yang datang untuk liburan. Agenda olahraga, konser, konferensi, pameran, hingga kegiatan komunitas juga dapat mendatangkan pengunjung.
PHRI Solo melihat peluang tersebut melalui PHRI Run.
Peserta dari luar kota membutuhkan tempat menginap. Jika mereka datang bersama komunitas atau keluarga, jumlah kebutuhan kamar juga bisa bertambah.
Mereka kemudian mencari tempat makan, transportasi, hingga aktivitas lain selama berada di Solo.
Karena itu, sebuah event olahraga dapat memberikan efek berantai bagi industri pariwisata.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ingin menangkap peluang tersebut sekaligus memperkenalkan Solo melalui kegiatan yang lebih dekat dengan gaya hidup masyarakat saat ini.
PHRI Run Ingin Jadi Agenda Tahunan
PHRI Solo baru pertama kali menggelar kegiatan lari untuk memperingati ulang tahun ke-57 PHRI.
Willy mengatakan PHRI ingin melanjutkan kegiatan tersebut pada tahun-tahun berikutnya.
“Ini pertama kali PHRI membuat acara lari di hari ulang tahun yang ke-57. Ke depannya semoga ini menjadi agenda rutin, agenda tahunan di ulang tahun PHRI berikutnya,” terang Willy.
Keinginan tersebut membuka peluang bagi PHRI Run untuk berkembang menjadi agenda tahunan Kota Solo.
PHRI dapat memperbesar jumlah peserta pada penyelenggaraan berikutnya. Komunitas lari dari berbagai kota juga bisa menjadi target peserta.
Panitia juga dapat mengembangkan konsep acara dengan melibatkan lebih banyak UMKM, hotel, restoran, komunitas olahraga, serta pelaku ekonomi kreatif.
Jika konsisten, PHRI Run tidak hanya menjadi acara internal organisasi.
Event ini bisa masuk ke dalam kalender kegiatan pariwisata Solo.
Komunitas Lari Bisa Jadi Kekuatan
Komunitas lari memiliki peran penting dalam perkembangan sebuah event.
Fun Run tidak hanya menarik atlet. Kegiatan ini juga membuka ruang bagi pelari pemula, pekerja, keluarga, komunitas, hingga masyarakat yang ingin mencoba pengalaman mengikuti event lari.
Karakter peserta yang beragam membuat fun run memiliki pasar yang luas.
PHRI dapat menggandeng komunitas lari dari Solo dan kota-kota lain untuk memperluas jangkauan peserta.
Komunitas juga dapat membantu mengenalkan event melalui jaringan mereka.
Ketika satu komunitas datang bersama puluhan peserta dari luar daerah, mereka juga membawa potensi ekonomi bagi kota.
Mereka membutuhkan kamar hotel, makanan, transportasi, dan berbagai kebutuhan selama perjalanan.
Karena itu, komunitas olahraga bisa menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan PHRI Run ke depan.
Bukan Sekadar Mengejar Garis Finish
Di balik aktivitas lari lima kilometer, PHRI juga membawa pesan tentang gaya hidup sehat.
Willy mengajak generasi muda untuk menjaga kesehatan sekaligus menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Generasi muda harus sehat, harus berkarya dan yang paling penting harus berfungsi untuk masyarakat luas,” harapnya.
Pesan tersebut memberi warna lain dalam PHRI Solo Run.
Lari bukan hanya soal siapa yang paling cepat mencapai garis finish. Kegiatan ini juga bisa menjadi ruang untuk membangun kebiasaan hidup sehat, memperluas pertemanan, dan mempertemukan berbagai komunitas.
Anak muda dapat menggunakan ruang seperti ini untuk berolahraga sekaligus membangun jejaring.
Solo Punya Modal untuk Mengembangkan Sport Tourism
Solo memiliki sejumlah modal untuk mengembangkan konsep sport tourism.
Kota ini memiliki fasilitas olahraga, komunitas yang aktif, sektor perhotelan, kuliner, serta berbagai destinasi wisata.
Kolaborasi antarsektor dapat membuat event olahraga memiliki daya tarik yang lebih kuat.
PHRI memiliki jaringan hotel dan restoran. Komunitas memiliki peserta. Pemerintah menyediakan dukungan kota. UMKM menawarkan produk. Sementara wisatawan membawa pergerakan ekonomi.
Jika semua pihak bergerak bersama, event olahraga dapat menciptakan pengalaman wisata yang lebih lengkap.
Peserta datang untuk berlari, tetapi mereka pulang dengan pengalaman tentang Solo.
Dari Balai Kota, Dampaknya Bisa Lebih Jauh
PHRI Solo Fun Run 5K hanya memiliki jarak lima kilometer. Namun, PHRI ingin membawa dampaknya jauh lebih panjang.
Satu peserta dari luar daerah dapat menciptakan lebih dari satu transaksi. Ia mungkin membayar kamar hotel, makan di restoran, membeli produk UMKM, menggunakan transportasi lokal, lalu mengunjungi tempat wisata.
Jika jumlah peserta mencapai ratusan orang, pergerakan ekonomi tersebut bisa semakin terasa.
Karena itu, ukuran keberhasilan event olahraga tidak hanya terletak pada jumlah peserta.
PHRI juga perlu melihat berapa banyak peserta dari luar daerah, berapa lama mereka tinggal, berapa banyak kamar hotel yang terisi, serta seberapa besar transaksi UMKM selama acara.
Data tersebut dapat membantu PHRI mengembangkan konsep PHRI Run pada tahun berikutnya.
Lima Kilometer, Dampak Lebih Panjang
PHRI Solo Run 5K menunjukkan bahwa olahraga dapat membuka pintu bagi sektor lain.
Peserta berlari dari Balai Kota dan kembali ke garis finish di lokasi yang sama. Namun, misi PHRI tidak berhenti ketika pelari menyelesaikan lima kilometer.
PHRI ingin membawa peserta masuk lebih jauh ke dalam pengalaman Kota Solo.
Mereka bisa menginap, makan, berbelanja, menikmati budaya, mengunjungi destinasi wisata, lalu membawa cerita tentang Solo ke daerah asal.
Ke depan, PHRI memiliki pekerjaan rumah untuk menjaga kualitas event, memperluas promosi, menggandeng komunitas, dan memperkuat koneksi antara olahraga dengan sektor pariwisata.@eko








