Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Museum Keris Nusantara 9 Tahun: Pusaka Penjaga Peradaban

by dimas
Agustus 9, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Museum Keris Nusantara merayakan usia ke-9 dengan mengangkat keris sebagai warisan teknologi, budaya, dan penjaga peradaban Nusantara.

Tabooo.id: Surakarta – Langkah barongan Bali membuka jalan. Di belakangnya, rombongan pembawa pusaka bergerak perlahan menuju Museum Keris Nusantara. Masyarakat memadati sisi jalan, sementara denting gamelan mengiringi perjalanan Keris Kiai Tengoro, Minggu (9/8/2026) pagi.

Suasana itu tidak sekadar merayakan ulang tahun museum. Kota Solo sedang mengingatkan publik bahwa keris bukan hanya benda warisan budaya. Sebilah keris menyimpan pengetahuan teknologi, seni, dan peradaban Nusantara yang lahir jauh sebelum istilah rekayasa logam dikenal modern.

Museum Keris Nusantara memasuki usia kesembilan dengan mengusung tema “Arutala Vidya: Merawat Pusaka, Menjaga Peradaban.” Tema tersebut mengajak masyarakat melihat keris sebagai bukti kecanggihan ilmu pengetahuan leluhur, bukan sekadar koleksi sejarah.

Kirab Budaya Membuka Rangkaian Perayaan

Kepala UPTD Museum Kota Solo, Bonita Rintyowati, menjelaskan seluruh rangkaian peringatan dimulai sejak Sabtu (8/8/2026) sore. Tim museum menyemayamkan Keris masterpiece Kiai Tengoro bersama dua tombak pendamping di Loji Gandrung sebagai pembuka acara.

Sehari kemudian, panitia menggelar kirab budaya dengan mengangkat tema keris Bali. Barongan Bali memimpin iring-iringan, sedangkan komunitas wushu mengikuti barisan sebagai simbol keterkaitan budaya senjata tradisional dengan seni bela diri.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

“Kemarin sore penyemayaman keris masterpiece kita, keris Kiai Tengoro dan dua tombak pendamping di Loji Gandrung. Kemudian tadi pagi di Kirab karena kita temanya keris Bali sehingga tadi pengiringnya itu barongan Bali,” kata Bonita.

Bonita menjelaskan pihak museum sengaja mengajak komunitas wushu karena olahraga tersebut menggunakan berbagai jenis senjata. Museum ingin membuka ruang kolaborasi dengan komunitas yang memiliki keterkaitan sejarah maupun budaya dengan pusaka Nusantara.

Panitia kemudian mengenalkan sembilan koleksi keris pilihan kepada pengunjung. Koleksi itu meliputi Keris Kiai Tengoro, dua tombak pendamping, hingga tombak masterpiece Kiai Jimat. Setelah itu, para peneliti memaparkan hasil kajian mengenai pedang Nusantara dalam sebuah seminar terbuka.

Keris Menyimpan Teknologi yang Mendahului Zamannya

Bonita menilai masyarakat masih sering melihat keris sebagai benda mistis atau simbol adat. Padahal, setiap bilah keris menyimpan pengetahuan metalurgi yang sangat maju.

Menurutnya, para empu Nusantara telah menguasai teknik mengolah dan memadukan berbagai jenis logam sejak berabad-abad lalu.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pada zaman peradaban dulu kita itu sudah punya teknologi yang luar biasa. Pembuatan keris itu teknologi yang tinggi.” tambahnya.

Ia menambahkan masyarakat Jawa telah mengenal keris sejak sekitar abad ke-6. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Nusantara telah melahirkan inovasi teknologi jauh sebelum revolusi industri berkembang di belahan dunia lain.

Karena itu, Museum Keris Nusantara ingin mengembalikan pemahaman publik terhadap keris sebagai warisan ilmu pengetahuan sekaligus identitas bangsa.

Museum Harus Menjadi Ruang Belajar

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani berharap Museum Keris Nusantara terus berkembang menjadi ruang edukasi yang hidup.

Menurut Astrid, museum tidak cukup hanya menyimpan koleksi bersejarah. Museum juga harus membangun interaksi dengan masyarakat, pelajar, peneliti, dan komunitas budaya.

“Harapannya bisa menjadikan museum sebagai tempat ruang interaksi, edukasi dan juga pembelajaran yang relevan di era digital.” ujarnya.

Astrid optimistis pengembangan museum akan meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat. Ia juga berharap semakin banyak institusi yang mengajukan pameran tematik sehingga museum benar-benar menjadi pusat pembelajaran budaya.

Peradaban Tidak Hanya Diwariskan, Tetapi Juga Dipahami

Indonesia terus berbicara tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, dan teknologi masa depan. Namun, bangsa ini sering melupakan bahwa leluhurnya pernah menciptakan teknologi pengolahan logam yang sangat maju melalui sebilah keris.

Museum Keris Nusantara berusaha menjembatani masa lalu dan masa depan. Museum tidak hanya menyimpan pusaka, tetapi juga menghidupkan kembali pengetahuan yang pernah melahirkan peradaban besar di Nusantara.

Perayaan ulang tahun ini bukan sekadar seremoni. Solo sedang mengingatkan bahwa bangsa yang memahami warisan teknologinya akan lebih percaya diri menghadapi masa depan, sementara bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah untuk melangkah. @dimas

Tags: Budaya IndonesiaKeris NusantaraMuseum Keris NusantaraPusaka PeradabanSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

by teguh
Agustus 23, 2026

Di balik 1.012 pusaka yang menurut pengelola Museum keris telah teregistrasi, ada pekerjaan sunyi untuk merawat benda, menjaga cerita, dan...

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

by teguh
Agustus 22, 2026

Ada benda yang cukup disimpan di lemari. Ada pula benda pusaka harus pergi dan membawa cerita sebagai warisan keluarga. Tabooo.id...

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

by eko
Agustus 19, 2026

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Miyosaken Gongsa Sekati dan mulai menabuh dua gamelan pusaka untuk membuka rangkaian Sekaten 2026. Tabooo.id...

Next Post
Museum di Era Digital: Merawat Pusaka atau Kehilangan Jati Diri?

Museum di Era Digital: Merawat Pusaka atau Kehilangan Jati Diri?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id