Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Museum Keris Nusantara 9 Tahun: Pusaka Penjaga Peradaban

by dimas
Agustus 9, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Museum Keris Nusantara merayakan usia ke-9 dengan mengangkat keris sebagai warisan teknologi, budaya, dan penjaga peradaban Nusantara.

Tabooo.id: Surakarta – Langkah barongan Bali membuka jalan. Di belakangnya, rombongan pembawa pusaka bergerak perlahan menuju Museum Keris Nusantara. Masyarakat memadati sisi jalan, sementara denting gamelan mengiringi perjalanan Keris Kiai Tengoro, Minggu (9/8/2026) pagi.

Suasana itu tidak sekadar merayakan ulang tahun museum. Kota Solo sedang mengingatkan publik bahwa keris bukan hanya benda warisan budaya. Sebilah keris menyimpan pengetahuan teknologi, seni, dan peradaban Nusantara yang lahir jauh sebelum istilah rekayasa logam dikenal modern.

Museum Keris Nusantara memasuki usia kesembilan dengan mengusung tema “Arutala Vidya: Merawat Pusaka, Menjaga Peradaban.” Tema tersebut mengajak masyarakat melihat keris sebagai bukti kecanggihan ilmu pengetahuan leluhur, bukan sekadar koleksi sejarah.

Kirab Budaya Membuka Rangkaian Perayaan

Kepala UPTD Museum Kota Solo, Bonita Rintyowati, menjelaskan seluruh rangkaian peringatan dimulai sejak Sabtu (8/8/2026) sore. Tim museum menyemayamkan Keris masterpiece Kiai Tengoro bersama dua tombak pendamping di Loji Gandrung sebagai pembuka acara.

Sehari kemudian, panitia menggelar kirab budaya dengan mengangkat tema keris Bali. Barongan Bali memimpin iring-iringan, sedangkan komunitas wushu mengikuti barisan sebagai simbol keterkaitan budaya senjata tradisional dengan seni bela diri.

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

“Kemarin sore penyemayaman keris masterpiece kita, keris Kiai Tengoro dan dua tombak pendamping di Loji Gandrung. Kemudian tadi pagi di Kirab karena kita temanya keris Bali sehingga tadi pengiringnya itu barongan Bali,” kata Bonita.

Bonita menjelaskan pihak museum sengaja mengajak komunitas wushu karena olahraga tersebut menggunakan berbagai jenis senjata. Museum ingin membuka ruang kolaborasi dengan komunitas yang memiliki keterkaitan sejarah maupun budaya dengan pusaka Nusantara.

Panitia kemudian mengenalkan sembilan koleksi keris pilihan kepada pengunjung. Koleksi itu meliputi Keris Kiai Tengoro, dua tombak pendamping, hingga tombak masterpiece Kiai Jimat. Setelah itu, para peneliti memaparkan hasil kajian mengenai pedang Nusantara dalam sebuah seminar terbuka.

Keris Menyimpan Teknologi yang Mendahului Zamannya

Bonita menilai masyarakat masih sering melihat keris sebagai benda mistis atau simbol adat. Padahal, setiap bilah keris menyimpan pengetahuan metalurgi yang sangat maju.

Menurutnya, para empu Nusantara telah menguasai teknik mengolah dan memadukan berbagai jenis logam sejak berabad-abad lalu.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pada zaman peradaban dulu kita itu sudah punya teknologi yang luar biasa. Pembuatan keris itu teknologi yang tinggi.” tambahnya.

Ia menambahkan masyarakat Jawa telah mengenal keris sejak sekitar abad ke-6. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Nusantara telah melahirkan inovasi teknologi jauh sebelum revolusi industri berkembang di belahan dunia lain.

Karena itu, Museum Keris Nusantara ingin mengembalikan pemahaman publik terhadap keris sebagai warisan ilmu pengetahuan sekaligus identitas bangsa.

Museum Harus Menjadi Ruang Belajar

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani berharap Museum Keris Nusantara terus berkembang menjadi ruang edukasi yang hidup.

Menurut Astrid, museum tidak cukup hanya menyimpan koleksi bersejarah. Museum juga harus membangun interaksi dengan masyarakat, pelajar, peneliti, dan komunitas budaya.

“Harapannya bisa menjadikan museum sebagai tempat ruang interaksi, edukasi dan juga pembelajaran yang relevan di era digital.” ujarnya.

Astrid optimistis pengembangan museum akan meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat. Ia juga berharap semakin banyak institusi yang mengajukan pameran tematik sehingga museum benar-benar menjadi pusat pembelajaran budaya.

Peradaban Tidak Hanya Diwariskan, Tetapi Juga Dipahami

Indonesia terus berbicara tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, dan teknologi masa depan. Namun, bangsa ini sering melupakan bahwa leluhurnya pernah menciptakan teknologi pengolahan logam yang sangat maju melalui sebilah keris.

Museum Keris Nusantara berusaha menjembatani masa lalu dan masa depan. Museum tidak hanya menyimpan pusaka, tetapi juga menghidupkan kembali pengetahuan yang pernah melahirkan peradaban besar di Nusantara.

Perayaan ulang tahun ini bukan sekadar seremoni. Solo sedang mengingatkan bahwa bangsa yang memahami warisan teknologinya akan lebih percaya diri menghadapi masa depan, sementara bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah untuk melangkah. @dimas

Tags: Budaya IndonesiaKeris NusantaraMuseum Keris NusantaraPusaka PeradabanSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Guruh Soekarnoputra: Anak Bung Karno yang Memilih Panggung Seni

Guruh Soekarnoputra: Anak Bung Karno yang Memilih Panggung Seni

by teguh
September 26, 2026

Guruh Soekarnoputra wafat pada Sabtu, 26/09/2026, pukul 04.16 WIB. Putra bungsu Soekarno itu meninggal pada usia 73 tahun di MRCCC...

Guruh Soekarnoputra Wafat, Panggung Seni Berduka

Guruh Soekarnoputra Wafat, Panggung Seni Berduka

by teguh
September 26, 2026

Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh yang hidup di dua panggung sekaligus seni dan politik. Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada...

Sudah Dibasahi, Api TPA Putri Cempo Muncul Lagi

Sudah Dibasahi, Api TPA Putri Cempo Muncul Lagi

by teguh
September 24, 2026

Api kembali muncul di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo, Kamis 24/09/2026. Padahal, petugas sebelumnya sudah melakukan pembasahan dan...

Next Post
Museum di Era Digital: Merawat Pusaka atau Kehilangan Jati Diri?

Museum di Era Digital: Merawat Pusaka atau Kehilangan Jati Diri?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id