Pasar Klewer tak lagi seramai dulu. Perubahan pola belanja, transportasi online, dan lesunya ekonomi membuat tukang becak, buruh angkut, hingga pedagang berjuang mempertahankan penghasilan.
Tabooo.id – Pasar bukan sekadar tempat jual beli. Bagi banyak orang, pasar menjadi ruang untuk mencari nafkah dan menjaga harapan tetap hidup. Namun, ketika keramaian mulai berkurang, kehidupan para pekerja kecil ikut berubah. Tukang becak, buruh angkut, hingga pedagang kini harus bekerja lebih lama untuk membawa pulang penghasilan yang semakin sedikit.
Pagi yang Dimulai dengan Harapan
Pukul delapan pagi, Nuryadi (64) sudah mengayuh becaknya menuju Pasar Klewer, Surakarta. Warga Baki, Sukoharjo, itu menjalani rutinitas yang sama hampir setiap hari. Ia memilih mangkal hingga sekitar pukul 15.00 sambil menunggu penumpang.
Dulu, waktu menunggu tidak pernah terasa lama. Pembeli datang silih berganti. Wisatawan memenuhi kawasan pasar. Pedagang keluar masuk membawa barang dagangan.
Kini, suasananya berbeda. Becak masih berjajar di tepi jalan. Namun, penumpang tidak lagi datang seperti beberapa tahun lalu.
“Satu hari tidak menarik penumpang semua tukang becak di sini saat ini mengalami hal itu,” ujar Nuryadi kepada TABOOO.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, kalimat tersebut menggambarkan perubahan besar yang kini mereka hadapi.
Saat Menunggu Lebih Lama daripada Mengayuh
Nuryadi masih mengingat masa ketika Pasar Klewer menjadi salah satu pusat perdagangan paling sibuk di Surakarta.
Saat itu, ia bisa mengantar lima hingga enam penumpang dalam sehari.
Hari ini, satu hingga tiga penumpang saja sudah terasa istimewa.
“Satu tahun ini bisa menarik penumpang satu sampai tiga itu hal yang luar biasa. Dulu bisa lima sampai enam penumpang,” katanya.
Perubahan itu ikut mengurangi pendapatannya.
Menurut Nuryadi, membawa pulang Rp50 ribu dalam sehari kini menjadi pencapaian yang sulit. Bahkan, ia sering hanya memperoleh sekitar Rp20 ribu setelah menunggu sejak pagi.
“Harinya ini kita bisa bawa uang lima puluh ribu itu hebat. Kadang sehari bawa dua puluh ribu, terus dibagi sama istri dan untuk makan pun kurang,” ungkapnya.
Uang itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, setiap penumpang memiliki arti yang sangat besar.
Pasar yang Menghidupi Banyak Orang
Banyak orang mengenal Pasar Klewer sebagai pusat perdagangan batik.
Namun, pasar ini juga menghidupi ribuan pekerja.
Pedagang menggantungkan usaha mereka di sana.
Buruh angkut mencari upah dari aktivitas bongkar muat.
Tukang becak menunggu penumpang di pintu pasar.
Warung makan melayani para pekerja dan pembeli.
Semua saling terhubung.
Ketika pasar ramai, roda ekonomi ikut berputar. Ketika pasar sepi, seluruh mata rantai itu ikut melemah.
Perubahan Datang dari Banyak Arah
Nuryadi melihat perubahan itu terjadi secara perlahan.
Menurutnya, masyarakat kini lebih sering menggunakan ojek online. Banyak orang juga memilih membeli barang melalui toko daring. Selain itu, kondisi ekonomi membuat masyarakat semakin berhati-hati saat membelanjakan uang.
“Ya mungkin keadaan ekonomi yang sekarang lagi seperti ini semua merasakan. Mungkin karena adanya online, ojek online dan bemo yang mungkin membuat sepi,” jelasnya.
Perubahan tersebut tidak hanya mengurangi jumlah penumpang becak. Perubahan itu juga mengubah ritme kehidupan di sekitar pasar.
Keramaian yang dulu menjadi denyut ekonomi kini semakin jarang terlihat.
Bekerja Meski Belum Tentu Membawa Hasil
Kesulitan Nuryadi tidak berhenti pada minimnya penumpang.
Ia menjelaskan bahwa sebagian tukang becak masih menyewa becak yang mereka gunakan setiap hari. Mereka harus mengeluarkan sekitar Rp8 ribu untuk biaya sewa.
Artinya, pengeluaran tetap berjalan meski mereka tidak memperoleh penghasilan.
Situasi itu membuat para tukang becak memulai hari dengan beban sebelum sempat membawa uang pulang.
Meski begitu, mereka tetap datang setiap pagi.
Mereka percaya bahwa harapan selalu berawal dari usaha.
Harapan Sederhana di Tengah Pasar yang Berubah
Nuryadi tidak meminta kehidupan yang mewah.
Ia hanya ingin pasar kembali ramai.
Ia ingin pedagang kembali tersenyum.
Ia ingin buruh angkut kembali memperoleh pekerjaan.
Ia juga ingin tukang becak kembali mengantar penumpang seperti dulu.
“Ya semoga keadaan ini lekas pulih biar pedagang ramai lagi, kuli angkut ramai lagi, dan tukang becak juga kembali ramai. Semoga orang-orang kecil ini bisa makan dan semoga ada kebijakan dari pemerintah yang bisa membantu kami,” harapnya.
Harapan itu terdengar sederhana.
Namun, bagi pekerja harian, harapan sederhana sering kali menjadi alasan terbesar untuk tetap berangkat bekerja setiap pagi.
Ketika Pasar Kehilangan Keramaiannya
Setiap kota memiliki pusat kehidupan.
Di Surakarta, Pasar Klewer pernah menjadi salah satu denyut ekonomi yang menggerakkan banyak keluarga.
Hari ini, pasar itu masih berdiri. Aktivitas jual beli masih berlangsung. Namun, ritmenya tidak lagi sama.
Di balik lorong-lorong pasar, ada tukang becak yang menunggu lebih lama daripada mengayuh. Ada buruh angkut yang menanti pekerjaan. Ada pedagang yang berharap pembeli kembali datang.
Mereka tidak menolak perubahan. Mereka hanya ingin tetap memiliki ruang untuk mencari nafkah.
Sebab bagi mereka, pasar bukan sekadar tempat berdagang. Pasar adalah tempat mereka menjaga kehidupan, satu hari demi satu hari.@eko








