Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kabar Media Lokal Dilarang Meliput Demo Ramai Dibahas, Apa Faktanya?

by eko
Agustus 7, 2026
in Check
A A
Home Check
Share on Facebook
Share on Twitter

Viral klaim pemerintah melarang media lokal meliput demonstrasi jelang HUT ke-81 RI. Penelusuran menunjukkan narasi tersebut tidak benar. Simak fakta lengkapnya.

Tabooo.id – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, sejumlah akun media sosial menyebarkan narasi yang menuduh pemerintah melarang media lokal meliput demonstrasi. Video itu menuding Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengendalikan pemberitaan aksi unjuk rasa. Hasil penelusuran menunjukkan klaim tersebut tidak benar. Komdigi menegaskan media tetap bebas menjalankan tugas jurnalistik sesuai Undang-Undang Pers.

Klaim Viral Menyerang Kebebasan Pers

Sejumlah akun Facebook dan YouTube mengunggah video yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto bersama cuplikan aksi demonstrasi.

Video itu menyampaikan narasi berikut.

“PEMERINTAH TAKUT? Warganet soroti kabar aksi demo yang tidak terpublikasi di media-media. Kenapa pemerintah takut? Di luar sana banyak mahasiswa yang berjuang, berita di-takedown Komdigi. Sudah dikondisikan!”

Narasi tersebut menggiring opini bahwa pemerintah melarang media lokal memberitakan aksi demonstrasi menjelang HUT ke-81 RI.

Karena menyentuh isu kebebasan pers, banyak pengguna media sosial langsung mempercayainya.

Ini Belum Selesai

Kartu ATM MBG Viral, Benarkah Sudah Resmi?

Mulai 2027, Ibu Hamil Bayar Pajak? Ini Faktanya

Fakta Sebenarnya

Dikutip Cek Fakta Kompas.com menelusuri klaim tersebut dan menemukan bahwa informasi itu tidak benar.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, secara tegas membantah tuduhan tersebut.

Menurut Meutya, Komdigi tidak pernah mengeluarkan larangan kepada media massa untuk meliput demonstrasi maupun peristiwa lainnya.

“Kemenkomdigi tidak melarang media massa untuk melakukan peliputan apa pun bentuknya selama sesuai dengan kaidah jurnalistik dan koridor Undang-Undang Pers. Jadi, itu tidak betul.”

Pernyataan itu sekaligus mematahkan narasi yang menuduh pemerintah mengendalikan pemberitaan demonstrasi.

Pemerintah Mendorong Media Menyampaikan Fakta

Meutya justru mengajak media bekerja lebih cepat dalam menyampaikan informasi yang benar.

Menurutnya, pemberitaan yang akurat mampu mempersempit ruang bagi penyebaran disinformasi.

“Teman-teman media silakan meliput dan memberitakan yang benar dengan cepat agar tidak memberi ruang kepada disinformasi yang masuk.”

Ajakan tersebut menunjukkan pemerintah mendukung kerja jurnalistik yang profesional.

Dewan Pers Turut Memberikan Respons

Anggota Dewan Pers, Abdul Manan, juga menanggapi isu tersebut.

Ia berharap informasi mengenai pembatasan media lokal tidak benar.

Sampai sekarang, tidak ada kebijakan resmi yang melarang media meliput demonstrasi menjelang HUT RI.

Mengapa Banyak Orang Mempercayainya?

Hoaks sering memanfaatkan isu yang memancing emosi publik.

Kebebasan pers termasuk isu yang sangat sensitif. Karena itu, banyak orang langsung bereaksi ketika membaca tuduhan tentang pembungkaman media.

Selain itu, demonstrasi menjelang peringatan nasional memang menarik perhatian masyarakat. Situasi tersebut membuat narasi yang belum terverifikasi lebih mudah menyebar.

Padahal, setiap redaksi menentukan liputan berdasarkan nilai berita, hasil verifikasi, dan ketersediaan sumber daya.

Karena itu, perbedaan jumlah pemberitaan tidak bisa menjadi bukti adanya pelarangan.

Mengapa Hoaks Ini Berbahaya?

Hoaks semacam ini tidak hanya memicu keresahan.

Narasi tersebut juga berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap media dan lembaga negara.

Ketika pengguna media sosial membagikan informasi tanpa memeriksa sumbernya, disinformasi berkembang lebih cepat daripada klarifikasi resmi.

Akibatnya, opini publik sering terbentuk sebelum fakta berhasil menjangkaunya.

Ini bukan sekadar hoaks tentang demonstrasi.

Ini menunjukkan bagaimana sebuah narasi mampu memengaruhi cara masyarakat memandang sebuah peristiwa.

Kesimpulan

Klaim bahwa pemerintah melarang media lokal meliput demonstrasi menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia tidak benar.

Komdigi membantah tuduhan tersebut dan menegaskan media tetap bebas menjalankan peliputan sesuai Undang-Undang Pers. Dewan Pers juga tidak menemukan dasar yang mendukung narasi mengenai pembatasan media.

Sebelum membagikan informasi, luangkan waktu untuk memeriksa sumber dan konteksnya. Di era media sosial, satu unggahan dapat membentuk opini jutaan orang. Karena itu, kebiasaan memverifikasi informasi menjadi langkah paling sederhana untuk melawan disinformasi. @eko

Tags: DemoDemonstrasiJurnalisKomdigiMahasiswaMedia Lokal

Kamu Melewatkan Ini

200 BTS Terdampak Gempa Flores: Seberapa Siap Kita Tanpa Sinyal?

200 BTS Terdampak Gempa Flores: Seberapa Siap Kita Tanpa Sinyal?

by teguh
Agustus 16, 2026

Bayangkan kamu baru saja merasakan gempa besar. Refleks pertama mungkin langsung meraih smartphone. Tujuannya sederhana menghubungi keluarga dan memastikan mereka...

Saat Sinyal Ikut Tumbang: Gempa Flores Menguji Ketahanan Komunikasi

Saat Sinyal Ikut Tumbang: Gempa Flores Menguji Ketahanan Komunikasi

by teguh
Agustus 16, 2026

Gempa Flores tidak pernah memberi waktu untuk bersiap. Ironisnya, kebutuhan komunikasi justru meningkat saat infrastruktur ikut goyah. Tabooo.id - Pada...

Komdigi Bakal Wajibkan Balik Nama HP Bekas? Ini Faktanya

Komdigi Bakal Wajibkan Balik Nama HP Bekas? Ini Faktanya

by eko
Agustus 5, 2026

Viral klaim Komdigi akan mewajibkan balik nama ponsel bekas seperti kendaraan bermotor. Faktanya, Komdigi hanya mengkaji sistem pengelolaan IMEI, bukan...

Next Post
Kota Tanpa Arena Memanah: Ironi di Balik Prestasi Atlet Panahan Solo

Kota Tanpa Arena Memanah: Ironi di Balik Prestasi Atlet Panahan Solo

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id