Inflasi ternyata menemukan cara baru untuk mengganggu kehidupan. Tanpa suara keras, ketika harga beras naik lagi efeknya masuk ke dapur dan mengurangi isi keranjang belanja sedikit demi sedikit. Bukan hanya uang yang terkuras, tetapi juga pilihan keluarga saat membeli kebutuhan pokok.
Tabooo.id – Kalau dulu orang sibuk menentukan menu makan, sekarang banyak keluarga lebih dulu menghitung apakah uang belanja mereka masih cukup untuk membawa pulang beras, minyak goreng, dan lauk selama seminggu. Semua kegelisahan itu berawal dari satu kenyataan harga beras naik lagi tanpa jeda.
Harga Naik Pelan, Isi Keranjang Menyusut Diam-Diam
Badan Pusat Statistik (BPS) kembali mencatat kenaikan harga beras yang terus berlangsung sejak Februari 2026. Tren tersebut terjadi pada beras medium maupun premium dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda melambat.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang berlangsung pada Selasa, 04/08/2026, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa harga beras masih terus bergerak naik hingga pekan kelima Juli.
“Beras medium ini mengalami peningkatan bahkan sejak bulan Februari sampai dengan minggu kelima Juli, beras selalu mengalami peningkatan harganya untuk beras medium dan juga beras premium. Beras medium naik 0,50 persen dan beras premium naik 0,52 persen,” ujar Ateng Hartono.
Harga rata-rata nasional beras medium kini mencapai Rp14.489 per kilogram, naik dari Rp14.417 pada Juni. Sementara itu, harga beras premium meningkat menjadi Rp16.330 per kilogram dari Rp16.245 pada bulan sebelumnya.
Tekanan harga juga menyebar ke lebih banyak daerah.
“Beras semakin mengalami peningkatan jumlah kabupaten/kotanya, di minggu yang lalu ada 152 sekarang 155 kabupaten/kota,” kata Ateng.
Kota Langsa mencatat kenaikan IPH tertinggi sebesar 6,23 persen, disusul Kabupaten Tambrauw (5,94 persen), Kabupaten Sarmi (5,54 persen), Kabupaten Kaur (5,01 persen), dan Kabupaten Aceh Barat Daya (4,67 persen).
Artinya, kenaikan harga beras bukan lagi persoalan beberapa wilayah. Hampir seluruh Indonesia mulai merasakan tekanan yang sama.
Inflasi Tidak Lagi Mengetuk Pintu, Ia Langsung Duduk di Meja Makan
Kalau dulu masyarakat mengenal inflasi melalui grafik ekonomi, sekarang mereka langsung merasakannya ketika berdiri di depan rak beras.
Seorang ibu mulai mengurangi satu kilogram beras dari daftar belanja agar uang belanja cukup sampai akhir pekan.
Keluarga menggunakan minyak goreng lebih hemat karena harganya terus meningkat. Menu ayam yang dulu hadir hampir setiap hari kini bergeser menjadi hidangan sesekali.
Di sisi lain, daftar belanja semakin dipenuhi coretan karena banyak kebutuhan harus ditunda.
BPS juga mencatat harga minyak goreng seluruh jenis mencapai Rp20.229 per liter, naik 0,18 persen dibandingkan Juni 2026.
“Minyak goreng di pasar rakyat juga sejak bulan April sampai dengan bulan Juli selalu mengalami peningkatan harganya. Saat ini harganya sudah mencapai Rp20.229 (per liter) atau naik 0,18 persen dan terjadi kenaikan pada 30,56 persen kabupaten kota di Indonesia atau 110 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan IPH,” ujar Ateng.
Ironinya, Kabupaten Intan Jaya mencatat harga minyak goreng hingga Rp60 ribu per liter. Kabupaten Pegunungan Bintang mencapai Rp52.500, sedangkan Kabupaten Puncak Jaya menyentuh Rp47 ribu per liter.
Harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah memang mulai turun. Namun, penurunan itu belum cukup menahan laju kenaikan harga beras dan minyak goreng yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Keranjang Belanja Sedang Diet Paksa
Beras tetap menjadi kebutuhan utama setiap rumah tangga. Minyak goreng masih harus tersedia di dapur agar aktivitas memasak tetap berjalan.
Tagihan listrik datang setiap bulan tanpa menunggu kondisi ekonomi membaik. Sementara itu, anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah dan kebutuhan harian lainnya.
Masalahnya, penghasilan keluarga tidak tumbuh secepat harga kebutuhan pokok.
Akibatnya, banyak keluarga mulai mengurangi jumlah belanja, menunda membeli lauk, bahkan mengganti kualitas bahan makanan agar pengeluaran tetap terkendali.
Kenaikan harga akhirnya memaksa masyarakat mengubah pola konsumsi. Mereka tidak memilih hidup lebih sederhana, tetapi keadaan memaksa mereka bertahan dengan pilihan yang semakin terbatas.
Yang Naik Bukan Sekadar Harga, Tapi Tingkat Kecemasan
Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi berulang kali mengingatkan dalam berbagai forum ekonomi sepanjang 2023–2025 bahwa inflasi pangan paling cepat menggerus daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurutnya, kelompok tersebut mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk membeli kebutuhan pokok. Sedikit kenaikan harga langsung mengurangi ruang konsumsi keluarga.
Ekonom senior Faisal Basri (almarhum) juga beberapa kali menegaskan sebelum wafat pada 05/09/2024 bahwa inflasi pangan menjadi ancaman paling nyata terhadap kesejahteraan masyarakat karena langsung menyentuh kebutuhan dasar sehari-hari.
Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Imam B. Prasodjo menjelaskan bahwa tekanan ekonomi yang berlangsung lama sering memicu kecemasan keluarga, memperbesar konflik domestik, dan mengurangi rasa aman di dalam rumah.
Karena itu, kenaikan harga pangan tidak lagi berhenti sebagai persoalan ekonomi. Tekanan tersebut kini ikut membentuk persoalan sosial yang dirasakan jutaan keluarga Indonesia.
Harga Naik, Logika Bertahan Hidup Ikut Berubah
Tidak ada keluarga yang menuntut harga serba murah. Mereka hanya berharap penghasilan masih mampu mengejar kebutuhan pokok.
Kenyataannya justru berbalik karena daftar pengeluaran terus memanjang. Sementara gaji memilih tetap diam di tempat.
Pada akhirnya, banyak keluarga tidak lagi menentukan menu berdasarkan selera. Mereka menentukan menu berdasarkan sisa uang yang masih tersedia.
Yang Menyusut Bukan Hanya Dompet
Harga pangan terus merangkak naik. Pada saat yang sama, isi dompet semakin menipis. Ketika daya beli melemah, isi piring ikut berkurang.
Bersamaan dengan itu, rasa tenang di dalam rumah perlahan ikut menghilang.
Banyak keluarga kini tidak lagi bertanya ingin makan apa. Mereka justru bertanya masih mampu membeli apa.
Yang Terlihat Angka, Yang Terasa Kehidupan
Secara statistik, inflasi beras mungkin hanya naik 0,50 persen. Meja makan menerjemahkan angka itu menjadi satu lauk yang hilang dari menu keluarga.
Pasar tradisional memperlihatkan kenyataan yang lebih pahit karena semakin banyak orang pulang dengan isi keranjang belanja yang lebih sedikit.
Pemerintah membaca inflasi melalui persentase. Ekonom menganalisisnya melalui data. Sementara itu, masyarakat merasakan semuanya melalui pengeluaran harian.
Inilah ironi inflasi karena angkanya memang terlihat kecil namun, dampaknya membesar dalam kehidupan sehari-hari.
Di Balik Angka yang Terus Bertambah
Kenaikan harga pangan memang belum berubah menjadi krisis nasional.
Namun, setiap kali masyarakat mengurangi isi keranjang belanja, menunda membeli lauk, atau memilih bahan makanan yang lebih murah, kualitas hidup ikut menurun sedikit demi sedikit.
Tidak ada pemerintah yang mengumumkan bahwa standar hidup masyarakat sedang bergeser. Namun, dapur keluarga memperlihatkan kenyataan itu setiap hari.
Saat jutaan keluarga terus menyesuaikan diri dengan kenaikan harga, bangsa ini tidak hanya menghadapi tantangan ekonomi.
Bangsa ini juga sedang menguji daya tahan keluarga Indonesia untuk mempertahankan kehidupan yang layak. @teguh








