Pagi itu, suasana pasar tidak terlihat berbeda. Karung-karung beras masih tersusun rapi. Minyak goreng tetap memenuhi rak. Penjual ayam masih menawarkan dagangannya kepada setiap pembeli yang lewat. Namun, cara seorang ibu memandang semua itu telah berubah dana salah satu sebabnya harga beras naik.
Tabooo.id – Ia berhenti cukup lama di depan tumpukan beras. Tangannya tidak lagi mencari merek yang paling disukai keluarga. Matanya justru sibuk menghitung apakah uang yang ada di dompet masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir pekan Terutama beras, karena harga beras naik.
Perubahan itu mungkin tidak terdengar dramatis akan tetapi, bagi jutaan keluarga Indonesia, kegelisahan seperti itulah yang menandai datangnya inflasi.
Jauh sebelum angka-angka ekonomi diumumkan, dapur lebih dulu memberi peringatan.
Belanja Bulanan Kini Menjadi Latihan Bertahan Hidup
Dulu, belanja bulanan identik dengan memilih kebutuhan terbaik untuk keluarga.
Kini, banyak orang tua datang ke pasar dengan satu tujuan yang berbeda, yakni memastikan seluruh anggota keluarga tetap bisa makan sampai akhir bulan.
Hari ini mereka memilih beras dengan kualitas yang lebih rendah karena harga beras naik terus. Esok harinya, porsi lauk mulai mereka kurangi sedikit demi sedikit.
Seminggu kemudian, susu anak hanya masuk daftar belanja apabila masih ada sisa uang. Tidak ada orang tua yang ingin mengambil keputusan seperti itu. Keadaanlah yang memaksa mereka mengubah prioritas.
Keputusan-keputusan kecil tersebut memang tidak pernah muncul dalam laporan ekonomi nasional. Namun, justru dari sanalah wajah sebenarnya krisis mulai terlihat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras medium maupun premium terus meningkat sejak Februari 2026.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Selasa, 04/08/2026, mengatakan,
“Beras medium ini mengalami peningkatan bahkan sejak bulan Februari sampai dengan minggu kelima Juli, beras selalu mengalami peningkatan harganya untuk beras medium dan juga beras premium. Beras medium naik 0,50 persen dan beras premium naik 0,52 persen.”
Rata-rata harga nasional beras medium kini mencapai Rp14.489 per kilogram, naik dari Rp14.417 pada Juni. Sementara itu, harga beras premium meningkat menjadi Rp16.330 per kilogram, dari sebelumnya Rp16.245 per kilogram. Bagi sebagian orang, kenaikan tersebut mungkin terlihat kecil.
Sebaliknya, bagi keluarga yang membeli 20 kilogram beras setiap bulan, tambahan pengeluaran itu mengurangi ruang untuk membeli lauk, susu, atau kebutuhan anak lainnya.
Dapur Selalu Lebih Jujur daripada Grafik Ekonomi
Krisis ekonomi tidak selalu datang dengan antrean panjang atau rak kosong. Sering kali, krisis hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi.
Ada ayah yang membatalkan niat membeli ayam karena uang belanja tinggal sedikit.
Di rumah lain, seorang ibu mencampur beras lama dengan beras kualitas lebih murah agar persediaan bertahan lebih lama.
Sementara itu, anak-anak mulai bertanya mengapa telur kini lebih sering hadir daripada ayam di meja makan.
Tak ada keributan di dapur namun sebaliknya, keluarga terus berkompromi dengan keadaan. Mereka menyesuaikan pengeluaran sedikit demi sedikit sampai perubahan itu terasa menjadi rutinitas baru.
Ironisnya, laporan ekonomi hampir tidak pernah menangkap kisah-kisah sederhana seperti itu. Padahal, justru di dapurlah masyarakat pertama kali merasakan tekanan inflasi yang salah satunyaadalah harga beras naik.
Harga Beras Naik Tidak Pernah Datang Sendirian
Tekanan ekonomi tidak berhenti pada beras. Data BPS menunjukkan harga minyak goreng terus meningkat sejak April hingga Juli 2026. Hingga pekan kelima Juli, rata-rata harga nasional mencapai Rp20.229 per liter. Beberapa wilayah bahkan mengalami lonjakan yang jauh lebih tinggi.
Kabupaten Intan Jaya mencatat harga minyak goreng mencapai Rp60 ribu per liter. Kabupaten Pegunungan Bintang menyusul dengan Rp52.500, sedangkan Kabupaten Puncak Jaya mencapai Rp47 ribu per liter.
Pada saat yang sama, kenaikan harga daging ayam ras mulai meluas ke 110 kabupaten dan kota, meningkat dari sebelumnya 82 daerah.
Rangkaian kenaikan tersebut membuat ruang gerak keluarga semakin sempit.
Banyak orang tua akhirnya memilih mengurangi lauk sebagai solusi tercepat agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi.
Sayangnya, pilihan itu membawa konsekuensi lain. Asupan gizi keluarga ikut berkurang, terutama bagi anak-anak yang sedang berada pada masa pertumbuhan.
Harga Beras Naik, yang Berkurang Bukan Sekadar Isi Piring
Ekonom Universitas Gadjah Mada, Prof. Tony Prasetiantono, dalam berbagai kajian mengenai inflasi pangan, berulang kali mengingatkan bahwa lonjakan harga bahan pokok selalu paling berat dirasakan rumah tangga berpendapatan rendah.
“Inflasi pangan adalah jenis inflasi yang paling menyakitkan karena langsung mengenai kebutuhan dasar masyarakat.”
Almarhum ekonom Faisal Basri juga pernah menggambarkan kondisi tersebut dengan kalimat yang sederhana tetapi sangat kuat.
“Orang kaya mungkin hanya mengurangi tabungan. Orang miskin mengurangi makan.”
Pernyataan itu tetap relevan hingga hari ini. Ketika penghasilan tidak bertambah sementara harga pangan terus naik, keluarga hampir tidak memiliki ruang untuk bernegosiasi.
Bukan keinginan yang mereka kurangi tapi kebutuhan pokoklah yang akhirnya harus mereka pangkas akibat harga beras naik.
Meja Makan Menjadi Tempat Mengambil Keputusan Sulit
Sosiolog Prof. Dr. Imam Prasodjo pernah menjelaskan bahwa keluarga selalu menjadi benteng pertama yang menyerap setiap guncangan ekonomi.
Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas. Pelaku pasar berusaha mempertahankan distribusi. Di sisi lain, keluarga hanya ingin memastikan semua anggota rumah tetap bisa makan.
Setiap kali waktu makan tiba, keputusan ekonomi berubah menjadi pergulatan emosional. Haruskah orang tua tetap membeli susu anak?
Perlukah keluarga mengurangi lauk agar beras cukup hingga akhir bulan? Atau justru biaya sekolah harus menjadi prioritas meski isi dapur semakin sederhana?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah muncul dalam ruang rapat pengendalian inflasi. Namun jutaan orang tua menjawabnya setiap hari, tanpa tepuk tangan dan tanpa sorotan kamera.
Statistik Tidak Pernah Menghitung Kecemasan
BPS juga mencatat jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras meningkat menjadi 155 kabupaten/kota, lebih banyak dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 152 daerah.
Kota Langsa mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,23 persen, disusul Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Kaur, dan Kabupaten Aceh Barat Daya.
Statistik itu memang penting sebagai dasar kebijakan. Sayangnya, angka-angka tersebut tidak pernah menghitung kecemasan orang tua ketika isi dompet semakin menipis.
Laporan resmi pun tidak mencatat rasa bersalah saat keluarga harus mengurangi lauk demi mempertahankan persediaan beras.
Bahkan grafik ekonomi tidak mampu mengukur tatapan seorang anak yang bertanya,
“Bu, kok sekarang ayamnya sedikit?”
Pertanyaan sederhana itu sering kali lebih jujur daripada seluruh tabel inflasi.
Dapur yang Mulai Sunyi Karena Harga Beras Naik
Setiap krisis ekonomi selalu memiliki alamat pertama. Bukan kantor kementerian, Bukan ruang rapat melainkan dapur rumah tangga.
Di tempat itulah setiap kenaikan harga berubah menjadi keputusan yang tidak pernah mudah. Orang tua menghitung kembali isi dompet sebelum berangkat ke pasar.
Daftar belanja mereka sesuaikan dengan kemampuan yang tersisa. Kebutuhan pribadi mereka tunda agar anak-anak tetap memperoleh makanan.
Seluruh pengorbanan itu berlangsung tanpa sorotan. Padahal, pengorbanan tersebut menunjukkan wajah paling nyata dari tekanan ekonomi. Sesungguhnya, yang sedang diuji bukan hanya daya beli masyarakat.
Bangsa ini juga sedang menguji ketahanan keluarga dalam menjaga kualitas hidup di tengah harga pangan yang terus meningkat.
Grafik ekonomi boleh menunjukkan perbaikan. Namun meja makan selalu memperlihatkan keadaan yang sebenarnya.
Di sanalah keluarga merasakan apakah kesejahteraan benar-benar hadir atau hanya menjadi angka dalam laporan. Bangsa yang kuat tidak lahir dari pertumbuhan ekonomi semata.
Bangsa yang kuat tumbuh ketika setiap keluarga masih mampu menyajikan makanan bergizi, membeli susu anak tanpa rasa khawatir, serta menikmati makan malam tanpa dihantui kecemasan terhadap harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.
Sebab ketika dapur mulai kehilangan harapan, kenaikan harga tidak lagi menjadi sekadar persoalan ekonomi.
Kondisi itu mulai mengancam masa depan generasi yang sedang tumbuh di meja makan hari ini. @teguh








