Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pasar Klewer Lesu, Penghasilan Kuli Panggul Terus Menyusut

by eko
Agustus 4, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Pasar Klewer pernah menjadi denyut ekonomi Kota Solo hingga senja tiba. Kini, pembeli terus berkurang dan para kuli panggul ikut kehilangan pekerjaan. Di balik troli yang tetap berdiri, ada manusia yang berjuang mempertahankan martabatnya.

Tabooo.id – Pukul lima sore pernah menjadi waktu yang paling dinanti Djiman. Pada jam itu, Pasar Klewer mencapai puncak keramaiannya. Pedagang masih sibuk melayani pembeli. Mobil bak terbuka keluar masuk membawa barang.

Gulungan kain batik berpindah dari kios ke kendaraan pelanggan. Di tengah kesibukan itu, Djiman terus mendorong trolinya dari satu lorong ke lorong lain. Tubuhnya lelah, tetapi pekerjaannya tidak pernah berhenti.

Hari ini suasananya berbeda. Matahari belum turun sepenuhnya, tetapi lorong pasar sudah mulai lengang. Beberapa pedagang memilih menutup kios lebih awal karena pembeli semakin sedikit. Troli yang dulu hampir tidak pernah berhenti bergerak kini lebih sering terparkir di sudut pasar. Djiman hanya bisa memperhatikan orang-orang yang melintas sambil berharap seseorang memanggilnya.

“Dahulu jam lima sore masih banyak pekerjaan untuk diangkut. Sekarang jam dua belas siang sudah tidak ada barang yang diangkut,” kata Djiman.

Kalimat itu tidak sekadar membandingkan dua waktu. Kalimat itu menggambarkan perubahan yang pelan-pelan mengubah hidupnya.

Hidup dari Keramaian Pasar

Djiman tidak memiliki kios. Ia juga tidak menjual batik seperti pedagang lain. Ia menggantungkan hidup pada tenaga yang ia miliki. Setiap hari ia datang membawa troli dan menunggu orang yang membutuhkan jasanya. Semakin ramai pasar, semakin besar peluangnya memperoleh penghasilan. Sebaliknya, ketika pembeli berkurang, kesempatan bekerja ikut menghilang.

Ini Belum Selesai

Lewat Karnaval, SD Tarakanita Tumbuhkan Kreativitas Anak

Ketika Jadi Camat Berarti Harus Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

Banyak orang melihat pasar hanya sebagai tempat jual beli. Namun Djiman melihat pasar sebagai sumber kehidupan. Setiap pembeli yang datang berarti kesempatan baru. Setiap barang yang berpindah berarti ada uang yang bisa ia bawa pulang. Karena itu, sepinya Pasar Klewer langsung memengaruhi hidupnya.

Menunggu Lebih Berat daripada Mengangkat Barang

Orang sering mengira pekerjaan kuli panggul hanya mengangkat beban. Kenyataannya, pekerjaan paling berat justru menunggu. Djiman menghabiskan sebagian besar harinya dengan berdiri di dekat trolinya. Ia menunggu pedagang membutuhkan bantuan. Ia juga menunggu pembeli yang membawa banyak barang.

Namun, penantian itu sering berakhir tanpa hasil.

“Kalau zaman dahulu ya cukup untuk kebutuhan. Sekarang turun banyak,” ujarnya.

Penghasilannya tidak pernah tetap. Kadang ia membawa pulang Rp20 ribu. Kadang hanya Rp10 ribu. Bahkan, tidak jarang ia hanya memperoleh Rp5 ribu setelah menunggu sejak pagi.

“Pendapatan ya tidak menentu. Kadang Rp5.000, Rp10.000, ada juga Rp20.000 tergantung barang yang diangkut.”

Nominal itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Djiman, angka tersebut menentukan apakah ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya pada hari itu.

Sebuah Troli dan Harga Sebuah Harapan

Troli yang selalu berada di samping Djiman bukan sekadar alat kerja. Ia membeli troli itu dengan harga sekitar Rp1,5 juta ketika mulai menjadi kuli panggul. Saat itu, ia percaya troli tersebut akan menjadi jalan untuk menghidupi keluarga.

Harapan itu pernah menjadi kenyataan. Pasar Klewer selalu ramai. Pekerjaan datang tanpa henti. Djiman pulang dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kini, trolinya masih sama. Rodanya masih berputar. Namun pasar tidak lagi memberi kesempatan seperti dulu. Yang berubah bukan alat kerjanya, melainkan keadaan di sekitarnya.

Ketika Perubahan Zaman Menyentuh Orang Kecil

Perubahan cara masyarakat berbelanja memang membawa banyak kemudahan. Orang bisa membeli barang tanpa harus datang ke pasar. Namun, perubahan itu juga membawa dampak yang jarang terlihat. Semakin sedikit orang datang ke pasar, semakin sedikit pula pekerjaan bagi para kuli panggul.

Djiman tidak pernah menyalahkan siapa pun. Ia hanya berharap keadaan membaik. Ia ingin melihat Pasar Klewer kembali ramai seperti dulu. Ia juga berharap pemerintah menghadirkan solusi agar pasar tradisional kembali menjadi tujuan masyarakat.

Harapan itu bukan sekadar tentang bertambahnya pembeli. Harapan itu berkaitan dengan kesempatan bekerja dan mempertahankan martabat.

Di Balik Troli yang Masih Berdiri

Menjelang magrib, Djiman kembali menggenggam gagang trolinya. Hari itu hampir selesai. Ia belum tahu berapa uang yang akan ia bawa pulang. Namun ia tetap akan datang lagi esok pagi. Ia percaya selalu ada harapan selama pasar masih membuka pintunya.

Banyak orang mengenang Pasar Klewer sebagai pusat batik terbesar di Solo. Djiman mengenangnya sebagai tempat yang pernah memberinya kehidupan. Kini, ia hanya ingin mendengar lagi suara roda troli yang saling bersahutan hingga senja tiba.

Sebab ketika troli berhenti bergerak, yang sesungguhnya kehilangan arah bukan hanya roda besinya. Seorang manusia juga perlahan kehilangan ruang untuk bekerja, berharap, dan merasa bahwa tenaganya masih dibutuhkan. @eko

Tags: Kuli PangulPasar KlewerPekerja AngkutSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

by teguh
Agustus 23, 2026

Di balik 1.012 pusaka yang menurut pengelola Museum keris telah teregistrasi, ada pekerjaan sunyi untuk merawat benda, menjaga cerita, dan...

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

by eko
Agustus 19, 2026

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Miyosaken Gongsa Sekati dan mulai menabuh dua gamelan pusaka untuk membuka rangkaian Sekaten 2026. Tabooo.id...

Viral Pasangan di Balekambang, Pemkot Solo Perketat Patroli Sore

Viral Pasangan di Balekambang, Pemkot Solo Perketat Patroli Sore

by eko
Agustus 17, 2026

Video pasangan diduga berbuat mesum di Balekambang Solo viral. Pemkot memberi teguran dan memperkuat patroli di titik rawan. Tabooo.id: Surakarta...

Next Post
Bau yang Dipermasalahkan, Kemiskinan yang Diabaikan

Bau yang Dipermasalahkan, Kemiskinan yang Diabaikan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id