Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

by eko
Juli 28, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Istilah Londo Ireng kembali viral setelah disebut Presiden Prabowo Subianto. Di balik polemiknya, tersimpan sejarah panjang tentang tentara Afrika di KNIL, kolonialisme, dan perubahan makna sebuah istilah dalam politik Indonesia.

Tabooo.id – Satu pidato mampu membangkitkan kembali istilah yang nyaris hilang dari percakapan publik. Setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut Londo Ireng dalam pidatonya pada puncak Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), media sosial langsung dipenuhi diskusi mengenai asal-usul istilah tersebut.

Sebagian orang menganggapnya sebagai kritik politik. Sebagian lainnya mempertanyakan penggunaannya karena memiliki akar sejarah kolonial yang panjang. Di balik perdebatan itu, banyak orang mulai mencari jawaban atas satu pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya Londo Ireng?

Jawabannya membawa kita kembali ke abad ke-19, ketika Hindia Belanda masih berada di bawah kekuasaan kolonial.

Londo Ireng Lahir dari Masa Penjajahan

Dalam bahasa Jawa, Londo berarti Belanda, sedangkan Ireng berarti hitam. Pada masa kolonial, masyarakat Jawa memakai istilah tersebut untuk menyebut prajurit Afrika yang bertugas sebagai tentara Kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL).

Mereka bukan orang Belanda, tetapi mereka mengenakan seragam Belanda dan bertempur bersama pasukan kolonial. Karena itulah masyarakat menyebut mereka sebagai Londo Ireng atau “Belanda Hitam”.

Ini Belum Selesai

Rumah Dinas Bakorwil: Sejarah Madiun yang Terlupakan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Istilah itu awalnya bukan sekadar ejekan. Sebutan tersebut muncul sebagai cara masyarakat menjelaskan sosok yang mereka lihat berada di pihak penjajah meskipun memiliki warna kulit berbeda dari orang Eropa.

Belanda Kehabisan Pasukan Setelah Perang Jawa

Sejarah Londo Ireng tidak bisa dipisahkan dari Perang Jawa yang berlangsung pada 1825–1830 di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro.

Perang itu menguras keuangan pemerintah kolonial Belanda. Ribuan serdadu tewas dan kemampuan militer Belanda melemah. Pemerintah kolonial kemudian mencari sumber pasukan baru yang mampu bertugas di wilayah beriklim tropis.

Pilihan mereka jatuh kepada Afrika Barat.

Mulai 1831 hingga sekitar 1870, Belanda merekrut ribuan orang dari wilayah Elmina yang kini menjadi bagian dari Ghana. Sebagian berasal dari keluarga Euro-Afrika, sementara sebagian lainnya merupakan bekas budak yang direkrut melalui kerja sama dengan Kerajaan Ashanti.

Belanda memperkirakan para prajurit tersebut lebih mampu bertahan menghadapi iklim tropis dibandingkan tentara Eropa.

Mereka Menjadi Bagian dari Mesin Kolonial

Setelah menyelesaikan pelatihan militer, para prajurit Afrika itu berangkat ke Hindia Belanda dan bergabung dengan KNIL.

Mereka menerima perlengkapan, seragam, serta kedudukan yang setara dengan prajurit Eropa. Mereka tinggal di tangsi militer bersama keluarga dan menjalankan berbagai operasi kolonial di Nusantara.

Pasukan tersebut ikut bertempur dalam sejumlah konflik besar, termasuk Perang Aceh, yang menjadi salah satu perang terpanjang sepanjang sejarah kolonial Belanda.

Bagi masyarakat Nusantara, mereka tetap berada di pihak yang mempertahankan kekuasaan kolonial. Karena itu, istilah Londo Ireng semakin melekat sebagai simbol tentara yang membantu Belanda menghadapi pejuang kemerdekaan.

Salah satu nama yang cukup dikenal dalam sejarah KNIL ialah Jan Kooi, seorang kopral asal Afrika yang memperoleh penghargaan atas jasanya selama berdinas.

Maknanya Kemudian Berubah

Seiring waktu, masyarakat tidak lagi memakai istilah Londo Ireng hanya untuk prajurit Afrika.

Sebagian orang mulai menggunakan istilah itu untuk menyebut orang pribumi yang memilih bergabung dengan KNIL atau berpihak kepada pemerintah kolonial.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti situasi sosial.

Londo Ireng akhirnya tidak lagi menunjuk identitas etnis. Istilah itu berubah menjadi simbol bagi orang yang dianggap berdiri di pihak kekuasaan kolonial dan melawan kepentingan bangsanya sendiri.

Prabowo Menghidupkan Lagi Istilah Itu

Istilah tersebut kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikannya dalam pidato Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center pada 23 Juli 2026.

Sebelum menyebut Londo Ireng, Prabowo menyoroti pemberitaan media yang menurutnya lebih banyak mengangkat sisi negatif dibandingkan berbagai program pembangunan pemerintah.

Ia menegaskan pemerintah tetap menerima kritik sebagai bagian dari demokrasi. Namun, ia juga menyatakan bahwa ada pihak-pihak yang menurutnya lebih memilih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.

Prabowo kemudian menyebut kelompok tersebut sebagai Londo Ireng. Menurutnya, istilah itu merujuk kepada orang-orang yang dahulu berpihak kepada Belanda saat melawan bangsanya sendiri.

Ia bahkan mengatakan bahwa Londo Ireng masih ada hingga sekarang dengan “baju yang berbeda”, lalu menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam konteks tersebut.

Pernyataan itu segera memicu reaksi luas dari organisasi pers, akademisi, pegiat demokrasi, hingga masyarakat umum.

Ketika Sejarah Bertemu Retorika Politik

Penggunaan istilah sejarah dalam pidato politik bukanlah hal baru.

Banyak pemimpin memakai simbol sejarah untuk memperkuat pesan kepada publik. Cara itu membuat gagasan yang rumit terasa lebih dekat karena masyarakat telah mengenal simbol tersebut.

Namun, simbol sejarah juga membawa beban makna yang tidak ringan.

Ketika sebuah istilah memiliki hubungan dengan kolonialisme, pengkhianatan, atau konflik masa lalu, penggunaannya dapat memunculkan tafsir yang berbeda-beda.

Sebagian orang melihat Londo Ireng sebagai metafora politik. Sebagian lainnya menganggap istilah tersebut dapat menciptakan stigma terhadap kelompok tertentu.

Perbedaan tafsir itu menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Sejarah Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Londo Ireng lahir dari pengalaman kolonial hampir dua abad lalu. Istilah itu awalnya menggambarkan prajurit Afrika yang bertugas dalam pasukan KNIL. Waktu kemudian mengubah maknanya menjadi simbol bagi siapa pun yang dianggap berpihak kepada kepentingan asing.

Kini, istilah yang sama kembali hadir dalam ruang politik Indonesia.

Perubahan konteks memang menggeser maknanya, tetapi sejarah tetap menempel pada setiap kata yang diucapkan.

Karena itu, memahami asal-usul Londo Ireng bukan hanya membantu kita membaca masa lalu. Pemahaman tersebut juga memberi konteks saat istilah lama kembali muncul dalam perdebatan politik hari ini.@eko

Tags: DemokrasiLondo IrengprabowoVibes

Kamu Melewatkan Ini

Londo Ireng dan Demokrasi: Saat Kritik Mulai Dipandang sebagai Ancaman

Londo Ireng dan Demokrasi: Saat Kritik Mulai Dipandang sebagai Ancaman

by eko
Juli 28, 2026

Ucapan Presiden Prabowo yang menyebut wartawan "Londo Ireng" memicu aksi protes jurnalis di Solo. Peristiwa ini memunculkan perdebatan tentang kebebasan...

‘Jurnalis Bukan Londo Ireng’, Insan Pers Solo Gelar Aksi Bela Kebebasan Pers

“Jurnalis Bukan Londo Ireng”, Insan Pers Solo Gelar Aksi Bela Kebebasan Pers

by jeje
Juli 28, 2026

Puluhan jurnalis dari berbagai organisasi profesi di Solo Raya turun ke jalan, Selasa (28/7/2026). Mereka menuntut Presiden Prabowo Subianto meminta...

Kita Setara Saat Lapar, Berjarak Saat Kenyang

Kita Setara Saat Lapar, Berjarak Saat Kenyang

by eko
Juli 23, 2026

Mengapa semua orang terlihat setara saat sama-sama lapar? Warteg memperlihatkan bagaimana sekat sosial mencair, lalu kembali muncul setelah makan. Tabooo.id...

Next Post
Sayembara Tangkap Begal, Solusi atau Tanda Negara Kewalahan?

Sayembara Tangkap Begal, Solusi atau Tanda Negara Kewalahan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id