Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

URI: Ambisi Besar dan Dasar Hukum yang Dipersoalkan

by dimas
Juli 28, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Universitas Republik Indonesia (URI) hadir dengan ambisi besar mencetak pemimpin nasional. Namun, sejumlah akademisi mempertanyakan dasar hukum pembentukannya dan menilai pemerintah perlu memberikan kepastian legalitas.

Tabooo.id – Negara memang membutuhkan pemimpin yang tangguh. Namun, negara juga wajib memastikan setiap lembaga yang lahir berdiri di atas fondasi hukum yang jelas. Di sinilah perdebatan mengenai Universitas Republik Indonesia (URI) bermula. Persoalannya bukan sekadar soal kampus baru, melainkan tentang apakah negara boleh menjalankan sebuah institusi sebelum membangun dasar hukumnya.

Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengingatkan bahwa pemerintah belum menunjukkan landasan hukum yang memadai bagi URI. Menurutnya, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan pidato atau pengumuman politik untuk melahirkan sebuah perguruan tinggi. Negara harus lebih dulu menetapkan dasar hukum yang memberikan kepastian bagi seluruh pihak.

Lima Catatan yang Menguji Legalitas URI

Hikmahanto mengajukan sedikitnya lima catatan penting. Pertama, pemerintah belum menerbitkan regulasi yang secara eksplisit mendirikan URI. Berbeda dengan Universitas Pertahanan yang berdiri melalui Peraturan Presiden atau perguruan tinggi berbadan hukum yang memiliki aturan tersendiri, URI hingga kini belum memiliki pijakan normatif yang jelas.

Kedua, pemerintah memilih istilah “gubernur” sebagai pimpinan URI. Pilihan ini menimbulkan pertanyaan karena Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mengenal jabatan rektor sebagai pemimpin perguruan tinggi. Pemerintah tentu memiliki ruang untuk berinovasi, tetapi inovasi tersebut tetap harus bergerak dalam koridor hukum yang berlaku.

Ketiga, pemerintah memasukkan Lembaga Administrasi Negara (LAN) ke dalam struktur URI. Langkah itu memunculkan persoalan baru karena LAN selama ini berdiri sebagai lembaga pemerintah nonkementerian yang memiliki kedudukan, fungsi, dan dasar hukum tersendiri. Integrasi tersebut memerlukan penjelasan hukum yang utuh agar tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan.

Ini Belum Selesai

Londo Ireng dan Demokrasi: Saat Kritik Mulai Dipandang sebagai Ancaman

Universitas Republik Indonesia: Sekolah Negarawan atau Elite Baru?

Keempat, konsep URI lebih menyerupai akademi kepemimpinan daripada universitas dalam pengertian pendidikan tinggi. Pemerintah memang menargetkan URI sebagai tempat mencetak calon pemimpin nasional, tetapi tujuan itu tidak otomatis mengubah definisi universitas yang telah diatur dalam undang-undang.

Kelima, pola pendidikan yang pemerintah rancang memperlihatkan kemiripan dengan akademi militer. Sistem pembinaan, disiplin, dan orientasi kepemimpinan memang dapat menjadi keunggulan. Namun, pemerintah tetap harus menjelaskan posisi URI dalam sistem pendidikan tinggi nasional agar publik memahami status kelembagaannya.

DPR dan Pemerintah Perlu Menjawab Keraguan Publik

Keraguan serupa juga muncul di DPR. Komisi X mengaku belum menerima penjelasan resmi mengenai konsep maupun dasar hukum URI. Karena itu, DPR berencana memanggil Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk memperoleh penjelasan secara terbuka. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembentukan URI tidak hanya menjadi isu akademik, tetapi juga menyangkut fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa URI hadir untuk menyiapkan pemimpin masa depan melalui pendidikan berkualitas, beasiswa penuh, dan kerja sama internasional. Gagasan itu menawarkan visi besar yang layak diapresiasi. Namun, visi besar tidak akan memperoleh legitimasi apabila pemerintah mengabaikan kepastian hukum yang menjadi fondasinya.

Ambisi Besar Harus Berjalan Seiring Negara Hukum

Pada akhirnya, perdebatan mengenai URI bukan sekadar soal nama kampus atau struktur organisasinya. Perdebatan ini menguji konsistensi negara dalam menjalankan prinsip negara hukum. Ketika pemerintah ingin membangun institusi strategis, pemerintah juga harus membangun legitimasi hukumnya dengan ketelitian yang sama.

Indonesia mungkin membutuhkan sekolah kepemimpinan kelas dunia. Namun, kebutuhan itu tidak boleh menggeser prinsip dasar bahwa setiap kebijakan negara harus berangkat dari hukum, bukan sebaliknya. Sebab, hukum seharusnya menjadi fondasi kekuasaan, bukan sekadar pelengkap setelah kekuasaan mengambil keputusan. @dimas

Tags: Dasar HukumUniversitas Republik IndonesiaURI

Kamu Melewatkan Ini

Universitas Republik Indonesia: Sekolah Negarawan atau Elite Baru?

Universitas Republik Indonesia: Sekolah Negarawan atau Elite Baru?

by dimas
Juli 27, 2026

Universitas Republik Indonesia (URI) digagas sebagai sekolah calon pemimpin nasional. Namun, mampukah URI mencetak negarawan, atau justru melahirkan elite baru...

Universitas Republik Indonesia: Solusi Pendidikan atau Ambisi Kekuasaan?

Universitas Republik Indonesia: Solusi Pendidikan atau Ambisi Kekuasaan?

by dimas
Juli 24, 2026

Pemerintah membentuk Universitas Republik Indonesia (URI) untuk mencetak pemimpin masa depan. Namun, benarkah kampus baru ini menjadi solusi pendidikan, atau...

URI Diuji: Cetak Negarawan atau Wariskan Kekuasaan?

URI Diuji: Cetak Negarawan atau Wariskan Kekuasaan?

by dimas
Juli 23, 2026

Universitas Republik Indonesia hadir sebagai sekolah kepemimpinan nasional dengan harapan melahirkan negarawan. Mampukah memutus regenerasi elite lama, atau justru menjadi...

Next Post
Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id