Sate kere bukan hanya soal rasa. Setiap tusuknya menyimpan cerita tentang kelas sosial, kemiskinan, dan kecerdikan masyarakat yang menolak menyerah pada keadaan. Dari makanan rakyat kecil, sate kere tumbuh menjadi identitas kuliner yang kini dibanggakan Solo.
Tabooo.id — Bau arang yang membakar sate selalu mengundang lapar. Namun, tidak semua tusuk sate lahir dari kemewahan. Di Solo, ada satu hidangan yang justru lahir dari rasa lapar itu sendiri. Namanya sate kere.
“Kere” dalam bahasa Jawa berarti miskin. Nama itu bukan sekadar identitas kuliner, melainkan pengakuan jujur terhadap realitas sosial yang pernah membentuknya. Di balik setiap tusuk sate kere, tersimpan kisah tentang masyarakat yang dipaksa hidup di pinggir kemakmuran, tetapi menolak kehilangan martabatnya.
Ini bukan sekadar makanan tradisional. Ini adalah sejarah tentang bagaimana kemiskinan berubah menjadi kreativitas.
Aroma Sate yang Tak Pernah Dimiliki Semua Orang
Pada masa kolonial Hindia Belanda, daging sapi menjadi simbol status sosial. Kaum kolonial, bangsawan, dan kelompok elite menikmati sate berbahan daging terbaik, sementara masyarakat kecil hanya bisa mencium aromanya dari kejauhan. Ketimpangan ekonomi membuat protein hewani menjadi barang mewah yang hampir mustahil dijangkau rakyat biasa.
Namun, keterbatasan tidak menghentikan mereka untuk menciptakan alternatif.
Masyarakat Surakarta mengolah ampas tahu menjadi tempe gembus dan memanfaatkan jeroan sapi yang kalangan berada anggap tidak bernilai. Mereka meracik keduanya dengan bumbu rempah, memasaknya menggunakan teknik bacem, menusukkannya ke bambu, lalu memanggangnya di atas bara arang hingga menghasilkan aroma yang mampu menyaingi sate daging.
Dari situlah sate kere lahir.
Ketika Kemiskinan Melahirkan Perlawanan
Yang menarik, sate kere bukan sekadar solusi atas kelaparan. Hidangan ini menjadi bentuk perlawanan sosial yang sunyi. Ketika masyarakat miskin tidak mampu membeli daging, mereka menciptakan pengalaman kuliner yang serupa menggunakan bahan yang dianggap limbah.
Mereka tidak sedang meniru kaum elite.
Mereka sedang membuktikan bahwa kenikmatan tidak selalu ditentukan oleh harga.
Ilmu di Balik Sepotong Tempe Gembus
Di balik kesederhanaannya, proses pembuatan sate kere justru menyimpan ilmu pangan yang tidak sederhana.
Bahan utamanya, tempe gembus, berasal dari ampas tahu yang melalui proses fermentasi menggunakan jamur Rhizopus oligosporus atau Rhizopus oryzae. Fermentasi ini mengubah limbah kedelai menjadi sumber protein dengan tekstur lembut dan pori-pori yang mampu menyerap bumbu secara maksimal. Tahapan produksi dilakukan melalui pengepresan, pengukusan, inokulasi ragi, hingga fermentasi selama sekitar 30–50 jam agar menghasilkan kualitas terbaik.
Proses berikutnya sama telitinya.
Prosesnya tidak sesederhana menusuk lalu membakar. Para pembuat sate kere merebus jeroan sapi berkali-kali bersama jahe, daun salam, dan rempah untuk menaklukkan aroma khasnya. Mereka lalu membacem jeroan dan tempe gembus dalam perpaduan gula merah, kecap manis, ketumbar, kemiri, lengkuas, serai, dan air kelapa hingga bumbu meresap ke setiap pori. Setelah itu, bara arang mengambil alih. Bara arang menyempurnakan setiap tusuk sate dengan lapisan karamel dan aroma asap yang khas. Perpaduan itulah yang membuat sate kere terus dikenang, meski statusnya sebagai makanan rakyat kecil telah lama berubah.
Dari Makanan Orang Miskin Menjadi Ikon Solo
Ironisnya, makanan yang dulu menjadi simbol kemiskinan kini justru menjadi salah satu ikon kuliner Solo.
Wisatawan sengaja datang untuk mencarinya. Banyak tokoh nasional turut mengenalkannya sebagai bagian dari identitas kuliner Jawa. Sate kere telah berpindah kelas sosial. Dari makanan rakyat kecil menjadi sajian yang hadir dalam festival kuliner hingga jamuan resmi.
Tetapi perubahan status itu menyisakan pertanyaan.
Apakah kita masih mengingat cerita di balik rasanya?
Bukan Sekadar Resep, Melainkan Ingatan
Banyak orang mengenal sate kere sebagai kuliner legendaris. Tidak banyak yang menyadari bahwa setiap tusuknya menyimpan jejak ketimpangan ekonomi, kreativitas masyarakat, dan kemampuan budaya Jawa mengubah keterbatasan menjadi warisan.
Di meja makan, sate kere mungkin hanya tampak sebagai hidangan sederhana. Namun, sejarah mencatatnya sebagai bukti bahwa masyarakat selalu menemukan cara untuk bertahan ketika kelas sosial membatasi akses mereka terhadap pangan. Mereka mengubah keterbatasan menjadi kreativitas, lalu mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada akhirnya, sebuah peradaban tidak hanya meninggalkan jejak lewat hidangan paling mewah, tetapi juga melalui makanan yang berhasil mengubah keterbatasan menjadi identitas dan kebanggaan. @anisa






