Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Negara Tidak Kekurangan ASN, Bagaimana Hasil Kerjanya?

by teguh
Juli 17, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Jam delapan pagi mesin fingerprint ASN berbunyi. Siang meja kopi penuh. Sore mesin fingerprint berbunyi lagi. Lalu pelayanan publik berjalan seperti siput yang diminta ikut lomba lari.

Tabooo.id – Ketika Ketua Komisi II DPR sendiri menyebut mentalitas sebagian ASN masih sebatas “ngabsen, pulang, ngopi, sore ngabsen lagi”, persoalannya bukan lagi soal disiplin individu. Ini alarm bahwa birokrasi Indonesia masih lebih sibuk mencatat kehadiran daripada menghasilkan pelayanan.

Mesin Fingerprint Rajin, Pelayanan Belum Tentu

Kalimat Ketua Komisi II DPR RI, M. Rifqinizamy Karsayuda, dalam rapat kerja bersama Menteri PANRB Rini Widyantini pada Rabu, 15/07/2026, terdengar seperti lelucon. Masalahnya, publik tidak sedang tertawa.

“Mentalitas sumber daya manusianya enggak berubah, masih ngabsen, pulang, ngopi, sore ngabsen lagi.”

Kalimat itu bukan datang dari netizen yang sedang marah di media sosial. Bukan pula dari aktivis antikorupsi. Kritik itu muncul dari Ketua Komisi II DPR yang membidangi pemerintahan.

Lebih tajam lagi, Rifqi mempertanyakan mengapa pegawai swasta mampu hidup dalam kompetisi, sementara sebagian ASN masih menikmati zona nyaman.

“Coba kita pikirin deh di swasta orang bisa kompetitif kok pegawai negeri ASN enggak bisa kompetitif.”

Masalahnya Bukan Jumlah ASN. Tapi Sistem yang Sulit Menghukum yang Tidak Bekerja.

Indonesia memiliki jutaan ASN tapi Ironisnya, keluhan pelayanan publik masih muncul hampir setiap hari.

Ini Belum Selesai

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Bukan karena semuanya buruk Justru karena sistem sering kali gagal membedakan siapa yang bekerja keras dan siapa yang hanya hadir secara administratif.

Itulah sebabnya Komisi II DPR mendorong revisi UU ASN. Fokusnya sederhana tetapi sensitif yaitu ASN harus memiliki KPI (Key Performance Indicator) yang jelas.

Kalau target tercapai, karier berkembang tapi Kalau gagal terus, ada konsekuensi.

“Bagus kita pertahankan, enggak bagus ya out,” kata Rifqinizamy dalam rapat kerja DPR, Rabu (15/07/2026).

Kalimat “ya out” mungkin terdengar keras Namun bagi masyarakat yang setiap hari mengantre pelayanan publik, itu justru terdengar seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditunda.

Reformasi Birokrasi Naik. Tapi Kenapa Keluhan Tidak Ikut Turun?

Di forum yang sama, Menteri PANRB Rini Widyantini melaporkan sejumlah indikator birokrasi mengalami peningkatan.

Nilai Reformasi Birokrasi Nasional naik menjadi 73,37 pada 2025 dari 71,92 pada 2024. Indeks Kepuasan Masyarakat juga meningkat menjadi 89,45.

Namun Rini mengakui bahwa nilai SAKIP masih belum memuaskan.

“SAKIP instansi pemerintah itu memang masih skornya masih tidak terlalu baik,” ujar Rini Widyantini dalam rapat kerja DPR, Rabu (15/07/2026).

Angka memang penting Tetapi masyarakat lebih mudah mengingat pengalaman mengurus KTP daripada membaca laporan indeks birokrasi.

Pengamat Kebijakan Publik: KPI Harus Adil, Bukan Sekadar Alat Menghukum

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, dalam berbagai kajiannya mengenai reformasi birokrasi, menegaskan bahwa sistem evaluasi ASN memang harus berbasis kinerja, tetapi indikatornya wajib objektif, terukur, dan tidak membuka ruang subjektivitas pimpinan.

Menurutnya, reformasi birokrasi tidak cukup berhenti pada digitalisasi administrasi. Budaya kerja dan akuntabilitas harus ikut berubah.

Akademisi: Budaya Organisasi Lebih Sulit Diubah daripada Aturan

Guru Besar Administrasi Publik Universitas Indonesia, Eko Prasojo, berulang kali menekankan dalam berbagai forum reformasi birokrasi bahwa tantangan terbesar ASN bukan sekadar regulasi, melainkan budaya organisasi yang selama puluhan tahun terbentuk.

Menurut Eko, sistem merit hanya akan berhasil apabila promosi, penghargaan, dan sanksi benar-benar berbasis kinerja, bukan senioritas atau kedekatan.

Sosiolog: Zona Nyaman Bisa Menjadi Budaya Kolektif

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, dalam berbagai diskusi mengenai budaya birokrasi menjelaskan bahwa organisasi publik dapat mengalami “normalisasi perilaku”. Ketika lingkungan menganggap produktivitas rendah sebagai sesuatu yang biasa, kebiasaan itu perlahan berubah menjadi budaya.

Akibatnya, pegawai rajin justru terlihat tidak biasa. Sedangkan pegawai pasif menjadi standar baru.

Yang Sebenarnya Sedang Terjadi

Ini bukan sekadar cerita tentang ASN yang suka ngopi Ini tentang sistem yang terlalu lama menganggap kehadiran sama berharganya dengan kinerja.

Fingerprint berhasil mencatat jam masuk. Tetapi belum tentu berhasil mencatat kontribusi.

Kalau ukuran sukses birokrasi hanya “hadir”, maka mesin absensi memang sudah sangat modern. Sayangnya, pelayanan publik belum tentu ikut modern.

Kenapa Kamu Perlu Peduli?

Kalau revisi UU ASN benar-benar menghadirkan KPI yang objektif, masyarakat berpotensi memperoleh pelayanan yang lebih cepat, lebih profesional, dan lebih akuntabel.

Sebaliknya, jika perubahan hanya berhenti pada revisi aturan tanpa mengubah budaya kerja, publik akan kembali menyaksikan siklus lama yaitu Datang, Absen, Ngopi, Pulang Lalu tahun depan kembali membahas reformasi birokrasi.

Akhirnya, Pertanyaannya?

Negara tidak kekurangan pegawai dan Negara juga tidak kekurangan aturan. Yang masih langka adalah budaya merasa tidak nyaman ketika menerima gaji tanpa memberi hasil.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak datang ke kantor pemerintah untuk melihat siapa yang paling rajin absen tapi rakyat datang untuk mendapatkan pelayanan.

Dan pelayanan tidak pernah lahir dari sidik jari di mesin fingerprint. Pelayanan lahir dari orang-orang yang merasa pekerjaannya adalah amanah, bukan sekadar rutinitas.

Mesin fingerprint tidak pernah telat bekerja. Ironisnya, kadang manusianya yang masih loading. @teguh

Tags: Aparatur Sipil NegaraASN IndonesiaDPR-RIGood GovernanceIndonesia MajuKinerja ASNKomisi IIKPI ASNMenteri PANRBPelayanan MasyarakatReformasi ASNReformasi BirokrasiRifqinizamyRini WidyantiniSatir PolitikUU ASN

Kamu Melewatkan Ini

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

by teguh
Juli 17, 2026

Indonesia akhirnya memulai pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela setelah menunggu hampir tiga dekade. Kabar itu memang layak disambut. Namun satu...

Kipas Anginnya Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

by teguh
Juli 17, 2026

Di era media sosial, satu tangkapan layar bisa memicu kegaduhan nasional sebelum pemerintah sempat membuka konferensi pers. Itulah yang terjadi...

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

by dimas
Juli 17, 2026

Kompetensi atau koneksi, mana yang menentukan masa depan Indonesia? Meritokrasi menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045, bukan patronase dan kedekatan...

Next Post
AI Belum Menggantikan Manusia, Tapi Mengubah Cara Kerja

AI Belum Menggantikan Manusia, Tapi Mengubah Cara Kerja

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id