Laporan ILO mengungkap AI generatif belum menggantikan manusia di dunia kerja, tetapi mulai mengubah cara bekerja, kompetensi, dan masa depan tenaga kerja di ASEAN.
Tabooo.id – Bayangan tentang kecerdasan buatan (AI) yang mengambil seluruh pekerjaan manusia selama ini lebih sering hadir dalam film fiksi ilmiah daripada kenyataan. Namun, ancaman terbesar mungkin tidak datang lewat gelombang pemutusan hubungan kerja. AI justru mengubah cara manusia bekerja secara perlahan, nyaris tanpa disadari.
Banyak orang masih memperdebatkan apakah AI akan menggantikan manusia. Sementara itu, dunia kerja sudah bergerak lebih dulu. Yang berubah bukan jumlah pekerjanya, melainkan isi pekerjaannya.
Organisasi Buruh Internasional (ILO) menegaskan perubahan itu melalui laporan Generative AI and Labour Markets in ASEAN: Significant Exposure, Limited Disruption, Uneven Preparedness. Hingga pertengahan 2026, AI generatif memang belum memicu disrupsi besar di pasar kerja Asia Tenggara. Namun, teknologi ini mulai mengubah cara berbagai profesi menjalankan pekerjaannya.
ILO mencatat sekitar 22,9 persen tenaga kerja ASEAN atau hampir 80 juta orang bekerja pada sektor yang terpapar AI generatif. Dari jumlah itu, hanya 3,3 persen atau sekitar 11,7 juta pekerja yang menghadapi tingkat paparan tertinggi. Sebaliknya, sekitar 67 persen pekerja masih berada pada sektor dengan paparan AI yang rendah.
Temuan itu menunjukkan satu fakta penting. AI belum menggantikan manusia. AI justru mengambil alih pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang.
Pergeseran yang Berlangsung Senyap
AI mulai mengubah pekerjaan administratif, pengolahan data, layanan profesional, dan sektor digital. Banyak tugas yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit.
Perubahan itu ikut menggeser standar kompetensi tenaga kerja. Perusahaan kini lebih menghargai kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, berkolaborasi, dan menciptakan inovasi daripada sekadar menyelesaikan pekerjaan rutin.
Karena itu, tantangan utama bukan lagi pertanyaan apakah AI akan mengambil pekerjaan manusia. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana manusia mempertahankan nilai yang tidak dapat digantikan mesin.
ILO juga mencatat Singapura sebagai negara ASEAN dengan tingkat paparan AI tertinggi, yaitu 42,2 persen dari total lapangan kerja. Filipina menyusul dengan 28,1 persen, Indonesia 21,7 persen, Vietnam 20,8 persen, dan Thailand 20,6 persen. Dominasi sektor jasa berbasis pengetahuan membuat negara-negara tersebut lebih cepat merasakan dampak AI.
Generasi Muda Menjadi Ujian Pertama
AI lebih dulu memengaruhi pekerja yang baru memasuki dunia kerja.
ILO menemukan perusahaan di Filipina dan Thailand mulai mengurangi lowongan administrasi tingkat awal. AI kini mampu menyelesaikan sebagian tugas yang sebelumnya dikerjakan pegawai pemula. Akibatnya, lulusan baru menghadapi persaingan yang semakin ketat untuk memperoleh pengalaman kerja pertama.
Ironisnya, generasi yang paling akrab dengan teknologi justru menghadapi tantangan paling awal. Mereka bukan kalah pintar dari AI. Mereka harus menyesuaikan diri karena pintu masuk menuju dunia kerja mulai berubah.
AI Berpotensi Memperlebar Kesenjangan
Economic Affairs Officer UN ESCAP, Michal M. Podolski, menilai ancaman terbesar AI bukan terletak pada hilangnya pekerjaan. Menurutnya, AI dapat memperlebar jarak antara kelompok yang mampu memanfaatkan teknologi dan mereka yang tertinggal.
UMKM, pekerja informal, serta masyarakat dengan akses digital terbatas menghadapi risiko paling besar. Tanpa peningkatan keterampilan dan perlindungan sosial, kelompok tersebut akan semakin sulit mengikuti perubahan.
Peneliti Lirneasia, Gayani Hurulle, juga mengingatkan bahwa kondisi saat ini belum bersifat permanen. Kemampuan AI berkembang sangat cepat. Pekerjaan yang masih aman hari ini bisa berubah dalam beberapa tahun ke depan.
Indonesia Memilih Beradaptasi
Indonesia tidak memilih menjadi penonton.
Pemerintah resmi bergabung sebagai salah satu dari 29 negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) melalui penandatanganan di Shanghai pada 16 Juli 2026.
Keikutsertaan itu menunjukkan komitmen Indonesia untuk memperkuat tata kelola AI nasional. Pemerintah juga ingin memperluas kerja sama internasional sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia di era kecerdasan buatan.
Langkah tersebut menegaskan bahwa persaingan AI tidak lagi sebatas pengembangan teknologi. Persaingan kini mencakup kualitas regulasi, kesiapan tenaga kerja, dan kemampuan negara membangun ekosistem digital.
Ini Bukan Sekadar Soal AI
Yang berubah bukan hanya mesin.
Yang berubah adalah cara dunia menilai nilai seorang pekerja.
Semakin banyak tugas rutin dapat diotomatisasi. Sebaliknya, kreativitas, empati, kemampuan berpikir kritis, dan kolaborasi menjadi kompetensi yang semakin bernilai.
Mungkin ketakutan terbesar bukanlah AI mengambil pekerjaan manusia.
Ketakutan terbesar adalah ketika manusia menolak berubah, sementara pekerjaannya sudah berubah lebih dulu. @dimas







