Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

AI Belum Menggantikan Manusia, Tapi Mengubah Cara Kerja

by dimas
Juli 17, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Laporan ILO mengungkap AI generatif belum menggantikan manusia di dunia kerja, tetapi mulai mengubah cara bekerja, kompetensi, dan masa depan tenaga kerja di ASEAN.

Tabooo.id – Bayangan tentang kecerdasan buatan (AI) yang mengambil seluruh pekerjaan manusia selama ini lebih sering hadir dalam film fiksi ilmiah daripada kenyataan. Namun, ancaman terbesar mungkin tidak datang lewat gelombang pemutusan hubungan kerja. AI justru mengubah cara manusia bekerja secara perlahan, nyaris tanpa disadari.

Banyak orang masih memperdebatkan apakah AI akan menggantikan manusia. Sementara itu, dunia kerja sudah bergerak lebih dulu. Yang berubah bukan jumlah pekerjanya, melainkan isi pekerjaannya.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) menegaskan perubahan itu melalui laporan Generative AI and Labour Markets in ASEAN: Significant Exposure, Limited Disruption, Uneven Preparedness. Hingga pertengahan 2026, AI generatif memang belum memicu disrupsi besar di pasar kerja Asia Tenggara. Namun, teknologi ini mulai mengubah cara berbagai profesi menjalankan pekerjaannya.

ILO mencatat sekitar 22,9 persen tenaga kerja ASEAN atau hampir 80 juta orang bekerja pada sektor yang terpapar AI generatif. Dari jumlah itu, hanya 3,3 persen atau sekitar 11,7 juta pekerja yang menghadapi tingkat paparan tertinggi. Sebaliknya, sekitar 67 persen pekerja masih berada pada sektor dengan paparan AI yang rendah.

Temuan itu menunjukkan satu fakta penting. AI belum menggantikan manusia. AI justru mengambil alih pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

Pergeseran yang Berlangsung Senyap

AI mulai mengubah pekerjaan administratif, pengolahan data, layanan profesional, dan sektor digital. Banyak tugas yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

Perubahan itu ikut menggeser standar kompetensi tenaga kerja. Perusahaan kini lebih menghargai kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, berkolaborasi, dan menciptakan inovasi daripada sekadar menyelesaikan pekerjaan rutin.

Karena itu, tantangan utama bukan lagi pertanyaan apakah AI akan mengambil pekerjaan manusia. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana manusia mempertahankan nilai yang tidak dapat digantikan mesin.

ILO juga mencatat Singapura sebagai negara ASEAN dengan tingkat paparan AI tertinggi, yaitu 42,2 persen dari total lapangan kerja. Filipina menyusul dengan 28,1 persen, Indonesia 21,7 persen, Vietnam 20,8 persen, dan Thailand 20,6 persen. Dominasi sektor jasa berbasis pengetahuan membuat negara-negara tersebut lebih cepat merasakan dampak AI.

Generasi Muda Menjadi Ujian Pertama

AI lebih dulu memengaruhi pekerja yang baru memasuki dunia kerja.

ILO menemukan perusahaan di Filipina dan Thailand mulai mengurangi lowongan administrasi tingkat awal. AI kini mampu menyelesaikan sebagian tugas yang sebelumnya dikerjakan pegawai pemula. Akibatnya, lulusan baru menghadapi persaingan yang semakin ketat untuk memperoleh pengalaman kerja pertama.

Ironisnya, generasi yang paling akrab dengan teknologi justru menghadapi tantangan paling awal. Mereka bukan kalah pintar dari AI. Mereka harus menyesuaikan diri karena pintu masuk menuju dunia kerja mulai berubah.

AI Berpotensi Memperlebar Kesenjangan

Economic Affairs Officer UN ESCAP, Michal M. Podolski, menilai ancaman terbesar AI bukan terletak pada hilangnya pekerjaan. Menurutnya, AI dapat memperlebar jarak antara kelompok yang mampu memanfaatkan teknologi dan mereka yang tertinggal.

UMKM, pekerja informal, serta masyarakat dengan akses digital terbatas menghadapi risiko paling besar. Tanpa peningkatan keterampilan dan perlindungan sosial, kelompok tersebut akan semakin sulit mengikuti perubahan.

Peneliti Lirneasia, Gayani Hurulle, juga mengingatkan bahwa kondisi saat ini belum bersifat permanen. Kemampuan AI berkembang sangat cepat. Pekerjaan yang masih aman hari ini bisa berubah dalam beberapa tahun ke depan.

Indonesia Memilih Beradaptasi

Indonesia tidak memilih menjadi penonton.

Pemerintah resmi bergabung sebagai salah satu dari 29 negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) melalui penandatanganan di Shanghai pada 16 Juli 2026.

Keikutsertaan itu menunjukkan komitmen Indonesia untuk memperkuat tata kelola AI nasional. Pemerintah juga ingin memperluas kerja sama internasional sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia di era kecerdasan buatan.

Langkah tersebut menegaskan bahwa persaingan AI tidak lagi sebatas pengembangan teknologi. Persaingan kini mencakup kualitas regulasi, kesiapan tenaga kerja, dan kemampuan negara membangun ekosistem digital.

Ini Bukan Sekadar Soal AI

Yang berubah bukan hanya mesin.

Yang berubah adalah cara dunia menilai nilai seorang pekerja.

Semakin banyak tugas rutin dapat diotomatisasi. Sebaliknya, kreativitas, empati, kemampuan berpikir kritis, dan kolaborasi menjadi kompetensi yang semakin bernilai.

Mungkin ketakutan terbesar bukanlah AI mengambil pekerjaan manusia.

Ketakutan terbesar adalah ketika manusia menolak berubah, sementara pekerjaannya sudah berubah lebih dulu. @dimas

Tags: Ai GeneratifDunia KerjaKecerdasan BuatanPasar Kerja AseanTransformasi Digital

Kamu Melewatkan Ini

Gelombang PHK dan Memudarnya Rasa Aman Pekerja

Gelombang PHK dan Memudarnya Rasa Aman Pekerja

by dimas
Juli 17, 2026

Gelombang PHK yang kembali meningkat memicu memudarnya rasa aman pekerja. Di tengah sulitnya mencari kerja, ketidakpastian pasar tenaga kerja kian...

Inflasi Cumlaude: Kenapa Nalar Kritis Justru Langka?

Inflasi Cumlaude: Kenapa Nalar Kritis Justru Langka?

by Waras
Juni 3, 2026

Dunia kerja sedang menghadapi paradoks baru: lulusan cumlaude semakin banyak, tapi perusahaan justru makin sulit menemukan orang yang benar-benar siap...

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

by dimas
Juni 3, 2026

Sekolah atau pabrik pekerja? Mengupas bagaimana pendidikan modern lebih menekankan kepatuhan daripada kemampuan berpikir kritis di tengah perubahan dunia kerja....

Next Post
Herujuwono: Ketika Pers, Buruh, dan Senjata Melawan Kolonialisme

Herujuwono: Ketika Pers, Buruh, dan Senjata Melawan Kolonialisme

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id