Tawa publik mengiringi perseteruan Polri dan Kejaksaan. Satire di media sosial mencerminkan menipisnya kepercayaan pada penegakan hukum.
Tabooo.id – Dulu publik marah ketika aparat penegak hukum saling berhadapan. Kini, publik justru membuat meme.
Perseteruan antara penyidik tindak pidana korupsi Polri dan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) bukan hanya mengguncang ruang hukum. Konflik itu juga menguasai linimasa media sosial. Namun, perhatian publik tidak berhenti pada substansi kasus. Sebaliknya, banyak orang justru menikmati dramanya.
“Lebih seru dari Piala Dunia.”
“Kira-kira nabung berapa lama buat beli emas 74 kilogram?”
Candaan seperti itu memenuhi media sosial. Netizen mengubah temuan puluhan kilogram emas dan uang ratusan miliar rupiah menjadi meme. Mereka bahkan menyamakan konflik itu dengan serial kriminal yang terus berganti pemeran.
Lucu?
Ya.
Namun, di balik tawa itu tersimpan kegelisahan yang jauh lebih serius.
Publik Tidak Kehilangan Kepedulian
Publik masih mengikuti setiap perkembangan. Mereka membaca berita, mengomentari setiap konferensi pers, lalu membagikan potongan video ke berbagai platform. Namun, mereka tidak lagi percaya bahwa konflik semacam ini benar-benar melahirkan perubahan.
Karena itu, mereka memilih tertawa.
Tawa akhirnya berubah menjadi cara paling mudah untuk menghadapi rasa kecewa yang terus berulang.
Dari Ruang Sidang ke Linimasa
Dulu redaktur menentukan berita utama.
Kini algoritma menentukan apa yang muncul di layar jutaan orang.
Akibatnya, konflik menjadi komoditas paling laris. Kemarahan menghasilkan komentar. Sindiran memancing interaksi. Sementara itu, ironi membuat orang terus membagikan konten.
Logika media sosial memang bekerja seperti itu.
Platform digital mengejar engagement, bukan kualitas diskusi.
Karena itu, pertarungan antarlembaga penegak hukum berubah menjadi tontonan yang terus berputar di layar gawai.
Ketika Realitas Menjadi Pertunjukan
Filsuf Guy Debord pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai society of the spectacle. Dalam masyarakat seperti itu, orang tidak lagi sekadar mengalami realitas. Mereka mengonsumsi realitas sebagai hiburan.
Fenomena itu terlihat jelas hari ini.
Konflik aparat tidak lagi berhenti sebagai berita.
Netizen mengubahnya menjadi meme.
Konten kreator memotongnya menjadi video pendek.
Influencer menjadikannya bahan komentar.
Selanjutnya, algoritma menyebarkan semuanya dengan kecepatan yang sulit dikendalikan.
Akhirnya, krisis kelembagaan berubah menjadi hiburan nasional.
Humor Menjadi Bahasa Kritik
Sebagian orang menganggap humor sebagai tanda bahwa masyarakat tidak peduli.
Padahal justru sebaliknya.
Humor sering menjadi bentuk kritik yang paling aman.
Melalui satire, publik bisa menyampaikan kemarahan tanpa harus berhadapan langsung dengan kekuasaan. Selain itu, candaan membuat kritik terasa lebih mudah diterima.
Namun, humor juga menyimpan risiko.
Jika masyarakat terlalu sering menertawakan penyimpangan, mereka bisa menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang biasa.
Di titik itulah bahaya mulai muncul.
Kepercayaan Mulai Terkikis
Konflik ini bukan sekadar soal siapa yang benar.
Konflik ini juga menyangkut kepercayaan publik terhadap institusi.
Ketika masyarakat lebih percaya komentar netizen daripada penjelasan resmi, masalahnya bukan lagi komunikasi publik.
Masalahnya adalah legitimasi.
Dalam ilmu politik, kondisi itu dikenal sebagai legitimacy deficit.
Institusi memang masih memiliki kewenangan hukum. Namun, mereka mulai kehilangan kewibawaan moral.
Kepercayaan publik perlahan bergeser dari ruang resmi menuju ruang digital.
Perseteruan yang Lebih Besar dari yang Terlihat
Banyak orang melihat konflik ini sebagai pertarungan personal antarpetinggi lembaga.
Namun, persoalannya jauh lebih kompleks.
Undang-undang memberi ruang bagi beberapa institusi untuk menangani perkara korupsi. Akan tetapi, regulasi belum menyediakan mekanisme koordinasi yang benar-benar kuat.
Akibatnya, gesekan mudah terjadi.
Karena itu, konflik seperti sekarang bukan lagi kejadian yang mengejutkan.
Sebaliknya, konflik itu menjadi konsekuensi dari desain kelembagaan yang belum selesai dibenahi.
Bahkan, sebagian pengamat melihat kemungkinan adanya pertarungan kepentingan yang lebih besar di balik layar.
Jika dugaan itu benar, maka publik hanya menyaksikan permukaannya.
Presiden Menghadapi Ujian Besar
Situasi seperti ini tidak cukup diselesaikan melalui konferensi pers.
Tidak cukup pula dengan saling membantah.
Jika tidak, konflik serupa akan terus berulang.
Nama tokohnya mungkin berubah.
Lembaganya mungkin berganti.
Namun, ceritanya akan tetap sama.
Ini Bukan Sekadar Drama
Temuan emas puluhan kilogram memang mengejutkan.
Perseteruan dua institusi memang menyita perhatian.
Namun, persoalan sebenarnya jauh lebih besar.
Konflik ini memperlihatkan rapuhnya hubungan antara negara dan kepercayaan publik.
Ketika rakyat lebih memilih tertawa daripada berharap, negara perlu membaca pesan itu dengan serius.
Sebab, tawa bukan selalu tanda bahagia.
Sering kali, tawa menjadi cara terakhir masyarakat menyembunyikan rasa putus asa.
Dan ketika rasa putus asa berubah menjadi kebiasaan, negara tidak hanya kehilangan wibawa.
Negara juga kehilangan kepercayaan rakyatnya. @dimas







