TABOOO Book Club menghadirkan bedah buku Banteng Terakhir Kasultanan Yogyakarta, menghubungkan literasi, sejarah, dan dialog budaya di Madiun.
Tabooo.id – Di tengah derasnya arus konten digital yang bergerak serba cepat, puluhan anak muda justru memilih berkumpul untuk membaca, berdiskusi, dan menguji gagasan. Mereka memenuhi Balai Kelurahan Winongo, Kota Madiun, pada Selasa (7/7/2026) malam dalam gelaran TABOOO Book Club. Melalui forum ini, Tabooo Network Indonesia mempertemukan literasi, sejarah, dan budaya dalam satu ruang dialog sebagai bagian dari rangkaian TABOOO Cultural Production.
Panitia menghadirkan Akhlis Syamsal Qomar, penulis buku Banteng Terakhir Kasultanan Yogyakarta, sebagai narasumber utama. Selain itu, panitia juga mengundang Septian, sejarawan sekaligus Ketua Historia Van Madiun (HVM), untuk memperkaya pembahasan melalui perspektif sejarah dan budaya lokal.
Nasionalisme Menjadi Pesan Utama
Dalam pemaparannya, Akhlis menegaskan bahwa salah satu nilai terbesar yang diwariskan Raden Ronggo adalah semangat nasionalisme. Menurutnya, Raden Ronggo mampu membangun persatuan dengan merangkul masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Salah satu nilai yang bisa diambil dari Raden Ronggo adalah nasionalismenya. Beliau mampu mengajak berbagai kelompok masyarakat, khususnya etnis Tionghoa. Padahal, dalam beberapa babak sejarah Indonesia hubungan dengan etnis Tionghoa pernah mengalami persoalan, termasuk tragedi 1998. Kita sebetulnya belum benar-benar belajar dari sejarah. Raden Ronggo justru menunjukkan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan, dan kita perlu belajar dari hal itu,” ujar Akhlis.
Karena itu, Akhlis mengajak peserta membaca sejarah sebagai sumber pembelajaran, bukan sekadar catatan masa lalu. Ia menilai nilai persatuan yang diwariskan tokoh-tokoh sejarah tetap relevan untuk menjawab tantangan kehidupan masyarakat saat ini.
Anak Muda Memenuhi Ruang Literasi
Sejak acara dimulai, peserta langsung memenuhi ruang diskusi. Mereka aktif mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, serta menanggapi berbagai pandangan yang muncul sepanjang forum.
Selanjutnya, diskusi mempertemukan berbagai komunitas dalam satu ruang. Hadir di antaranya Madiun Book Party, Historia Van Madiun (HVM), mahasiswa, pelajar, pegiat literasi, dan masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah.
Akibatnya, suasana diskusi berkembang semakin dinamis. Setiap peserta membawa pengalaman, sudut pandang, dan cara membaca sejarah yang berbeda. Perbedaan itulah yang membuat dialog berlangsung hidup hingga penghujung acara.
Literasi Harus Menjadi Gerakan Bersama
Ketua Madiun Book Party, Dede, mengapresiasi penyelenggaraan TABOOO Book Club. Menurutnya, kegiatan seperti ini membuka ruang baru bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk memperluas wawasan melalui diskusi yang sehat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Tabooo Network Indonesia yang telah menghadirkan kegiatan yang sangat menarik dan edukatif melalui TABOOO Book Club. Bedah buku seperti ini menjadi ruang yang penting untuk mempertemukan pembaca, penulis, dan komunitas agar budaya literasi terus tumbuh di Madiun,” katanya.
Selain mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan, Dede berharap acara serupa dapat terus berlangsung. Dengan begitu, semakin banyak anak muda memperoleh ruang untuk membaca, berdiskusi, dan membangun jejaring literasi.
From Reality to Narrative
Filosofi From Reality to Narrative menjadi benang merah seluruh rangkaian TABOOO Cultural Production. Melalui pendekatan tersebut, Tabooo mengajak masyarakat memahami bagaimana realitas berkembang menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan.
Mula-mula, seseorang mengamati kehidupan di sekitarnya. Kemudian, ia melakukan penelitian dan mengumpulkan berbagai fakta. Selanjutnya, ia menyusun narasi berdasarkan hasil riset tersebut. Pada akhirnya, proses itu melahirkan buku yang dapat dibaca, didiskusikan, dan terus melahirkan gagasan baru.
Oleh sebab itu, Tabooo tidak memandang literasi sebagai aktivitas membaca semata. Sebaliknya, Tabooo mendorong masyarakat berdialog, mengkritisi gagasan, dan membangun pengetahuan bersama melalui ruang-ruang kolaboratif.
Antusiasme peserta terus meningkat hingga penghujung acara. Sebagai penutup, panitia membagikan doorprize berupa buku dari Toko Buku NBS Madiun dan Gramedia. Dengan cara itu, panitia ingin memperkuat semangat membaca sekaligus memperluas akses literasi di kalangan peserta.
Literasi Menemukan Rumahnya
TABOOO Book Club membuktikan bahwa budaya membaca dan berdiskusi masih tumbuh di tengah generasi muda. Ketika penulis, pembaca, sejarawan, dan komunitas berkumpul dalam satu forum, buku tidak lagi berhenti sebagai bahan bacaan.
Sebaliknya, buku berubah menjadi ruang dialog yang menghubungkan sejarah, budaya, dan pengalaman hidup. Dari ruang seperti inilah pengetahuan berkembang, kolaborasi lahir, dan kesadaran sosial terus bertumbuh.
Pada akhirnya, setiap perubahan besar selalu berawal dari keberanian membaca, berdiskusi, lalu mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata. Semangat itulah yang terus dihidupkan Tabooo melalui From Reality to Narrative, yaitu menjadikan realitas sebagai sumber cerita dan menjadikan narasi sebagai jembatan menuju pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. @dimas







