Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dulu Disebut Perjuangan, Sekarang Disebut Provokasi

by Tabooo
Juli 7, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Dulu disebut perjuangan, sekarang disebut provokasi. Lagu yang dulu membakar keberanian melawan penjajah dielu-elukan sebagai nasionalisme, tetapi lagu yang hari ini bicara tentang buruh, tani, mahasiswa, dan kesejahteraan rakyat justru sering dicurigai. Padahal, mungkin yang membuat sebagian orang gelisah bukan lagunya, melainkan tuntutan yang terlalu jujur untuk diabaikan.
Oleh: Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia)

Tabooo.id – Dulu, lagu perjuangan dinyanyikan dengan bangga. Anak-anak sekolah menghafalnya, menyanyikannya saat upacara. Negara merawatnya sebagai simbol keberanian.

Tapi ketika lagu perjuangan hari ini bicara tentang buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota, dan kesejahteraan rakyat, sebagian orang mendadak gelisah.

Dulu disebut perjuangan. Sekarang disebut provokasi.

Nasionalisme Paling Aman Adalah yang Tidak Menyentuh Kekuasaan Hari Ini

Bangsa ini sangat pandai menghormati perjuangan yang sudah selesai.

Bangsa ini memuja pahlawan yang sudah wafat. Tanggal perang dihafal sebagai bukti ingatan sejarah. Lagu perjuangan pun kita taruh di ruang yang bersih, resmi, dan aman. Setiap Agustus, semangat melawan penjajah muncul di spanduk, panggung, pidato, dan lomba kampung.

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

Namun, ada pola yang jarang kita akui. Perjuangan paling mudah dirayakan ketika musuhnya sudah menjadi sejarah.

Penjajah lama tidak lagi berdiri di depan mata. Karena itu, melawannya terasa aman. Lagu perjuangan lama jarang membuat elite hari ini merasa tersindir. Pemilik modal juga tidak merasa disentuh oleh kritiknya. Bahkan, pejabat bisa ikut menyanyikannya tanpa merasa sedang ditagih oleh sejarah.

Masalahnya, lagu pergerakan hari ini tidak menunjuk musuh yang sudah mati. Lagu-lagu itu menunjukkan luka yang masih hidup.

Kalau Musuhnya Penjajah, Semua Mendadak Berani

Membicarakan kolonialisme sering membuat kita mudah terlihat heroik. Penjajahan bisa kita kutuk dengan suara keras. Darah, air mata, tanah air, dan pengorbanan rakyat juga mudah kita jadikan simbol keberanian. Bahkan, saat membahas masa lalu, banyak orang mendadak tampak sangat nasionalis.

Tapi coba geser pertanyaannya sedikit.

Ketika rakyat hari ini masih sulit hidup layak, apakah itu bukan masalah kemerdekaan?

Saat buruh terus bicara soal upah, apakah itu bukan bagian dari perjuangan?

Jika tani masih kehilangan ruang hidup, apakah itu bukan soal kedaulatan?

Lalu ketika mahasiswa turun ke jalan karena melihat ketidakadilan, kenapa suara mereka begitu cepat dianggap gangguan?

Nah, di titik ini wajah kita berubah.

Perjuangan tidak lagi terdengar romantis. Ia terdengar berisik. Ia terasa mengganggu. Bahkan, ia cepat dicurigai. Padahal yang berubah bukan semangatnya, tapi arah kritiknya.

Lagu Lama Jadi Nasionalisme, Lagu Pergerakan Jadi Kecurigaan

Lagu nasional sering kita tempatkan sebagai simbol cinta tanah air. Ia masuk sekolah, upacara, peringatan resmi, dan perayaan kenegaraan. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif.

Sementara itu, lagu seperti “Darah Juang” dan “Buruh Tani” hidup di ruang yang berbeda. Ia hidup di jalanan, kampus, aksi massa, forum rakyat, dan ruang-ruang protes.

“Darah Juang” dikenal sebagai salah satu lagu pergerakan mahasiswa sejak era 1990-an. Lagu ini melekat dengan tradisi aksi dan ingatan gerakan mahasiswa. Sementara itu, lagu “Buruh Tani” dikenal luas sebagai lagu aksi, meski akar awalnya berkaitan dengan lagu “Pembebasan” karya Safi’i Kemamang.

Namun, publik sering memperlakukan dua jenis lagu ini secara tidak adil.

Lagu perjuangan lama sering disebut nasionalisme. Namun, lagu pergerakan hari ini cepat ditempeli label provokasi.

Saat lirik menyebut tanah air, publik menganggapnya mulia. Tapi begitu lirik menyebut buruh, tani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota, sebagian orang langsung menilainya terlalu keras.

Ironisnya, bangsa yang lahir dari perlawanan sering panik ketika rakyatnya menyanyikan perlawanan.

Kita Tidak Alergi Lagu, Kita Alergi Tuntutan

Sebenarnya, masalahnya bukan nada.

Bukan karena gitar yang mengiringinya. Bukan pula karena suara serak mahasiswa di tengah jalan. Barisan massa juga bukan inti masalahnya. Lagu yang dinyanyikan bersama hanya menjadi permukaan dari keresahan yang lebih dalam. Masalahnya ada pada tuntutan yang dibawa lagu itu.

Lagu pergerakan tidak mengajak orang bernostalgia dengan masa lalu. Sebaliknya, ia menarik perhatian publik ke kenyataan yang masih berlangsung hari ini. Dari sana, kita diingatkan bahwa kemerdekaan politik tidak otomatis menjamin kemerdekaan ekonomi. Itu yang membuat banyak pihak tidak nyaman.

Sebab, kalau lagu bicara tentang penjajah masa lalu, semua orang bisa ikut menyanyi tanpa merasa tertuduh. Tapi kalau lagu bicara tentang rakyat hari ini, pertanyaannya menjadi lebih tajam.

Pihak mana yang membuat rakyat tetap sulit? Siapa sebenarnya yang menikmati sistem ini? Dan mengapa rakyat selalu diminta sabar, sementara hidup mereka terus ditekan?

Pertanyaan seperti itu tidak enak didengar. Karena itu, lebih mudah menyerang lagunya daripada menjawab isinya.

Meromantisasi Sejarah, Tapi Alergi Suara Rakyat

Ada jenis nasionalisme yang hanya berani hidup di museum.

Ia gagah ketika melihat foto pejuang. Ia merinding saat mendengar cerita perang kemerdekaan. Ia bangga ketika bendera berkibar.

Namun, nasionalisme itu mendadak gugup ketika rakyat berkumpul di jalan.

Padahal, jalanan juga bagian dari sejarah bangsa ini. Banyak perubahan besar tidak lahir dari ruang rapat yang nyaman. Ia lahir dari tekanan publik, keresahan kolektif, dan keberanian orang biasa yang menolak diam.

Tapi hari ini, suara rakyat sering diperlakukan seperti gangguan.

Demo dianggap macet. Kritik dianggap bising. Lagu pergerakan dianggap provokasi. Sementara itu, ketimpangan yang diprotes justru diperlakukan seperti cuaca: ada, terasa, tapi dianggap biasa.

Ini lucu sekaligus pahit.

Kita mengajari anak-anak menyanyikan lagu perjuangan, tapi sering panik ketika mereka benar-benar memahami maknanya.

Perjuangan Tidak Selesai di Proklamasi

Proklamasi menandai kemerdekaan politik.

Tapi kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai teks. Ia harus hadir dalam hidup sehari-hari.

Kemerdekaan harus terasa di meja makan. Harus terasa di slip gaji, akses pendidikan, dan biaya kesehatan. Ia juga harus hadir dalam tanah yang tidak mudah dirampas. Bahkan, hukum seharusnya melindungi rakyat kecil, bukan hanya keras kepada mereka.

Karena itu, lagu pergerakan rakyat tidak otomatis anti-negara.

Justru sebaliknya, lagu-lagu itu bisa menjadi pengingat bahwa negara tidak boleh berhenti pada simbol. Negara harus hadir sebagai keadilan yang nyata.

Namun, sebagian orang lebih suka nasionalisme yang rapi.

Nasionalisme yang tidak bertanya. Nasionalisme yang cukup berdiri saat lagu kebangsaan, hormat bendera, ikut upacara, lalu pulang tanpa mengganggu struktur apa pun.

Padahal, cinta tanah air yang tidak peduli nasib rakyat hanya menjadi dekorasi.

Yang Dicurigai Bukan Lagunya, Tapi Kesadaran yang Dibangunkan

Lagu pergerakan punya kekuatan karena ia sederhana.

Ia tidak butuh seminar panjang. Ia tidak butuh teori rumit. Ia hanya butuh suara bersama. Dari situ, orang merasa tidak sendirian.

Buruh merasa punya teman. Mahasiswa merasa punya arah. Rakyat kecil merasa penderitaannya punya bahasa. Orang yang semula diam mulai sadar bahwa keresahannya bukan masalah pribadi semata.

Di situlah kekuatan lagu bekerja.

Lagu bisa mengubah keluhan menjadi solidaritas. Ia bisa mengubah rasa takut menjadi keberanian. Ia bisa mengubah kerumunan menjadi gerakan.

Maka, wajar kalau ada pihak yang tidak suka.

Bukan karena lagunya fals. Tapi karena lagunya membuat orang sadar.

Dan orang sadar selalu lebih sulit dikendalikan daripada orang yang hanya disuruh menyanyi saat upacara.

Nasionalisme Jangan Berhenti di Simbol

Ini bukan cuma soal lagu demo, melainkan tentang bagaimana kamu membaca kemerdekaan.

Kalau kamu hanya menganggap perjuangan sebagai cerita masa lalu, kamu akan mudah puas dengan simbol. Kamu merasa cukup nasionalis karena memasang bendera, berdiri saat lagu kebangsaan, dan mengucapkan selamat hari kemerdekaan.

Namun, kalau kamu melihat perjuangan sebagai tugas yang belum selesai, kamu akan bertanya lebih jauh.

Mengapa masih banyak orang bekerja keras, tetapi tetap sulit hidup layak?

Apa yang membuat pendidikan terasa makin mahal?

Mengapa rakyat kecil sering diminta tertib, sementara elite kerap lolos dari tanggung jawab?

Lalu, kenapa suara protes lebih cepat dicurigai daripada ketimpangan yang memicunya?

Pertanyaan seperti ini tidak membuat nyaman. Tapi justru di situlah kesadaran dimulai. Karena warga yang baik bukan warga yang selalu diam. Warga yang baik adalah warga yang berani melihat negaranya dengan jujur.

Bukan Lagunya yang Berbahaya, Tapi Kesadaran yang Dibangunkan

Kita perlu jujur. Sebagian orang tidak benar-benar menolak lagu pergerakan karena alasan ideologis. Mereka menolaknya karena lagu itu merusak kenyamanan.

Lagu itu mengganggu narasi bahwa semua baik-baik saja. Ia memecahkan ilusi bahwa kemerdekaan otomatis membuat semua rakyat sejahtera. Ia membuka kenyataan bahwa masih ada jarak besar antara janji negara dan hidup rakyat.

Dan kadang, masyarakat lebih marah kepada orang yang membunyikan alarm daripada kepada api yang sedang membakar rumah.

Ini penyakit lama.

Kita sering lebih sibuk mengatur cara rakyat marah daripada menyelesaikan alasan kenapa rakyat marah.

Nasionalisme Tidak Boleh Jadi Alat Pembungkam

Nasionalisme seharusnya membebaskan, bukan membungkam.

Kalau nasionalisme hanya dipakai untuk meminta rakyat patuh, ia berubah menjadi alat kontrol. Kalau cinta tanah air hanya berarti diam terhadap ketidakadilan, cinta itu sudah kehilangan nurani.

Bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya ingin aman. Ia dibangun oleh mereka yang berani mengatakan tidak ketika ketidakadilan dianggap normal.

Karena itu, lagu perjuangan lama dan lagu pergerakan masa kini tidak perlu dipertentangkan secara dangkal.

Keduanya lahir dari rasa yang sama: penolakan terhadap penindasan.

Bedanya, yang satu sudah disahkan sejarah. Yang satu lagi masih mengganggu kenyamanan hari ini.

Saat Rakyat Bernyanyi, Sejarah Ikut Bergerak

Lagu tidak pernah hanya lagu.

Lagu membawa memori, keberanian, luka, dan harapan sekaligus. Di dalamnya, rakyat menyimpan ingatan tentang apa yang pernah dilawan dan apa yang belum selesai diperjuangkan.

Dulu, lagu perjuangan membantu rakyat membayangkan Indonesia yang merdeka. Sekarang, lagu pergerakan membantu rakyat menagih Indonesia yang adil.

Maka, pertanyaannya bukan kenapa lagu seperti “Darah Juang” atau “Buruh Tani” masih dinyanyikan.

Pertanyaannya justru lebih mendalam, kenapa setelah sekian lama merdeka, lagu-lagu itu masih terasa relevan?

Kalau jawabannya membuat kita tidak nyaman, mungkin masalahnya bukan pada lagunya. Tapi, pada kemerdekaan yang terlalu sering dirayakan, tapi belum cukup dirasakan. @tabooo

Tags: buruh taniDarah JuangDemonstrasi MahasiswaGerakan Rakyatkritik sosialLagu AksiLagu PergerakanLagu PerjuanganMahasiswaNasionalismeOpiniTabooo Talk

Kamu Melewatkan Ini

Agama, Candu dan Propaganda: Mengapa Marx Selalu Dibaca Setengah?

Agama, Candu dan Propaganda: Mengapa Marx Selalu Dibaca Setengah?

by dimas
Juli 17, 2026

Banyak orang mengenal Marx lewat kutipan “agama adalah candu masyarakat”. Padahal, konteks utuhnya mengungkap kritik terhadap ketidakadilan sosial, bukan agama...

Aksi Massa: Saat Tan Malaka Membongkar Cara Perubahan Dibangun

Aksi Massa: Saat Tan Malaka Membongkar Cara Perubahan Dibangun

by Tabooo
Juli 13, 2026

Tan Malaka menolak perubahan yang bergantung pada keberanian segelintir orang. Melalui Aksi Massa, ia menunjukkan bahwa kekuatan rakyat membutuhkan kesadaran,...

PLOTWIST: Kebebasan atau Sekadar Ilusi?

PLOTWIST: Kebebasan atau Sekadar Ilusi?

by dimas
Juli 3, 2026

PLOTWIST: Kebebasan atau Sekadar Ilusi? TABOOO Merch mengajak kita mempertanyakan makna kebebasan di tengah sistem yang diam-diam membentuk setiap pilihan....

Next Post
Negara Menambah Beban Dosen, Tapi Lupa Memperbarui Penghargaannya

Negara Menambah Beban Dosen, Tapi Lupa Memperbarui Penghargaannya

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id