Tragedi lima calon manajer Kopdes Merah Putih yang meninggal saat latihan militer memunculkan sorotan terhadap evaluasi kesehatan dan tanggung jawab negara.
Tabooo.id – Menjelang malam, ruang perawatan di rumah sakit kembali menjadi saksi. Bukan karena perang. Bukan pula karena bencana alam. Seorang perempuan muda yang beberapa jam sebelumnya masih mengikuti kelas sosiologi dan teknik perkebunan kini terbaring tak bergerak. Napasnya semakin berat. Jantungnya akhirnya berhenti.
Namanya Nola Dya Sari.
Ia bukan prajurit. Ia juga bukan peserta operasi militer. Nola mengikuti Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) sebagai calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Namun perjalanan pengabdiannya justru berakhir di ruang gawat darurat.
Nola menjadi peserta kelima yang meninggal dunia selama mengikuti latihan dasar militer.
Dari Pelatihan Menuju Ruang Gawat Darurat
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menjelaskan bahwa Nola mengikuti seluruh kegiatan belajar pada Jumat, 26 Juni 2026 tanpa mengeluhkan gangguan kesehatan.
Situasi berubah menjelang malam.
Sekitar pukul 18.45 WIB, Nola mengeluhkan sesak napas disertai demam. Tim kesehatan segera memberikan pertolongan pertama sebelum membawa Nola ke IGD Rumah Sakit Singkawang. Ketika kondisinya memburuk, tim medis merujuknya ke RSUD Abdul Aziz Singkawang.
Dokter melakukan resusitasi jantung dan berbagai tindakan penyelamatan. Namun semua upaya itu tidak berhasil. Pada pukul 21.03 WIB, dokter menyatakan Nola meninggal dunia.
Kementerian Pertahanan masih mengevaluasi penyebab kematian Nola. Tim pemeriksa sebelumnya mencatat Nola memiliki kelebihan berat badan. Meski begitu, tim tetap menyatakan ia memenuhi syarat kesehatan saat seleksi.
Di atas kertas, panitia telah menjalankan seluruh prosedur seleksi.
Namun di lapangan, satu nyawa kembali melayang.
Bukan Satu Kasus, Melainkan Lima
Kematian Nola menambah daftar panjang peserta yang wafat selama pelatihan.
Sehari sebelumnya, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal akibat infeksi paru yang memicu komplikasi medis. Dokter juga mencatat riwayat hipertensi dan obesitas dalam evaluasi kesehatannya.
Sebelum itu, tiga peserta lain lebih dahulu meninggal.
Dokumen medis mencatat Novia Rahmadhani Sihotang memiliki riwayat tuberkulosis.
Anisa Muyassaroh meninggal setelah mengalami heat stroke saat menjalani latihan.
Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq wafat akibat henti jantung ketika mengikuti pendidikan.
Kelima peserta meninggal karena penyebab medis yang berbeda.
Namun seluruh kisah itu berujung pada titik yang sama. Program pendidikan tersebut bertujuan membentuk calon penggerak pembangunan desa, tetapi lima peserta justru kehilangan nyawa selama proses berlangsung.
Di sinilah pertanyaan publik mulai bergeser.
Publik tidak lagi hanya bertanya, “Apa penyebab kematian mereka?” Publik kini mempertanyakan, “Apakah sistem mampu mengantisipasi risiko sejak awal?”
Ketika Standar Administrasi Bertemu Realitas Lapangan
Kementerian Pertahanan menegaskan seluruh peserta lolos seleksi kesehatan.
Pernyataan itu memang penting. Namun justru di situlah letak persoalannya.
Lolos seleksi administrasi kesehatan tidak selalu berarti seseorang siap menghadapi tekanan fisik yang tinggi.
Obesitas, hipertensi, riwayat tuberkulosis, hingga potensi gangguan jantung menuntut tim kesehatan melakukan pemantauan ketat selama pelatihan. Pemeriksaan awal hanyalah pintu masuk. Pengawasan harian menentukan keselamatan setiap peserta.
Dalam dunia kedokteran olahraga maupun pendidikan militer, proses skrining hanya menjadi lapisan pertama.
Lapisan berikutnya mencakup deteksi dini, evaluasi harian, penyesuaian intensitas latihan, hingga respons medis yang cepat ketika gejala awal muncul.
Jika lima peserta meninggal dalam rentang waktu yang relatif berdekatan, publik tentu berhak mempertanyakan apakah seluruh lapisan perlindungan itu benar-benar berjalan optimal.
Ambisi Besar Negara, Risiko Besar di Lapangan
Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia hadir untuk menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih.
Program ini membawa misi besar.
Pemerintah ingin memperkuat ekonomi desa melalui koperasi.
Namun pembangunan tidak pernah hanya berbicara tentang target.
Pembangunan selalu berbicara tentang manusia yang menjalankannya.
Ketika negara mengirim ribuan anak muda mengikuti pendidikan, negara wajib menjaga keselamatan mereka hingga kembali ke rumah.
Jumlah koperasi yang berdiri bukan satu-satunya ukuran keberhasilan program.
Publik juga menilai keberhasilan program dari keseriusan negara melindungi orang-orang yang membangun desa.
Komnas HAM Masuk, Kepercayaan Publik Dipertaruhkan
Lima kematian itu membuat perhatian publik semakin besar.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia meminta pemerintah melakukan autopsi terhadap jenazah lima peserta agar penyebab kematian mereka dapat dipastikan secara transparan.
Permintaan itu menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi berhenti pada ranah kesehatan.
Kasus ini kini memasuki ruang akuntabilitas publik.
Semakin terbuka pemerintah menjalankan investigasi, semakin besar peluang memulihkan kepercayaan masyarakat.
Sebaliknya, jika pemerintah hanya berhenti pada penjelasan administratif, ruang spekulasi akan terus melebar.
Ini Bukan Sekadar Lima Kematian
Lima peserta meninggal bukan berarti seluruh sistem gagal.
Namun publik sulit menganggap lima kematian itu sekadar rangkaian kebetulan.
Setiap peserta meninggal karena penyebab medis yang berbeda.
Namun polanya tetap sama. Seluruh kematian terjadi di lingkungan pendidikan yang menjadi tanggung jawab negara.
Karena itu, pemerintah tidak cukup memeriksa diagnosis masing-masing korban.
Pemerintah juga harus membedah desain pelatihan, mekanisme skrining kesehatan, sistem pengawasan medis, dan standar keselamatan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Pada akhirnya, pembangunan desa membutuhkan pemimpin yang sehat.
Lebih dari itu, pembangunan membutuhkan negara yang mampu melindungi setiap orang yang datang untuk mengabdi agar mereka tidak kehilangan nyawanya sebelum sempat bekerja.
Sebab desa membutuhkan manajer.
Bukan nama-nama baru dalam daftar duka. @dimas




