Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pakoe Boewono XIV Purbaya Batal Kirab Pusaka, Ada Apa?

by dimas
Juni 17, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter
Pakoe Boewono XIV Purbaya memutuskan tidak menggelar kirab pusaka malam 1 Suro di Keraton Solo. Keputusan itu memperlihatkan dinamika dualisme yang masih berlangsung.

Tabooo.id – Malam itu seharusnya menjadi puncak perenungan spiritual masyarakat Jawa.

Ribuan orang berdatangan ke kawasan Keraton Surakarta. Para abdi dalem mengenakan busana adat. Obor-obor telah siap menerangi jalan. Suasana sakral perlahan menyelimuti kompleks keraton menjelang pergantian tahun Jawa.

Namun hingga dini hari tiba, pusaka tidak keluar dari Ndalem Ageng.

Kubu SISKS Pakubuwono XIV Purbaya memutuskan tidak menggelar kirab pusaka pada malam 1 Suro 1960 Jawa, Rabu (17/6/2026) malam. Keputusan itu muncul hanya beberapa jam sebelum prosesi berlangsung dan langsung mengubah jalannya salah satu ritual paling penting dalam tradisi Keraton Solo.

Keputusan Mendadak dari Sinuhun

Pengageng Paran Parakarsa PB XIV Purbaya, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat atau Kanjeng Dany, mengatakan keputusan tersebut berasal langsung dari Sinuhun Pakubuwono XIV Purbaya.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

“Dengan pertimbangan berbagai macam hal, termasuk prioritas keselamatan pusaka dan lain hal, maka Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwono XIV memutuskan untuk tidak miyoskan pusaka malam hari ini,” ujar Dany di Keraton Solo.

Menurutnya, tim keraton sempat membahas berbagai opsi dalam rapat internal. Setelah menerima hasil kajian tersebut, Sinuhun kemudian mengambil keputusan akhir untuk tidak mengeluarkan pusaka.

Keputusan itu terlihat dari penarikan kembali berbagai perlengkapan kirab, termasuk oncor atau obor yang sebelumnya telah dipersiapkan.

“Kemarin dalam rapat disampaikan ada kemungkinan seperti itu. Setelah kami mengkaji lagi dan melaporkannya kepada Sinuhun, beliau kemudian memberikan dawuh pada last minute untuk tidak miyoskan pusaka,” ujarnya.

Bukan Karena Kirab dari Kubu Lain

Keputusan tersebut segera memunculkan spekulasi.

Sebagian pihak mengaitkan pembatalan kirab dengan prosesi kirab pusaka yang lebih dulu digelar oleh kubu Pakubuwono XIV Mangkubumi. Namun Dany membantah anggapan tersebut.

Ia menegaskan bahwa Sinuhun memiliki otoritas penuh atas pusaka yang berada di lingkungan keraton.

“Tidak, tidak. Otoritas pusaka keraton adalah otoritas dari Sinuhun yang bertahta, SISKS Pakubuwono XIV,” tegasnya.

Menurutnya, keputusan untuk tidak mengeluarkan pusaka justru menunjukkan kewenangan Sinuhun dalam menjaga keamanan benda-benda sakral keraton.

Malam itu, Ndalem Ageng tetap tertutup rapat. Keraton tetap menjalankan berbagai ritual adat. Namun pusaka tetap berada di tempat penyimpanannya.

Malam 1 Suro Tak Hanya Soal Kirab

Dany juga mengingatkan bahwa peringatan malam 1 Suro tidak hanya berpusat pada kirab pusaka.

Keraton tetap menggelar berbagai rangkaian kegiatan spiritual. Rangkaian itu meliputi haul Pakubuwono X, wilujengan, doa bersama, iktikaf, salat hajat di Masjid Pujosono, hingga doa di Bandengan.

“Upacara peringatan Malam 1 Suro itu bukan cuma kirab saja. Rangkaian upacaranya banyak sekali,” katanya.

Karena itu, pihak keraton tetap membuka ruang bagi para abdi dalem maupun sentana dalem yang ingin melakukan laku spiritual dengan berjalan mengelilingi kawasan keraton.

“Bagi para abdi dalem atau sentana dalem yang memang mau kirab keliling, berdoa, bermunajat kepada Tuhan, laku lampah, dipersilakan,” ujarnya.

Ketika Tradisi Bertemu Realitas Konflik

Malam 1 Suro selalu memiliki makna lebih dari sekadar seremoni budaya.

Kirab pusaka selama ini menjadi simbol kesinambungan tradisi, legitimasi kekuasaan, sekaligus hubungan batin antara keraton dan masyarakat. Karena itu, keputusan untuk tidak mengeluarkan pusaka membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar pembatalan agenda tahunan.

Publik menyaksikan dua realitas yang berjalan bersamaan di Keraton Solo. Di satu sisi, tradisi tetap hidup melalui doa dan ritual. Di sisi lain, dualisme yang selama bertahun-tahun membelah Keraton Surakarta masih membentuk arah perjalanan lembaga budaya tersebut.

Ini bukan sekadar cerita tentang kirab yang tidak jadi berlangsung.

Ini adalah gambaran tentang bagaimana simbol budaya terbesar di Solo masih bergerak dalam dua jalur berbeda. Ketika satu kubu memilih mengarak pusaka, kubu lain memilih menguncinya di balik pintu Ndalem Ageng.

Pilihan itu mungkin lahir dari pertimbangan keamanan. Namun bagi publik, malam 1 Suro tahun ini juga meninggalkan pertanyaan yang lebih besar: bagaimana masa depan Keraton Solo jika tradisi yang sama terus dijalankan dengan dua tafsir yang berbeda? @dimas

Tags: Budaya JawaDualisme KeratonKeraton SurakartaKirab PusakaMalam 1 Suro

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

by teguh
Agustus 22, 2026

Ada benda yang cukup disimpan di lemari. Ada pula benda pusaka harus pergi dan membawa cerita sebagai warisan keluarga. Tabooo.id...

Miyos Gangsa Sekati Memanas, Dua Kubu Keraton Beda Klaim

Miyos Gangsa Sekati Memanas, Dua Kubu Keraton Beda Klaim

by dimas
Agustus 19, 2026

Miyos Gangsa Sekati di Masjid Agung Solo memanas setelah Rumbay terlibat adu mulut. Dua kubu Keraton berbeda klaim soal izin...

Bondoloemakso, Jejak Ekonomi Keraton Surakarta

Bondoloemakso, Jejak Ekonomi Keraton Surakarta

by eko
Agustus 6, 2026

Jauh sebelum bank modern berkembang, Keraton Surakarta sudah memiliki Bondoloemakso. Lembaga ini menjadi bukti kemajuan ekonomi pada masa Paku Buwono...

Next Post
PB XIV Hangabehi Turunkan 14 Pusaka di Tengah Dualisme Keraton

PB XIV Hangabehi Turunkan 14 Pusaka di Tengah Dualisme Keraton

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id