Lebih dari 700 mahasiswa turun ke jalan dalam aksi “Menuju Indonesia Bangkrut”. Meski gagal mencapai Bundaran HI, kritik terhadap pemerintah terus bergema.
Tabooo.id: Jakarta – Siang itu, jalan menuju Bundaran Hotel Indonesia berubah menjadi arena tarik-menarik antara demonstran dan aparat. Di bawah terik matahari, ratusan mahasiswa berjalan membawa tuntutan. Namun, polisi dan TNI menghadang langkah mereka dengan pagar pembatas, kendaraan taktis, dan barikade manusia.
Lebih dari 700 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mengikuti aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” pada Jumat (12/6). Mereka ingin menyuarakan kritik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah, penggunaan APBN, hingga menguatnya peran aparat di ruang sipil.
Massa berencana menjadikan Bundaran HI sebagai pusat aksi. Namun, mereka tidak pernah sampai ke tujuan itu.
Jalan Menuju Bundaran HI Tertutup
Sejak siang, aparat menghentikan laju massa di beberapa titik. Hambatan pertama muncul di kawasan Semanggi. Setelah itu, aparat kembali menutup akses menuju Sudirman dan Tosari.
Mahasiswa berusaha membuka ruang negosiasi. Namun, aparat tetap mempertahankan blokade.
Ketua BEM UI, Yatalathof Imawan, menegaskan bahwa panitia telah mengirim surat pemberitahuan kepada kepolisian. Dalam surat itu, mereka menjelaskan rencana aksi dan lokasi demonstrasi di Bundaran HI.
“Kami sudah menyampaikan titik aksi sejak awal di Bundaran HI,” ujarnya.
Menurut mahasiswa, Bundaran HI bukan sekadar lokasi demonstrasi. Tempat itu menjadi simbol karena berada dekat dengan pusat kekuasaan politik dan ekonomi.
Meski gagal mencapai lokasi yang direncanakan, massa tetap bertahan. Mereka terus berorasi dan menyuarakan tuntutan dari kawasan Tosari.
Lima Tuntutan Mahasiswa
Aksi “Menuju Indonesia Bangkrut” membawa lima tuntutan utama.
Pertama, mahasiswa meminta pemerintah menghentikan pemborosan APBN. Kedua, mereka mendesak pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
Ketiga, mereka meminta pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Keempat, mereka menolak militerisme di ranah sipil.
Kelima, mereka meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah dan bertanggung jawab atas berbagai kebijakan yang dianggap bermasalah.
Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Jundi Al Muhandis, menilai pemerintah salah mengalokasikan anggaran negara. Menurutnya, kesalahan itu ikut mendorong naiknya beban hidup masyarakat.
Ia menilai pemerintah perlu menunjukkan kesadaran terhadap situasi yang sedang dihadapi rakyat.
“Akui dulu ada kesalahan, sadari dulu ada misalokasi sumber daya, baru perlahan dikembalikan,” kata Jundi.
Mahasiswa juga menyoroti penggunaan anggaran untuk sejumlah program prioritas pemerintah. Mereka menilai negara seharusnya lebih fokus memperkuat layanan pendidikan dan kesehatan yang terjangkau.
Kritik terhadap Menguatnya Peran Aparat
Selain isu ekonomi, mahasiswa juga mengangkat persoalan ruang sipil.
Ketua BEM Fakultas Hukum UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, mengkritik perluasan kewenangan aparat yang muncul setelah revisi Undang-Undang Polri.
Menurutnya, perluasan kewenangan itu berpotensi mempersempit ruang kebebasan warga negara.
“Masyarakat harus sadar bahwa ruang sipil semakin menyempit ketika kewenangan aparat terus diperluas,” ujarnya.
Mahasiswa juga menilai kehadiran aparat yang masif dalam berbagai sektor sipil dapat memunculkan intimidasi terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat.
Ketika Demonstrasi Berhadapan dengan Barikade
Ketegangan meningkat ketika massa mencapai kawasan Dukuh Atas. Saat itu, mahasiswa mengaku ingin melaksanakan salat Jumat. Namun, mereka tetap menghadapi penghadangan aparat.
Mahasiswa menilai tindakan itu bertentangan dengan hak konstitusional warga negara.
Di sisi lain, aparat tetap mempertahankan pengamanan hingga sore hari. Barikade gabungan polisi dan TNI berdiri rapat di kawasan Tosari.
Hingga pukul 18.25 WIB, massa belum berhasil mencapai Bundaran HI. Namun, mereka tidak membubarkan diri.
Orasi terus berlangsung. Spanduk tetap terbentang. Tuntutan terus bergema di tengah kepungan aparat.
Lebih dari Sekadar Aksi Jalanan
Aksi ini bukan hanya soal mahasiswa yang gagal mencapai Bundaran HI.
Aksi ini memperlihatkan benturan antara tuntutan publik dan cara negara mengelola ruang demokrasi. Mahasiswa datang membawa kritik terhadap ekonomi, penggunaan anggaran, dan kebijakan pemerintah. Sementara itu, negara menunjukkan kekuatan melalui pengamanan yang ketat.
Ironisnya, mahasiswa datang untuk meminta jawaban atas berbagai persoalan yang mereka anggap mengancam masa depan Indonesia. Namun, yang pertama mereka hadapi justru barikade aparat.
Aksi “Menuju Indonesia Bangkrut” memang tidak berhasil mencapai titik tujuan. Namun, pesan yang mereka bawa tetap menyebar ke ruang publik.
Karena terkadang persoalannya bukan soal sampai atau tidak sampai ke lokasi aksi.
Persoalan utamanya adalah apakah negara masih membuka ruang yang cukup bagi warga untuk menyampaikan kegelisahan mereka.
Dan pertanyaan itu tampaknya belum menemukan jawaban. @dimas







