Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mentan Tantang Kampus Wujudkan Swasembada Pangan

by teguh
Juni 6, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia mengambil peran lebih besar dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Ia menilai kampus harus melampaui fungsi akademik dan ikut menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian yang menjadi fondasi ketahanan bangsa.

Tabooo.id: Amran menyampaikan ajakan tantangan swasembada pangan tersebut saat mengisi kuliah umum bertajuk “Dari Kampus untuk Negeri Penguatan Nilai Kebangsaan, Inovasi Pertanian, dan Kemandirian Pangan Nasional” di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (06/06/2026).

Di hadapan mahasiswa dan civitas akademika, Amran menegaskan bahwa bangsa yang maju selalu memiliki perguruan tinggi yang kuat. Menurutnya, kampus melahirkan banyak gagasan yang dapat mempercepat pembangunan nasional, termasuk di sektor pangan.

“Kampus adalah sumber inspirasi terbaik. Ide-ide terbaik ada di kampus. Kalau negara ingin maju, maka kampus harus diperkuat,” kata Amran.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah ingin menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu motor penggerak pembangunan nasional. Pemerintah tidak hanya membutuhkan lulusan berkualitas, tetapi juga membutuhkan inovasi yang mampu menjawab persoalan di lapangan.

Kampus Harus Menghasilkan Solusi

Amran menilai banyak penelitian menyimpan potensi besar untuk memperkuat sektor pertanian. Namun, ia mengingatkan bahwa riset akan kehilangan makna apabila kampus tidak menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi membangun kolaborasi yang lebih kuat dengan pemerintah dan dunia usaha. Menurutnya, kerja sama tersebut dapat mempercepat penerapan hasil penelitian sekaligus memperkuat daya saing pertanian nasional.

Ini Belum Selesai

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0, Herdman: Ini Kemenangan Kami Tunggu 38 Tahun

“Kita menemukan ide baru dari kampus, kemudian pemerintah menjalankan kebijakan sebagai regulator dan industri mengembangkannya menjadi solusi nyata. Itulah pentingnya kolaborasi,” ujarnya.

Amran melihat kolaborasi sebagai jembatan yang menghubungkan ruang akademik dengan kebutuhan petani. Melalui kerja sama itu, kampus dapat mengubah teori menjadi teknologi, sementara pemerintah dan industri memperluas manfaatnya kepada masyarakat.

Pemerintah Perluas Pusat Produksi Pangan

Selain membahas peran perguruan tinggi, Amran juga memaparkan strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Saat ini pemerintah mengembangkan kawasan pertanian baru di Sumatera dan Kalimantan untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Pemerintah juga melanjutkan pengembangan kawasan pangan di Papua sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju swasembada.

Melalui program tersebut, pemerintah ingin membangun lebih banyak pusat produksi sehingga Indonesia tidak bergantung pada satu wilayah tertentu.

“Target kita adalah seluruh wilayah mampu menjadi pusat produksi pangan. Papua, Kalimantan, Sumatra, semuanya menuju swasembada pangan,” tegasnya.

Pemerintah membuka puluhan ribu hektare lahan baru dan melengkapinya dengan alat serta mesin pertanian modern. Langkah itu bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat proses budidaya.

Mekanisasi Mengubah Papua Selatan

Amran menjadikan Papua Selatan sebagai contoh keberhasilan modernisasi pertanian. Menurutnya, penggunaan teknologi dan alat mesin pertanian telah meningkatkan produksi pangan secara signifikan.

Peningkatan produksi tersebut berdampak langsung pada ketersediaan beras dan kemampuan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau.

“Dulu harga beras di sana bisa mencapai Rp30 ribu per kilogram, sekarang sekitar Rp12 ribu per kilogram. Ini menunjukkan program yang kita jalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Amran menjelaskan bahwa mekanisasi tidak hanya meningkatkan hasil panen. Teknologi juga membantu petani menghemat waktu, mengurangi biaya produksi, dan memperluas kapasitas pengelolaan lahan.

Karena itu, pemerintah terus mempercepat penggunaan alat dan mesin pertanian di berbagai daerah yang memiliki potensi menjadi lumbung pangan baru.

Petani Membutuhkan Inovasi yang Bisa Digunakan

Tantangan terbesar sektor pertanian saat ini tidak hanya berkaitan dengan produksi. Petani juga menghadapi perubahan iklim, kenaikan biaya usaha tani, keterbatasan teknologi, dan fluktuasi harga komoditas.

Situasi tersebut membuat Amran meminta kampus menghasilkan inovasi yang dapat langsung digunakan petani. Ia berharap mahasiswa dan peneliti turun ke lapangan untuk memahami persoalan nyata yang mereka hadapi.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.

Dengan cara itu, perguruan tinggi dapat berperan sebagai pusat solusi, bukan sekadar pusat kajian akademik.

Kritik Harus Menggunakan Data

Amran juga menanggapi berbagai kritik terhadap program pembangunan pertanian. Ia menegaskan bahwa kritik memiliki peran penting dalam memperbaiki kebijakan pemerintah.

Namun, ia meminta semua pihak menyampaikan kritik berdasarkan data dan fakta yang utuh.

“Kritik itu penting, tetapi harus objektif. Jangan hanya melihat satu sisi. Banyak bantuan dan program yang sudah berjalan untuk membantu petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” tegasnya.

Ia juga mengajak media massa menghadirkan informasi yang seimbang agar masyarakat dapat melihat tantangan dan kemajuan sektor pertanian secara proporsional.

Dari Ruang Kuliah ke Sawah

Kuliah umum di Universitas Halu Oleo menghadirkan pesan yang lebih besar daripada sekadar diskusi tentang pertanian. Amran ingin mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi tantangan pangan di masa depan.

Pemerintah dapat menyusun kebijakan. Industri dapat mempercepat penerapan teknologi. Petani dapat menjalankan produksi. Namun kampus harus melahirkan gagasan, riset, dan inovasi yang mendorong seluruh proses tersebut.

Swasembada pangan tidak akan lahir hanya dari ruang rapat kementerian. Swasembada pangan juga tidak akan tumbuh hanya dari ruang kuliah dan laboratorium.

Indonesia akan mencapai target tersebut ketika kampus, pemerintah, industri, dan petani bergerak dalam arah yang sama. Saat itulah gagasan berubah menjadi teknologi, teknologi meningkatkan produksi, dan produksi menjaga ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. @teguh

Tags: kalimantanKetahanan PanganMenteri Pertanian Republik IndonesiaNilai KebangsaanpapuaPemerintah IndonesiapertanianSumateraUniversitas Halu Oleo

Kamu Melewatkan Ini

Ledakan dari Masa Lalu: Bom Sisa Perang Dunia II Paksa Warga Biak Tinggalkan Rumah

Ledakan dari Masa Lalu: Bom Sisa Perang Dunia II Paksa Warga Biak Tinggalkan Rumah

by teguh
Juni 3, 2026

Suara ledakan bom sisa perang dunia II itu mengakhiri ketenangan siang di pesisir Biak. Dalam hitungan detik, rumah-rumah berguncang, puing...

Bom Perang Dunia II: Ketika Sisa Bom Tahun 1944 Meledak di Tahun 2026

Bom Perang Dunia II: Ketika Sisa Bom Tahun 1944 Meledak di Tahun 2026

by teguh
Juni 2, 2026

Ledakan dahsyat yang mengguncang Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu (31/05/2026) sore, awalnya terlihat sebagai...

Bom Perang Dunia II Meledak di Biak, Puluhan Rumah Hancur dalam Sekejap

Bom Perang Dunia II Meledak di Biak, Puluhan Rumah Hancur dalam Sekejap

by teguh
Juni 1, 2026

Ledakan dahsyat mengguncang Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, Minggu (31/05/2026) sore. Bom Perang Dunia II yang...

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id