Sabtu, Mei 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rel Uang di Balik Rel Kereta: Proyek Negara Jadi Jalur Fee Elite?

by teguh
Mei 29, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Rel kereta seharusnya membawa orang sampai tujuan. Namun dalam kasus dugaan korupsi proyek jalur kereta di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, rel itu justru menyeret pertanyaan lain siapa yang sebenarnya menikmati perjalanan paling cepat dari proyek negara?.

Tabooo.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini membongkar dugaan penerimaan uang di lingkungan Kementerian Perhubungan. Penyidik memeriksa dua aparatur sipil negara (ASN) Kemenhub, Iman Sukandar dan Benny Nurdin Yusuf, untuk menelusuri dugaan gratifikasi dalam proyek negara untuk pembangunan jalur kereta.

“Pemeriksaan ini terkait dugaan pasal 12B (gratifikasi),” kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo.

Sekilas, kasus ini terlihat seperti perkara korupsi biasa. Ada pemeriksaan, nama pejabat muncul, lalu publik menunggu sidang. Namun kalau ditarik lebih dalam, kasus DJKA membuka pertanyaan yang lebih besar kenapa proyek transportasi negara terus menjadi magnet rente?

Masalahnya, ini bukan cerita baru.

Ketika Proyek Infrastruktur Menjadi Arena Berebut Untung

KPK juga menelusuri dugaan peran Bupati Pati nonaktif, Sudewo, yang sebelumnya duduk di Komisi V DPR. Komisi itu membawahi sektor infrastruktur dan transportasi.

Ini Belum Selesai

Wahyu Keprabon: Saat Kekuasaan Bersembunyi di Balik Langit

Parang Melawan Senapan: Amarah Rakyat di Geger Cilegon

Penyidik tidak hanya mengejar aliran uang. Mereka juga menggali dugaan pengondisian vendor dalam proyek pembangunan jalur kereta di DJKA.

Kalimat “pengondisian vendor” memang terdengar teknis. Namun dalam praktiknya, istilah itu sering mengarah pada permainan proyek sebelum tender berjalan.

Pihak tertentu mengatur pemenang. Aktor tertentu membuka akses. Sementara proyek publik berubah menjadi ruang negosiasi kepentingan.

Pakar administrasi publik dari Universitas Indonesia, Prof. Eko Prasojo, berulang kali mengingatkan bahwa proyek infrastruktur menyimpan risiko korupsi tinggi. Nilai anggaran yang besar, proses teknis yang rumit, serta banyaknya aktor politik dan birokrasi membuka ruang kompromi kepentingan.

Semakin besar proyek, semakin besar pula ruang transaksi di belakang layar.

Pengamat antikorupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana, juga kerap menyoroti budaya rente yang hidup dalam proyek pemerintah. Banyak pihak tidak lagi melihat proyek sebagai layanan publik. Mereka justru memandangnya sebagai sumber keuntungan informal.

Ironisnya, pola itu terus muncul dengan wajah berbeda. Jalan tol tersandung kasus. Bansos masuk pusaran korupsi. Stadion bermasalah. Kini proyek jalur kereta ikut terseret.

Nama kasus boleh berubah. Namun polanya terasa sama.

Rel Kereta, Relasi Politik, dan Jalur Kekuasaan

KPK kini menelusuri hubungan antara proyek dan kekuasaan. Penyidik menggali peran Sudewo saat masih menjabat anggota Komisi V DPR.

Mereka mencari jawaban atas satu pertanyaan penting: apakah akses politik ikut membuka jalan bagi pengondisian proyek?

Kalau dugaan itu terbukti, maka persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar gratifikasi.

Kasus ini akan menunjukkan bagaimana sebagian elite memanfaatkan proyek publik sebagai arena pertukaran pengaruh.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, pernah menjelaskan bahwa korupsi infrastruktur tumbuh subur dalam sistem patronase. Orang yang punya akses politik sering mendapat ruang lebih besar untuk mengendalikan anggaran publik.

Singkatnya, proyek tidak selalu memilih pihak terbaik. Kadang proyek memilih pihak terdekat. Dan publik kembali duduk di kursi penonton.

Dampaknya Buat Kamu: Proyek Mahal, Pelayanan Belum Tentu Membaik

Korupsi infrastruktur tidak berhenti di angka laporan audit. Publik ikut menanggung akibatnya.

Ketika fee proyek menggerus anggaran, kualitas pekerjaan sering ikut turun. Kontraktor menekan biaya material. Pengawasan melemah. Proyek mengejar target tanpa mutu yang matang.

Akibatnya terasa nyata Kereta terlambat, Jalur cepat rusak, Biaya logistik tetap tinggi, dan anggaran negara bocor.

Padahal pemerintah terus berbicara tentang konektivitas nasional. Publik juga berharap transportasi murah, cepat, dan aman.

Namun kalau rente menguasai proyek, maka yang melaju paling cepat justru uang Bukan pembangunan.

Ini Bukan Sekadar Kasus. Ini Pola Lama

Pertanyaan paling jujur sebenarnya sederhana: kenapa kasus seperti ini terus berulang? Jawabannya mungkin pahit.

Pengawasan sering tertinggal dari permainan proyek. Sistem pengadaan masih membuka banyak celah. Relasi politik dan anggaran terlalu dekat.

Sementara itu, proyek infrastruktur selalu menawarkan angka besar. Dan di negeri dengan birokrasi panjang, angka besar sering mengundang godaan yang lebih besar.

Kasus DJKA mengingatkan publik pada satu hal penting korupsi tidak selalu datang lewat koper uang atau transaksi gelap.

Kadang korupsi berjalan rapi Ia hadir lewat rapat resmi. Dokumen formal. Bahasa teknis. Prosedur administrasi. Kelihatannya legal Namun dampaknya sangat sosial.

KPK masih mengusut perkara ini. Semua pihak tetap memiliki hak atas asas praduga tak bersalah sampai pengadilan menjatuhkan putusan tetap.

Namun publik juga punya hak untuk curiga pada pola yang terus berulang. Rel kereta mestinya membawa masa depan.

Tapi kalau elite membelokkan rel itu untuk kepentingan sendiri, pertanyaannya tinggal satu Sampai kapan uang rakyat kehilangan arah?

Di negeri yang sibuk membangun rel, kadang yang paling cepat sampai tujuan justru aliran fee proyek. @teguh

Tags: Bupati PatiDJKAFee ProyekGratifikasiICWInfrastrukturjalurkeretaKemenhubKomisi V DPRkorupsiKPKpolitikProyek NegaraSudewo

Kamu Melewatkan Ini

Monarki Absolut: Saat Titah Raja Lebih Kuat daripada Suara Rakyat

Monarki Absolut: Saat Titah Raja Lebih Kuat daripada Suara Rakyat

by Tabooo
Mei 29, 2026

Monarki absolut memperlihatkan bentuk kekuasaan paling telanjang: negara bergerak mengikuti kehendak penguasa, hukum sulit mengawasi takhta, dan rakyat hadir tanpa...

“Apakah Selamanya Politik Itu Kejam?” Pertanyaan Lama yang Belum Dijawab Negeri Ini

Apakah Selamanya Politik Itu Kejam?

by eko
Mei 28, 2026

“Apakah selamanya politik itu kejam?” Iwan Fals menulis pertanyaan itu puluhan tahun lalu lewat lagu “Sumbang”. Namun sampai hari ini,...

Dugaan Gratifikasi di Kemenhub: Rel Kereta atau Jalur Uang?

Dugaan Gratifikasi di Kemenhub: Rel Kereta atau Jalur Uang?

by teguh
Mei 28, 2026

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memburu dugaan aliran uang dalam kasus korupsi proyek jalur kereta api di Direktorat Jenderal Perkeretaapian...

Next Post
Anak Hafal Skin Mobile Legends daripada Congklak, Siapa yang Salah?

Anak Hafal Skin Mobile Legends daripada Congklak, Siapa yang Salah?

Madilog Series

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026
Kenapa Orang Takut Perubahan? Ini Penyebabnya – Madilog Series #2.3

Kenapa Orang Takut Perubahan? Ini Penyebabnya – Madilog Series #2.3

Mei 19, 2026

Marx Series

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026

Capital Volume I: Cara Kapital Hidup dari Kerja Orang Lain – Marx Series #1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id