Tabooo.id: Talk – Bayangin, dulu kita harus rebutan warnet cuma buat buka Facebook dan main Pet Society. Sekarang, anak umur 5 tahun aja udah bisa buka YouTube sambil komentar, “nggak lucu bang.” Indonesia, negeri dengan 89 persen warganya (usia 5 tahun ke atas!) sudah online, seharusnya jadi negara paling melek digital, kan?
Sayangnya, yang melek justru… algoritmanya. Manusia? Masih banyak yang belum update firmware-nya.
Dari Dark Web ke Dark Reality
Ngaku deh, siapa yang masih mikir “dark web” itu cuma tempat hacker berkaos hitam di film? Nyatanya, beberapa waktu lalu, ada kasus ledakan bom di SMA 72 Jakarta, yang diduga pelakunya adalah anak sekolah. Anak, bro. Bukan James Bond.
Diduga, si pelaku belajar ngerakit bom dari internet. Artinya, akses menuju kegelapan itu cuma sejauh satu klik. Ironi banget, karena yang harusnya bisa jadi ruang belajar, malah jadi lab eksperimen bahaya.
Menurut National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC), dalam rentang 2021–2024 aja, ada 5,5 juta konten pornografi anak di Indonesia. Kebayang nggak tuh? Angka yang harusnya cuma ada di statistik kriminal internasional, malah jadi bagian dari feed digital kita.
Pemerintah: “Kami Punya PP TUNAS!”
Tenang, pemerintah nggak tinggal diam. Mereka bikin Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).
Kata Menkomdigi Meutya Hafid, Indonesia bahkan jadi negara kedua di dunia (setelah Australia) yang menerapkan sistem penundaan akses anak terhadap platform digital. Keren, ya?
Tapi… kalau kita turun ke lapangan, realitanya nggak semanis press release.
Nenden Sekar Arum dari SAFEnet bilang, moderasi konten di Indonesia itu “masih bersifat sukarela.” Artinya? Ya terserah platform mau serius atau nggak. “Filter” yang kita punya sekarang cuma dua, not interested dan mode anak-anak yang seringnya bisa dibobol pakai tanggal lahir palsu.
Jadi, PP TUNAS ini kayak payung di musim hujan… tapi bolong.
Algoritma: Si Teman Baik yang Jahat
Masalahnya bukan cuma soal akses, tapi siapa yang memberi makan pikiran kita.
Sekali kamu nonton satu video tentang kekerasan, algoritma bakal bilang, “Oh, kamu suka yang beginian ya?” dan terus nyodorin video serupa. Akhirnya, timeline kamu berubah jadi lubang kelinci menuju dunia yang makin gelap.
Margaret Aliyatul Maimunah dari KPAI bilang, anak-anak itu kelompok paling rentan. Mereka gampang banget nyerap apa yang mereka lihat, dan bisa aja ngira, “Oh, bikin bom itu keren ya?” atau “Orang yang mukul orang lain itu kuat ya?”
Tanpa literasi digital yang kuat, anak-anak ini bukan lagi digital native, tapi digital korban.
Bullying: Pemantik yang Kita Abaikan
Sebelum ngomongin algoritma, jangan lupa: akar masalahnya bisa jadi dimulai di dunia nyata. Kasus SMA 72 Jakarta itu misalnya, diduga karena pelaku pernah jadi korban bullying.
Kalau sekolah nggak jadi tempat aman buat tumbuh, jangan heran kalau anak mencari pelarian ke dunia digital yang sayangnya, bisa lebih berbahaya dari dunia nyata.
Abidin Fikri, Wakil Ketua Komisi VIII DPR, bilang, regulasi anti-bullying itu banyak, tapi sering cuma jadi “acara seremonial”. Ya, semacam upacara bendera ramai di awal, hilang di tengah minggu. Padahal yang kita butuh bukan seremonial, tapi sistem deteksi dini dan empati yang benar-benar hidup.
Proteksi Digital Itu Urusan Semua Orang
Ngira ngawasin anak di dunia digital itu cuma tugas pemerintah? Salah besar.
Kata Margaret dari KPAI, tanggung jawab itu kolektif, orang tua, guru, bahkan tetangga yang suka nimbrung di grup WhatsApp RT.
Kalau anak buka konten negatif, jangan langsung disalahin. Dampingi, jelaskan kenapa itu salah, dan bantu mereka memahami apa yang benar. Jangan biarkan YouTube jadi guru utama anakmu, atau TikTok jadi tempat mereka belajar etika.
Internet Nggak Jahat, Tapi Penggunanya Bisa
Kita sering bilang “anak muda sekarang rusak gara-gara internet.” Padahal, internet cuma cermin: dia memantulkan apa yang udah ada di dunia nyata.
Kalau kita masih abai, kalau sistem pendidikan masih sibuk bikin lomba hafalan ketimbang literasi digital, jangan salahkan anak-anak kalau mereka lebih percaya “konten konspirasi” ketimbang guru di sekolah.
Sekarang gini deh internet udah masuk sampai TK, tapi literasi digital kita masih di TK juga.
Lalu, kamu di kubu mana: yang sadar, atau yang masih nganggap ini “urusan nanti aja”? @dimas




