Ketika Jam sudah menunjukkan pukul 02:00 WIB saat Malioboro belum tidur. Tapi kota itu juga tidak lagi sepenuhnya hidup. Justru kita akan melihat dan merasakan yang tersisa setelah keramaian pergi.
Tabooo.id – Lampu jalan masih menyala hangat. Wisatawan mulai berkurang. Kamera-kamera turun dari tangan. Namun di tengah trotoar yang mulai lengang itu, muncul satu pertanyaan yang terasa lebih sunyi daripada malam sendiri siapa sebenarnya yang menikmati Malioboro, dan siapa yang hanya bertahan hidup di dalamnya? Karena semakin malam, Malioboro justru terlihat semakin jujur.
Malioboro: Panggung Wisata atau Potret Ketimpangan?
Siang hari, Malioboro berubah menjadi etalase nasional. Orang datang mencari “rasa Jogja”. kopi, batik, musik jalanan, dan romantisme trotoar panjang yang terlihat estetik di media sosial. Tetapi malam membuka lapisan lain.
Di satu sisi, orang duduk santai sambil menatap layar ponsel. Di sisi lain, seorang lelaki memikul karung besar dan menyusuri jalan dengan langkah pelan, seperti sedang menggendong tekanan ekonomi sendirian.
Mereka berdiri di trotoar yang sama. Tetapi mereka hidup dalam realitas yang berbeda.
Lalu pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu Apakah kota wisata memang harus terlihat indah, meski tidak semua warganya ikut merasa sejahtera?
Sosiolog Indonesia, Soedjatmoko, pernah berkata:
“Kemiskinan bukan sekadar kekurangan materi, tetapi juga keterasingan dari kesempatan.”
Kalimat itu terasa hidup di Malioboro malam ini.
Karena ironisnya, di pusat ekonomi kreatif yang terus tumbuh, masih banyak manusia yang hidup dari sisa-sisa sistem. pemulung, pekerja malam, pengamen, tukang becak, hingga pedagang kecil yang terus bekerja ketika wisatawan sudah kembali ke hotel.
Mereka hadir Tetapi kota sering menempatkan mereka hanya sebagai latar belakang romantisme wisata.
Jogja Masih Istimewa atau Mulai Terlalu Komersial?
Pertanyaan itu sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga Jogja mulai mempertanyakan arah kotanya sendiri. Penataan ruang semakin rapi. Pariwisata terus tumbuh. Investasi terus masuk.
Tetapi bersamaan dengan itu, keresahan juga ikut tumbuh, jika seperti ini apakah Jogja masih rumah atau perlahan berubah menjadi panggung wisata?
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengingatkan bahwa kota modern sering berhasil membangun infrastruktur, tetapi gagal membangun sensitivitas sosial antar manusianya.
Masalahnya bukan pada wisata tapi Masalahnya muncul ketika estetika kota berkembang lebih cepat daripada empati sosialnya.
Pemerintah mempercantik trotoar. Lampu kota dibuat lebih artistik. Sudut-sudut jalan dipoles agar terlihat menarik di kamera.
Namun pertanyaan yang jarang muncul justru lebih penting apakah orang-orang kecil yang menghidupi denyut kota ikut merasakan kesejahteraan yang sama?
Kritik ini bukan anti pembangunan Justru sebaliknya.
Kota membutuhkan wisata. Kota membutuhkan ekonomi. Tetapi kota juga membutuhkan keberanian untuk melihat manusia yang sering luput dari sorotan.
Karena kota yang sehat bukan hanya kota yang viral di media sosial. Kota yang sehat adalah kota yang tetap manusiawi untuk semua kelas sosial.
Ramai di Luar, Sepi di Dalam
Ada sisi lain yang terasa lebih personal. Kenapa banyak orang justru merasa nyaman berjalan di Malioboro saat malam?, Kenapa kota terasa lebih jujur ketika mulai sepi?
Psikolog sosial sering menyebut fenomena ini sebagai urban loneliness rasa sepi di tengah keramaian.
Kita hidup di era yang ramai secara digital, tetapi makin kesulitan merasa benar-benar terhubung. Mungkin itu sebabnya Malioboro malam terasa berbeda.
Karena ketika keramaian turun, kota akhirnya berhenti berpura-pura. Kota menunjukkan lelahnya. Dan mungkin, diam-diam, menunjukkan lelah kita juga.
Ini Bukan Sekadar Malioboro
Ini bukan sekadar cerita tentang jalan legendaris di Yogyakarta. Ini cerita tentang cara kota modern bekerja.
Tentang siapa yang terlihat. Tentang siapa yang diuntungkan. Dan tentang siapa yang perlahan hilang dari perhatian.
Karena ketimpangan hari ini sering tidak datang dalam bentuk ekstrem.
Kadang ketimpangan muncul lebih halus. ketika satu orang datang ke kota untuk healing, sementara orang lain masuk ke kota yang sama hanya untuk bertahan hidup.
Lalu menurutmu Jogja masih terasa seperti rumah, atau perlahan berubah menjadi panggung yang terlalu sibuk menjual nostalgia?
Jogja Indah, Tapi Siapa yang Benar-Benar Menikmatinya?
Jogja mungkin masih istimewa. Tapi pertanyaannya: istimewa untuk siapa?. @teguh




