Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Reformasi 1998 dan Pengkhianatan Idealisme: Ke Mana Nurani Itu Pergi?

by dimas
Mei 23, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Reformasi 1998 melahirkan harapan sekaligus pengkhianatan intelektual. Ke mana nurani para aktivis setelah 28 tahun?

Tabooo.id – Malam itu, Jakarta seperti kota yang kehilangan napas. Asap membubung dari sudut-sudut jalan. Ribuan mahasiswa memenuhi Gedung DPR/MPR.

Mereka duduk di atas kubah parlemen sambil meneriakkan satu kata yang sama reformasi.

Keyakinan pada kekuatan suara rakyat membuat mereka percaya bahwa kekuasaan bisa runtuh.

Di tengah ancaman dan ketakutan, keberanian justru tumbuh menjadi energi perlawanan.

Dua puluh delapan tahun berlalu. Reformasi masih diperingati setiap Mei. Foto-foto demonstrasi terus beredar di media sosial. Namun, satu pertanyaan tetap menggantung, setelah semua itu, bangsa ini sebenarnya sedang berjalan ke mana?

Ini Belum Selesai

Menjaga Mata Air, Merawat Tradisi Dawetan Umbul Kroman, Klaten

Kisah Jenderal Hoegeng: Integritas di Tengah Godaan Kekuasaan

“Kita ke mana? Mau ke mana? Hendak mencari apa?”

Penggalan lagu “Kelana” milik Tulus terasa seperti suara batin Reformasi hari ini. Lagu itu berbicara tentang manusia yang kehilangan arah. Indonesia pasca 1998 tampak mengalami hal yang sama. Reformasi yang dulu melahirkan harapan kini perlahan kehilangan makna.

Romantisisme yang Kehilangan Nurani

Mahasiswa pernah menjadi simbol keberanian. Angkatan 1998 hadir sebagai wajah perlawanan terhadap otoritarianisme Orde Baru. Mereka memenuhi jalanan, menghadapi aparat, bahkan mempertaruhkan nyawa demi perubahan politik.

Namun waktu bergerak cepat.

Sebagian mantan aktivis tetap menjaga idealisme. Mereka masih berdiri bersama rakyat. Sayangnya, sebagian lain justru masuk ke lingkar kekuasaan dan menikmati sistem yang dulu mereka lawan.

Kalimat-kalimat perlawanan yang dulu menggema di jalan kini terasa seperti janji yang mereka telan kembali sendiri.

Aktivisme akhirnya berubah arah. Banyak orang tidak lagi memandang gerakan mahasiswa sebagai ruang perjuangan, tetapi sebagai panggung pencitraan. Demonstrasi sering melahirkan figur baru yang haus pengakuan sosial. Idealisme berubah menjadi identitas. Perjuangan berubah menjadi konten.

Mahasiswa hari ini tumbuh dengan romantisisme Angkatan 1998. Mereka mengenal reformasi lewat mural, dokumenter, dan cerita senior kampus. Namun mereka juga menyaksikan ironi yang pahit: sebagian tokoh reformasi kini membela kekuasaan secara terang-terangan.

Di titik itu, aktivisme mulai kehilangan akar moralnya.

Ketika Aktivisme Menjadi Panggung

Tulisan Alvino Kusumabrata dalam Jurnal Prisma 45 tahun 2026 menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa pasca-Reformasi lahir dari warisan angkatan sebelumnya: 1966, 1974, 1978, hingga 1998.

Masalahnya, warisan itu kini lebih sering hadir sebagai romantisisme heroik daripada etika perjuangan.

Mahasiswa masih memakai simbol-simbol perlawanan lama. Mereka masih membawa narasi “agen perubahan”. Namun banyak gerakan gagal membangun hubungan nyata dengan masyarakat.

Aktivisme terlihat gagah di media sosial, tetapi sering kehilangan denyut rakyat di lapangan.

Mahasiswa akhirnya berdiri seperti kelompok eksklusif yang berbicara atas nama rakyat tanpa benar-benar hidup bersama rakyat. Mereka sibuk membangun citra perlawanan, tetapi lupa merawat empati sosial.

Padahal perjuangan tidak lahir dari sorotan kamera.

Perjuangan lahir dari keberanian menjaga nurani saat tidak ada yang menonton.

Pengkhianatan yang Terus Berulang

Soe Hok Gie pernah menyindir teman-temannya yang duduk di parlemen dengan mengirimkan bedak dan lipstik. Sindiran itu lahir dari kemarahan terhadap intelektual yang berubah menjadi penjilat kekuasaan.

Dalam catatan hariannya, Gie menulis:

“Dan apakah nasib kemanusiaan? Dikhianati? Saya kira sejarah pun tak dapat menjawabnya.”

Kalimat itu terasa hidup sampai hari ini.

Indonesia berkali-kali melahirkan aktivis pemberani. Namun sejarah juga berkali-kali menunjukkan bagaimana kekuasaan mampu mengubah idealisme menjadi kompromi.

Orang-orang yang dulu meneriakkan perubahan perlahan menikmati kenyamanan sistem. Mereka berbicara tentang realisme politik, mereka menyebut kompromi sebagai kedewasaan dan mereka memakai pragmatisme sebagai alasan untuk membenarkan kedekatan dengan kekuasaan.

Masalahnya, kompromi yang terlalu jauh sering membunuh nurani sedikit demi sedikit.

Ini bukan sekadar kisah mantan aktivis yang masuk pemerintahan.

Ini pola lama tentang bagaimana kekuasaan menyerap orang-orang yang dulu melawannya.

Aktivisme yang Tercerabut dari Rakyat

Aktivisme seharusnya menjadi alat penggerak masyarakat. Namun banyak gerakan mahasiswa justru kehilangan hubungan emosional dengan rakyat.

Mahasiswa lupa bahwa mereka bukan penonton penderitaan sosial. Mereka bagian dari masyarakat itu sendiri.

Akibatnya, aksi sering berubah menjadi ritual simbolik. Demonstrasi berlangsung besar di jalanan, tetapi gaungnya cepat hilang setelah kamera mati. Gerakan terlihat ramai, tetapi tidak selalu melahirkan perubahan nyata.

Padahal sejarah tidak membutuhkan pahlawan kesiangan.

Sejarah membutuhkan manusia yang tetap jujur saat semua orang mulai nyaman dengan kekuasaan.

Reformasi 1998 memang berhasil menjatuhkan rezim Orde Baru. Namun reformasi tidak otomatis melahirkan manusia yang tahan terhadap godaan jabatan dan privilese.

Di situlah tragedi terbesar itu muncul.

Bangsa ini berhasil mengganti sistem politik, tetapi gagal menjaga konsistensi moral sebagian orang yang dulu memperjuangkannya.

Ke Mana Mereka Pergi?

Dua puluh delapan tahun setelah Reformasi, pertanyaan itu masih relevan.

Ke mana para aktivis pergi setelah kemenangan datang?

Sebagian mungkin tetap hidup sederhana sambil menjaga idealisme dalam diam. Sebagian lain larut dalam sistem yang dulu mereka benci. Dan sebagian besar mungkin masih berjalan tanpa arah, seperti “kelana” yang kehilangan tujuan hidupnya sendiri.

Sebab sejarah tidak hanya menguji keberanian untuk melawan penguasa.

Sejarah juga menguji siapa yang mampu bertahan tanpa berubah menjadi wajah baru dari kekuasaan itu sendiri. @dimas

Tags: Aktivisme MahasiswaDemokrasi Indonesiagerakan mahasiswaPengkhianatan Intelektualreformasi 1998

Kamu Melewatkan Ini

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

by dimas
November 1, 2026

TNI turun mengamankan demonstrasi memunculkan pertanyaan tentang batas kewenangan militer, supremasi sipil, dan perlindungan kebebasan berpendapat. Tabooo.id - Demonstrasi merupakan...

Aksi 28 Oktober: Retaknya Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah

Aksi 28 Oktober: Retaknya Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah

by dimas
Oktober 31, 2026

Aksi 28 Oktober mencerminkan keresahan publik terhadap pemerintah, mulai dari persoalan ekonomi, pendidikan, hingga kebebasan sipil dan kepercayaan publik. Tabooo.id...

Sumpah Pemuda 2026 di Jogja: Massa Bersatu, Tuntutan Menumpuk

Sumpah Pemuda 2026 di Jogja: Massa Bersatu, Tuntutan Menumpuk

by Waras
Oktober 29, 2026

Demonstrasi tidak selalu dimulai dari satu kemarahan. Terkadang, ia tumbuh dari banyak persoalan yang menumpuk terlalu lama: penghasilan yang tak...

Next Post
Malioboro Tengah Malam: Kota Wisata atau Arena Bertahan Hidup?

Malioboro Tengah Malam: Kota Wisata atau Arena Bertahan Hidup?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id