Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Purbaya vs Ekonom TikTok: Pertarungan Data dan Ketakutan Publik

by dimas
Mei 22, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadhewa menepis ketakutan krisis 1998 di tengah pelemahan rupiah. Namun di era TikTok, publik justru lebih percaya narasi ketakutan dibanding data resmi negara.

Tabooo.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadhewa tampil santai di panggung Jogja Financial Festival (JFF) 2026. Ia tersenyum. Sesekali ia tertawa kecil saat berdiskusi bersama Founder CT Corp Chairul Tanjung di Jogja Expo Center (JEC), Jumat (22/5/2026).

Namun di balik suasana ringan itu, pemerintah menghadapi kegelisahan besar: publik mulai lebih percaya TikTok dibanding data negara.

Karena itulah Purbaya beberapa kali terlihat heran sekaligus kesal.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen. Konsumsi masyarakat meningkat. Penjualan mobil dan motor ikut naik. Konsumsi listrik serta bahan bakar juga bergerak positif.

Namun di luar ruang seminar, masyarakat merasakan situasi yang berbeda.

Ini Belum Selesai

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Media sosial dipenuhi narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Rupiah melemah. PHK terus bermunculan. Harga kebutuhan terasa naik. Anak muda mulai merasa masa depan semakin mahal.

Akibatnya, publik mulai bertanya: siapa yang sebenarnya bohong?

Negara atau realitas sehari-hari?

Ketika Ketakutan Menjadi Mesin Konten

Purbaya lalu melontarkan pernyataan yang langsung menyita perhatian peserta forum.

“Setelah saya analisa lebih lanjut, ternyata itu kebanyakan adalah analisa ekonom di TikTok,” katanya.

Kalimat itu memang terdengar seperti candaan. Namun ucapan itu sebenarnya menggambarkan perubahan besar dalam cara masyarakat memahami ekonomi.

Dulu, publik menunggu penjelasan ekonom kampus, bank sentral, atau laporan resmi pemerintah. Sekarang, algoritma media sosial justru menentukan siapa yang layak dipercaya.

Satu video berdurasi satu menit bahkan bisa memengaruhi persepsi publik lebih cepat dibanding laporan ekonomi setebal ratusan halaman.

Masalahnya sederhana: ketakutan selalu lebih laku dibanding penjelasan rasional.

Karena itu, konten bertema “Indonesia menuju krisis”, “rupiah akan hancur”, atau “1998 akan terulang” jauh lebih mudah viral dibanding grafik pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, platform digital tidak mengejar akurasi.

Platform digital mengejar emosi.

Semakin menakutkan narasi, semakin tinggi interaksi.

Semakin panik publik, semakin besar algoritma menyebarkannya.

Akibatnya, media sosial mengubah ekonomi menjadi tontonan emosional.

Trauma 1998 Masih Hidup di Kepala Publik

Purbaya mencoba memotong narasi ketakutan tersebut. Ia meminta masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan soal nilai tukar rupiah. Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding krisis 1998.

“Jadi teman-teman enggak usah takut tuh yang ribut-ribut nilai tukar akan jeblok seperti 1998,” ujarnya.

Selain itu, Purbaya mengklaim suplai dolar besar akan segera masuk ke dalam negeri sehingga rupiah berpotensi menguat.

Optimisme itu muncul setelah pemerintah menerbitkan aturan baru mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026 melalui PP Nomor 21 Tahun 2026.

Melalui aturan itu, pemerintah mewajibkan eksportir menempatkan 100 persen dolar hasil ekspor di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Pemerintah juga mengharuskan retensi dolar selama beberapa bulan untuk sektor tertentu.

Logikanya sederhana. Semakin banyak dolar parkir di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah akan semakin berkurang.

Karena itu, Purbaya bahkan memberi peringatan keras kepada pelaku pasar valuta asing.

“Saya bilang pemain valas cepat-cepat buang dolarnya. Kita akan dorong rupiah ke Rp15 ribu per dolar AS,” tegasnya.

Ucapan itu terdengar penuh percaya diri. Namun justru di situlah pertanyaan besarnya muncul.

Jika ekonomi memang sekuat itu, mengapa publik tetap merasa takut?

Negara Bicara Statistik, Anak Muda Bicara Tekanan Hidup

Menariknya, kritik paling tajam dalam forum tersebut justru datang dari dua siswa SMA.

Dewi Masyitoh, siswi SMAN 3 Yogyakarta, mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi yang dipamerkan pemerintah hanya menjadi “ilusi rata-rata”.

Ia menyoroti kemungkinan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya menguntungkan segelintir sektor padat modal dan kelompok atas. Sementara itu, masyarakat bawah justru menghadapi tekanan daya beli.

“Apakah angka pertumbuhan makro yang membaik ini sebenarnya menyimpan risiko ilusi rata-rata?” tanyanya.

Pertanyaan itu langsung mengubah arah diskusi.

Sebab banyak orang sebenarnya tidak terlalu peduli apakah ekonomi tumbuh 5 persen atau 7 persen.

Masyarakat hanya ingin tahu satu hal: apakah hidup semakin ringan atau justru semakin berat?

Di media sosial, pertanyaan itu terus muncul setiap hari.

Harga makan naik.

Biaya kos meningkat.

Lapangan kerja terasa makin sempit.

Namun pemerintah terus mengatakan ekonomi baik-baik saja.

Akhirnya, publik hidup di antara dua realitas sekaligus: realitas statistik dan realitas psikologis.

Generasi yang Tumbuh Bersama Kecemasan

Siswa SMA Taruna Nusantara, Patik Sinaga, kemudian menyinggung penurunan IHSG dan mempertanyakan kemampuan Indonesia menjaga target pertumbuhan ekonomi 6,5 persen pada 2027.

Pertanyaannya memang terlihat polos. Namun pertanyaan itu terasa sangat relevan.

Generasi muda Indonesia hari ini tumbuh bersama ketidakpastian.

Mereka lahir setelah Reformasi.

Mereka melewati pandemi.

Media sosial terus memperlihatkan PHK massal hampir setiap hari.

Selain itu, layar ponsel mereka juga menampilkan perang global, inflasi, dan ancaman resesi tanpa jeda.

Akibatnya, generasi ini hidup dalam situasi yang unik. Ekonomi mungkin tumbuh, tetapi rasa aman tidak ikut tumbuh.

Karena itu, publik lebih mudah merasakan ketakutan dibanding mempercayai statistik.

Ini Bukan Sekadar Soal Rupiah

Purbaya mungkin benar ketika menyebut fundamental ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibanding 1998.

Namun persoalan sebenarnya tampaknya bukan lagi sekadar soal data ekonomi.

Masalah utamanya adalah krisis kepercayaan.

Publik tidak lagi hidup berdasarkan angka resmi semata.

Mereka hidup berdasarkan timeline media sosial.

Sementara itu, timeline terus memproduksi kecemasan setiap hari.

Di era digital, ketakutan bergerak jauh lebih cepat dibanding klarifikasi.

Algoritma membentuk persepsi publik bahkan sebelum negara selesai menjelaskan data.

Lalu perlahan, masyarakat mulai menaruh kepercayaan lebih besar pada konten viral dibanding institusi resmi.

Dan mungkin, di situlah ancaman terbesar ekonomi hari ini sebenarnya berada.

Bukan pada nilai tukar rupiah.

Bukan pada angka pertumbuhan ekonomi.

Melainkan pada runtuhnya kepercayaan publik terhadap siapa yang layak dipercaya. @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaJogja Financial FestivalKrisis 1998Purbaya Yudi SadhewaRupiah MelemahTikTok Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

by teguh
Juli 17, 2026

Indonesia akhirnya memulai pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela setelah menunggu hampir tiga dekade. Kabar itu memang layak disambut. Namun satu...

Gelombang PHK dan Memudarnya Rasa Aman Pekerja

Gelombang PHK dan Memudarnya Rasa Aman Pekerja

by dimas
Juli 17, 2026

Gelombang PHK yang kembali meningkat memicu memudarnya rasa aman pekerja. Di tengah sulitnya mencari kerja, ketidakpastian pasar tenaga kerja kian...

Blok Masela Bergerak Setelah 28 Tahun. Yang Hilang Bukan Sekadar Waktu

Blok Masela Bergerak Setelah 28 Tahun. Yang Hilang Bukan Sekadar Waktu

by teguh
Juli 17, 2026

Selama 28 tahun, Lapangan Abadi Blok Masela lebih sering menjadi bahan rapat daripada sumber energi. Sementara Indonesia sibuk memperdebatkan lokasi...

Next Post
Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id