Saat mendengar kata Yakuza, banyak orang langsung membayangkan mafia Jepang tato penuh tubuh, bisnis ilegal, kekerasan, dan bayangan dunia kriminal yang hidup dari rasa takut. Selama bertahun-tahun, nama itu berdiri sebagai simbol sisi gelap kehidupan.
Tabooo.id – Namun di Kediri, Jawa Timur, nama yang sama justru mengambil jalan berbeda. Sekelompok orang memilihnya sebagai simbol pertobatan. Mereka membangun organisasi bernama YAKUZA Maneges, kependekan dari “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.”
Deklarasi organisasi itu berlangsung pada Sabtu, 09/05/2026, dan langsung menarik perhatian publik. Sebagian orang memuji langkah tersebut sebagai pendekatan dakwah yang berani. Sebagian lain justru mempertanyakan sensitivitas penggunaan nama yang selama ini identik dengan organisasi kriminal internasional.
Namun inti ceritanya mungkin bukan soal nama. Pertanyaan yang jauh lebih penting justru muncul di belakangnya kenapa gerakan spiritual memilih simbol yang terasa begitu gelap?
“Organisasi Yakuza Maneges ini lagi bukan sekadar sebagai wadah berkumpul namun sebagai sebuah sarana perubahan dan pengabdian. Organisasi yang Yakuza Maneges membawa filosofi dan makna yang mendalam. Yakuza, yang awalnya kotor ujungnya zuhud abadi,” ujar pendiri YAKUZA Maneges, Den Gus Thuba atau Thuba Topo Broto Maneges, dalam pidato deklarasi organisasi, Sabtu, 9 Mei 2026.
Di balik akronim yang terdengar tidak biasa, organisasi ini menyimpan misi yang cukup serius: merangkul orang-orang yang pernah hidup keras, merasa tersesat, atau terlalu lama merasa jauh dari agama.
Fokus mereka bukan manusia sempurna. Komunitas ini justru hadir untuk orang-orang yang pernah jatuh dan masih mencoba berdiri lagi.
Ketika Dakwah Formal Tidak Lagi Menyentuh Kelompok Pinggiran
Banyak orang percaya bahwa rumah ibadah selalu terbuka bagi siapa saja. Sayangnya, realitas sosial tidak selalu berjalan seindah kalimat itu.
Sebagian orang justru merasa asing ketika mencoba kembali mendekat pada agama. Mantan pecandu, eks pelaku kriminal, anak jalanan, atau mereka yang membawa masa lalu kelam sering kali menghadapi tatapan penuh curiga.
Ceramah terdengar indah. Tetapi sebagian dari mereka merasa bahasa agama terlalu jauh dari pengalaman hidup sehari-hari.
Akibatnya, banyak kelompok marginal memilih menjauh. Mereka sebenarnya tidak menolak agama. Mereka hanya belum menemukan ruang yang terasa menerima.
Sosiolog Musni Umar pernah menjelaskan bahwa pendekatan kepada kelompok pinggiran memang membutuhkan cara yang berbeda.
“Pendekatan kepada masyarakat pinggiran tidak selalu bisa dilakukan dengan bahasa formal dan akademik. Kadang mereka justru tersentuh lewat simbol yang mereka kenal,” ujar Musni Umar dalam kajian sosial komunitas urban tahun 2022. Pandangan itu terasa relevan dengan langkah YAKUZA Maneges.
Alih-alih menggunakan simbol religius yang formal, komunitas ini justru memilih nama yang terasa keras, kontroversial, bahkan mengganggu. Pilihan itu tampaknya bukan tanpa alasan.
Orang yang pernah hidup dekat dengan dunia keras biasanya lebih mudah memahami bahasa yang terasa akrab dengan pengalaman mereka sendiri. Di titik inilah nama “Yakuza” tampaknya bekerja sebagai simbol.
Bukan untuk mengagungkan kriminalitas, tetapi untuk menunjukkan bahwa bahkan sesuatu yang gelap pun bisa berubah makna. Kalau nama saja bisa direbut kembali, kenapa manusia tidak?
Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi
Filosofi YAKUZA Maneges terdengar sederhana, tapi terasa menusuk “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.”
Kalimat itu seperti pengakuan jujur tentang hidup manusia. Manusia bisa salah. Sebagian orang pernah jatuh terlalu jauh.
Tidak sedikit pula yang terlalu lama hidup di ruang gelap sebelum akhirnya mencoba berubah.
Namun perubahan sering kali menghadapi satu lawan besar: stigma sosial.
Negara rutin berbicara soal rehabilitasi. Pemerintah terus mengangkat isu pembinaan karakter. Sayangnya, masyarakat sering bergerak lebih lambat dalam memberi kesempatan kedua.
Eks narapidana kesulitan mencari kerja. Mantan pecandu masih menghadapi kecurigaan. Orang yang pernah salah sering tetap membawa label lama, bahkan setelah berusaha berubah.
Ironisnya, masyarakat sering meminta seseorang menjadi lebih baik, tapi tetap sulit percaya ketika perubahan itu benar-benar datang.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar pernah menegaskan bahwa agama semestinya hadir sebagai ruang kembali.
“Agama harus hadir sebagai jalan pulang, bukan sekadar alat menghakimi,” ujar Nasaruddin Umar dalam pidato Hari Santri Nasional 2025.
Pernyataan itu terasa dekat dengan semangat YAKUZA Maneges. Sebab organisasi ini tampaknya mencoba menjangkau orang-orang yang terlalu lama merasa tidak layak diterima.
Gus Miek dan Tradisi Dakwah ke Mereka yang Dianggap “Nakal”
YAKUZA Maneges tidak muncul tanpa akar.
Komunitas ini bernaung di bawah Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikirul Ghofilin, tradisi spiritual yang sangat lekat dengan nama Gus Miek.
Banyak orang mengenal Gus Miek sebagai pendakwah dengan pendekatan tidak biasa. Ia memilih masuk ke terminal, tempat hiburan malam, komunitas jalanan, hingga ruang sosial yang sering dianggap terlalu “kotor” oleh sebagian kalangan.
Cara dakwahnya terasa sederhana tapi kuat. Gus Miek memilih mendekat ketimbang menghakimi. Pendekatan itu membuat banyak orang merasa diterima, bukan dijauhkan.
Budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pernah berbicara tentang pentingnya kesadaran manusia dalam proses perubahan.
“Manusia itu tidak cukup dihakimi, tapi harus dipeluk kesadarannya,” ujar Cak Nun dalam forum Maiyah tahun 2021. Kalimat itu terasa seperti napas besar dari lahirnya YAKUZA Maneges.
Sebab perubahan jarang tumbuh dari rasa takut. Sebaliknya, penerimaan sering menjadi pintu pertama menuju pertobatan.
Nama yang Mengganggu, atau Strategi yang Cerdas?
Tentu, penggunaan nama “Yakuza” tetap mengundang perdebatan.
Sebagian masyarakat melihatnya sebagai strategi dakwah kreatif. Di sisi lain, tidak sedikit yang menilai simbol itu terlalu problematis karena memiliki sejarah kriminal yang kuat.
Pengamat komunikasi sosial Suko Widodo menilai simbol kontroversial memang cepat menarik perhatian, tetapi tetap menyimpan risiko persepsi.
“Dalam komunikasi publik, simbol yang kuat memang cepat viral. Tapi organisasi juga harus siap menjelaskan konteks agar publik tidak berhenti pada sensasi nama,” ujarnya dalam wawancara media tahun 2024.
Pendapat itu terasa masuk akal. Media sosial sering membuat orang berhenti pada simbol, bukan substansi.
Publik ramai memperdebatkan nama “Yakuza”, tetapi belum tentu memahami pesan yang ingin mereka bawa. Padahal inti persoalannya tampak jauh lebih manusiawi.
Bukan Sekadar Organisasi. Ini Cara Kita Memperlakukan Orang yang Pernah Jatuh
Kemunculan YAKUZA Maneges sebenarnya membuka pertanyaan yang jauh lebih besar. Seberapa siap masyarakat menerima orang yang sungguh-sungguh ingin berubah?
Pertobatan tidak hanya membutuhkan niat pribadi. Lingkungan sosial juga ikut menentukan.
Stigma masa lalu sering membuat seseorang sulit percaya bahwa masa depan masih mungkin berubah. Ketika masyarakat terus memanggil seseorang berdasarkan kesalahan lama, ruang untuk tumbuh ikut menyempit.
Ironisnya, banyak orang meminta perubahan, tapi tetap memelihara prasangka.
Di situlah YAKUZA Maneges terasa menarik. Ini bukan sekadar organisasi dengan nama unik.
Ini potret tentang orang-orang yang mencoba mendefinisikan ulang hidup mereka.
Sebab kadang manusia tidak membutuhkan ceramah panjang. Kadang mereka hanya membutuhkan satu hal ruang untuk pulang. @teguh





