Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pesta Babi Papua: Saat Kehormatan, Alam, dan Identitas Bertemu

by jeje
Mei 20, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter
Bagi sebagian orang, babi mungkin hanya hewan ternak. Namun, bagi banyak masyarakat adat Papua, Pesta babi bisa berarti kehormatan, keluarga, bahkan harga diri. Karena itu, ketika tradisi pesta babi kembali menjadi sorotan lewat film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, publik tidak hanya melihat ritual adat. Mereka sedang melihat cara sebuah komunitas menjaga identitas di tengah perubahan zaman.

Tabooo.id – Tradisi pesta babi kembali mencuri perhatian publik setelah film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kitakarya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale mengangkat ritual ini. Film tersebut tidak hanya menampilkan tradisi adat. Sebaliknya, dokumenter itu juga memunculkan pertanyaan besar: kenapa sebuah ritual bisa berbicara tentang tanah, identitas, hingga tekanan zaman modern?

Lebih dari Sekadar Pesta

Bagi banyak masyarakat adat Papua, terutama di wilayah Pegunungan Tengah hingga Papua Selatan, pesta babi memiliki makna sosial yang jauh lebih dalam daripada sekadar perayaan.

Lembaga arsip budaya Papua, Stichting Papua Erfgoed, menjelaskan bahwa masyarakat adat telah menempatkan babi sebagai bagian penting dalam struktur sosial sejak lama. Bahkan, jumlah babi yang dimiliki seseorang sering menunjukkan status sosial dan pengaruh mereka di lingkungan sekitar.

Namun, fungsi babi tidak berhenti di situ.

Masyarakat adat juga menggunakan babi sebagai mas kawin pernikahan, alat pembayaran adat, hingga simbol penghormatan saat menyambut tamu penting. Karena itu, kehadiran babi tidak pernah berdiri sendiri. Hewan ini selalu hadir dalam hubungan sosial masyarakat Papua.

Ini Belum Selesai

Seni dalam Kain: Merawat Warisan, Menolak Dilupakan

Lima Film Dokumenter TABOOO Cinema Lab Rekam Realita di Winongo

Peneliti antropologi asal Belanda, H.L. Peters, yang pernah tinggal bersama masyarakat Dani di Lembah Baliem pada akhir 1950-an, juga mencatat hal serupa.

“Babi biasanya dipotong hanya pada momen adat besar atau peristiwa sosial penting,” tulis Peters dalam catatannya tentang masyarakat Dani.

Artinya, masyarakat Papua tidak menyembelih babi secara sembarangan. Sebaliknya, mereka menjadikan momen itu sebagai ruang berkumpul yang mempertemukan keluarga, kampung, dan hubungan sosial.

Awonbon dan Atatbon: Dua Wajah Pesta Babi

Di kalangan suku Muyu di Boven Digoel, Papua Selatan. Masyarakat mengenal dua bentuk pesta babi: awonbon dan atatbon.

Keluarga inti biasanya menggelar awonbon dalam skala kecil dengan jumlah tamu terbatas. Sementara itu, satu marga atau klan menyelenggarakan atatbon dalam skala besar dengan mengundang kelompok masyarakat lain.

Dalam tradisi atatbon, tuan rumah membagikan daging babi kepada tamu sebagai simbol persaudaraan dan hubungan timbal balik.

Karena itu, pesta babi tidak hanya menjadi acara makan bersama. Lebih dari itu, masyarakat adat memakainya untuk menjaga hubungan sosial agar tetap hidup.

Ngerawat Babi Seperti Keluarga

Ada satu hal lain yang sering luput dari perhatian publik luar Papua.

Masyarakat adat tidak menyiapkan pesta babi dalam waktu singkat. Mereka memelihara hewan itu selama bertahun-tahun sebelum menggunakannya dalam ritual adat.

Dalam sejumlah tradisi lama, perempuan adat merawat anak babi layaknya anggota keluarga. Mereka bahkan membawa anak babi menggunakan noken saat pergi ke kebun atau mencari sagu.

Setelah babi tumbuh besar, masyarakat adat melepaskannya ke kawasan hutan adat. Kemudian, mereka kembali memburu hewan itu ketika waktu pesta telah tiba.

Tradisi ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar: hubungan emosional masyarakat adat Papua dengan alam.

Bagi mereka, hutan bukan sekadar ruang ekonomi. Sebaliknya, hutan menjadi tempat hidup, ruang ingatan, sekaligus tempat masyarakat menjaga hubungan dengan leluhur.

Tradisi di Tengah Tekanan Zaman

Film Pesta Babi juga memperlihatkan kenyataan yang lebih rumit.

Sebagian masyarakat adat di Papua Selatan kini menghadapi pembukaan hutan besar-besaran untuk proyek pangan dan energi nasional. Karena itu, pesta babi perlahan berubah menjadi lebih dari sekadar ritual budaya.

Tradisi ini menjadi simbol bertahan.

Masyarakat adat menggunakan ritual itu untuk menjaga identitas mereka di tengah perubahan yang bergerak terlalu cepat. Selain itu, pesta babi juga menjadi pengingat bahwa adat belum sepenuhnya hilang.

Kadang, sesuatu yang terlihat seperti pesta justru menjadi cara sebuah komunitas menjaga dirinya agar tidak ikut menghilang.

Namun, pertanyaan yang lebih besar muncul setelah itu: apakah film Pesta Babi benar-benar mengedukasi publik tentang Papua, atau justru diam-diam menggiring cara kita melihatnya? @jeje

Tags: Boven DigoelFilm Pesta Babimasyarakat adat PapuaPesta Babi

Kamu Melewatkan Ini

Herujuwono: Ketika Pers, Buruh, dan Senjata Melawan Kolonialisme

Herujuwono: Ketika Pers, Buruh, dan Senjata Melawan Kolonialisme

by Tabooo
Juli 17, 2026

Pemimpin pemberontakan. Dari kiri ke kanan, berdiri Dachlan, Herujuwono, tidak dikenal, Samodro. Duduk Baharudin Saleh, Machmud, Sukrawinata. (Sumber Lembaga Sedjarah...

Mama Sinta, Film Pesta Babi dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Pulang

Mama Sinta, Film Pesta Babi dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Pulang

by dimas
Juni 1, 2026

Polemik Mama Sinta dan film Pesta Babi membuka pertanyaan tentang hak atas identitas, masyarakat adat, dan perebutan narasi di Papua...

Mama Sinta vs Pesta Babi: Dokumentasi atau Eksploitasi?

Mama Sinta vs Pesta Babi: Dokumentasi atau Eksploitasi?

by dimas
Mei 30, 2026

Mama Sinta melaporkan dugaan penggunaan wajahnya dalam film Pesta Babi tanpa persetujuan. Kasus ini memicu perdebatan tentang dokumentasi, representasi, dan...

Next Post
WNI Dicegat Israel: Ketika Bantuan Kemanusiaan Dianggap Ancaman

WNI Dicegat Israel: Ketika Bantuan Kemanusiaan Dianggap Ancaman

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id