Di dunia modern, banyak anak muda tidak lagi takut gagal melainkan takut berhenti bekerja, bahkan sebentar saja. Di tengah hidup yang makin fleksibel tapi makin rapuh itu, pemikiran Guy Standing tentang “prekariat” terasa seperti cermin besar bagi generasi yang dipaksa hidup tanpa kepastian.
Tabooo.id: Jam menunjukkan pukul 02.13 pagi.
Laptop masih menyala.
Notifikasi kerja terus masuk.
Kopi tinggal setengah dingin di meja.
Besok memulai pagi dengan meeting. Minggu depan ada proyek baru. Bulan depan belum tentu ada pemasukan tetap.
Di luar sana, kota masih hidup. Motor ojek online terus bergerak. Freelancer masih mengejar revisi. Admin toko online masih membalas chat pelanggan sambil menahan kantuk. Semua orang terlihat sibuk. Semua orang terlihat produktif.
Tapi, banyak yang hidup dalam ketakutan yang sama:
takut tidak punya cukup uang untuk bertahan bulan depan.
Dulu, banyak orang percaya kerja keras bisa membawa hidup menuju stabilitas. Kuliah, cari kerja tetap, naik jabatan, beli rumah, lalu pensiun tenang. Selama puluhan tahun, masyarakat menjadikan mimpi kelas menengah itu sebagai formula hidup normal.
Masalahnya, dunia berubah terlalu cepat.
Hari ini, jutaan orang justru hidup dari kontrak pendek, proyek sementara, algoritma aplikasi, dan pekerjaan tanpa kepastian. Masa depan terasa seperti loading screen yang tidak pernah selesai.
Di tengah perubahan itu, muncul satu nama yang membaca kekacauan ini jauh sebelum media sosial ramai membahas burnout, hustle culture, atau quarter-life crisis: Guy Standing.
Ia menyebut kelas sosial baru itu dengan satu istilah yang sekarang terasa semakin nyata:
prekariat.
Guy Standing dan Retaknya Janji Kapitalisme Modern
Guy Standing bukan sekadar akademisi yang menulis teori dari ruang seminar kampus. Ia adalah ekonom pembangunan yang lama meneliti perubahan dunia kerja global melalui International Labour Organization dan SOAS University of London.
Tapi yang membuat pemikirannya terasa relevan bukan cuma latar akademiknya.
Standing melihat sesuatu yang sering orang anggap normal:
Masyarakat perlahan menjadikan ketidakpastian hidup sebagai budaya.
Ia melihat bagaimana globalisasi, ekonomi digital, dan kapitalisme modern mulai menghapus satu hal paling penting dari kehidupan manusia:
rasa aman.
Perusahaan mulai mengganti pegawai tetap dengan kontrak fleksibel.
Pekerjaan penuh waktu berubah menjadi gig economy.
Teknologi mempercepat semuanya.
Lalu dunia menyebutnya inovasi.
Padahal banyak orang sebenarnya hanya memoles kecemasan baru menjadi gaya hidup modern.
Prekariat: Kelas Sosial Baru
Dalam bukunya The Precariat: The New Dangerous Class, Guy Standing menjelaskan bahwa dunia sedang melahirkan kelas sosial baru.
Mereka disebut prekariat.
Kata itu berasal dari precarious dan proletariat. Tapi Standing menegaskan: prekariat bukan sekadar buruh modern. Mereka adalah manusia yang hidup tanpa kepastian permanen.
Hari ini kerja.
Besok belum tentu.
Hari ini ada proyek.
Bulan depan belum ada kabar.
Hari ini produktif.
Tapi tetap tidak merasa aman.
Freelancer.
Driver ojek online.
Pekerja kontrak startup.
Konten kreator.
Pekerja outsourcing.
Fresh graduate yang hidup dari magang ke magang.
Ironisnya, dunia modern memasarkan kondisi ini sebagai kebebasan.
Hustle Culture: Ketika Kelelahan Dijadikan Identitas
Media sosial mempercantik semuanya.
Banyak orang menganggap kurang tidur sebagai ambisi.
Banyak orang menganggap burnout sebagai bentuk dedikasi.
Saat orang menyebut lembur sebagai sesuatu yang keren.
Kalimat seperti:
“Kerja keras sekarang, nikmati nanti”
Masyarakat terus mengulangnya seperti doa ekonomi modern.
Masalahnya, banyak orang bahkan tidak yakin “nanti” itu benar-benar ada.
Anak muda hari ini tumbuh dalam budaya yang memuja produktivitas tanpa henti. Kalau istirahat terlalu lama, muncul rasa bersalah. Kalau tidak sibuk, terasa seperti gagal.
Di titik ini, kerja bukan lagi soal memenuhi kebutuhan hidup.
Kerja berubah menjadi alat pembuktian diri.
Dan kapitalisme modern menyukai manusia seperti itu:
manusia yang terus bekerja bahkan ketika tubuh dan mentalnya mulai runtuh.
Empat Luka Sosial Gerogoti Generasi Sekarang
Guy Standing menjelaskan bahwa hidup sebagai prekariat melahirkan empat tekanan psikologis besar: anxiety, alienation, anomie, dan anger.
Anxiety adalah kecemasan permanen.
Takut sakit karena biaya mahal.
Saat takut kehilangan pekerjaan karena kontrak bisa berhenti kapan saja.
Takut masa depan hancur hanya karena satu kesalahan kecil.
Alienation adalah keterasingan.
Banyak orang bekerja tanpa lagi merasa terhubung dengan pekerjaannya sendiri. Mereka hanya menjalankan tugas demi bertahan hidup.
Anomie adalah kehampaan sosial.
Hidup terasa bergerak cepat, tapi tanpa arah jelas. Tidak ada jalur karier yang benar-benar stabil. Tidak ada rasa memiliki masa depan.
Lalu muncul anger.
Kemarahan pada sistem yang terus meminta produktivitas, tapi gagal memberi rasa aman dasar.
Dan mungkin itu sebabnya generasi sekarang terlihat lelah bahkan sebelum benar-benar hidup.
Kapitalisme Hari Ini Tidak Membutuhkan Loyalitas
Dalam analisisnya, Standing melihat kapitalisme rentier lebih menguntungkan pemilik aset, teknologi, platform, dan data dibanding manusia yang bekerja di dalam sistem itu.
Perusahaan tidak lagi terlalu membutuhkan loyalitas jangka panjang.
Yang dibutuhkan hanya efisiensi.
Kalau bisa kontrak, kenapa harus tetap?
Ketika bisa outsourcing, kenapa harus memberi jaminan?
Kalau algoritma bisa mengontrol pekerja, kenapa harus membangun hubungan manusiawi?
Di era ekonomi digital, algoritma bahkan bisa menentukan nasib seseorang.
Order turun atau tidak.
Bonus berubah atau tidak.
Pendapatan cukup atau tidak.
Sistem digital yang tidak punya empati yang memutuskan semuanya.
Ironisnya, manusia sekarang sering diperlakukan seperti aplikasi versi trial:
dipakai selama berguna, lalu dihapus ketika tidak lagi efisien.
Ketika Ketidakpastian Menjadi Budaya Sosial
Masalah terbesar prekariat bukan cuma ekonomi.
Ketidakpastian yang terus-menerus akhirnya berubah menjadi budaya.
Orang jadi takut mengambil cuti.
Takut sakit.
Ada yang takut menikah.
Takut punya anak.
Takut berhenti bekerja bahkan sehari saja.
Banyak anak muda sekarang hidup dalam mode survival berkepanjangan.
Mereka terlihat aktif di media sosial. Tapi cemas memikirkan cicilan, kontrak kerja, biaya hidup, dan masa depan yang terasa kabur.
Di titik ini, teori Guy Standing terasa lebih dari sekadar analisis ekonomi.
Ia berubah menjadi cermin generasi modern.
Dunia Terlalu Sibuk Menyuruh Orang Bertahan
Yang paling menyakitkan mungkin bukan fakta bahwa dunia kerja makin keras.
Tapi kenyataan bahwa masyarakat mulai menganggap semua ini normal.
Banyak orang menganggap burnout sebagai tanda mental yang kurang kuat.
Banyak orang menganggap orang yang gagal mendapat pekerjaan sebagai pemalas.
Saat banyak orang menganggap miskin karena kurang usaha.
Padahal mungkin yang rusak bukan manusianya.
Mungkin sistemnya memang dirancang untuk membuat manusia terus merasa kurang aman.
Dan sejarah menunjukkan:
masyarakat yang kehilangan rasa aman biasanya mulai kehilangan rasa percaya.
UBI dan Hak untuk Hidup Lebih Manusiawi
Karena itulah Guy Standing mendukung konsep Universal Basic Income atau UBI yaitu pendapatan dasar universal tanpa syarat bagi warga negara.
Bagi banyak orang, ide itu terdengar utopis.
Tapi Standing percaya manusia tidak bisa terus hidup dalam ketakutan ekonomi permanen.
Karena ketika hidup hanya dipenuhi kecemasan untuk bertahan, manusia kehilangan kemampuan untuk benar-benar hidup.
Kehilangan waktu berpikir.
Saat kehilangan ruang bernapas.
Kehilangan rasa aman menjadi manusia.
Ini Bukan Sekadar Krisis Kerja. Ini Krisis Peradaban Modern.
Pemikiran Guy Standing terasa relevan karena ia membaca sesuatu yang lebih besar dari sekadar pasar kerja.
Ia membaca retaknya janji dunia modern.
Dunia yang dulu menjual stabilitas, sekarang menjual fleksibilitas.
Tempat yang dulu menjanjikan masa depan, sekarang hanya menawarkan kesempatan sementara.
Dunia yang dulu percaya kerja keras membawa keamanan, sekarang membuat manusia bekerja tanpa pernah merasa cukup aman.
Dan mungkin di situlah inti paling menyakitkan dari teori prekariat:
Generasi sekarang bukan malas bekerja.
Mereka cuma hidup di sistem yang membuat kerja keras tidak lagi menjamin rasa aman untuk menjadi manusia seutuhnya. @waras





