Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sum Kuning dan Orde Baru: Saat Keadilan Dibungkam oleh Nama Besar

by dimas
Mei 16, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Kasus Sum Kuning mengguncang Yogyakarta pada 1970 dan menjadi simbol bagaimana kekuasaan membelokkan hukum demi melindungi elite.

Tabooo.id – September 1970. Yogyakarta masih bergerak pelan di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Becak melintas tanpa suara gaduh. Radio-radio tua memutar lagu lawas dari rumah-rumah yang mulai tertidur. Namun malam itu, sebuah tragedi memecah ketenangan kota.

Seorang gadis penjual telur pulang dengan tubuh penuh luka dan hidup yang berubah selamanya.

Namanya Sum Kuning.

Ia baru berusia 17 tahun ketika sekelompok pemuda menculik dan memperkosanya secara bergilir. Warga segera membicarakan identitas para pelaku. Banyak orang menyebut mereka berasal dari keluarga berpengaruh. Pada masa Orde Baru, status sosial sering lebih kuat daripada suara korban.

Karena itulah, kasus ini cepat berubah menjadi ketakutan publik.

Ini Belum Selesai

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

Gempa NTT Belum Usai, 87 Tewas dan 150 Ribu Mengungsi

Alih-alih mengejar pelaku, aparat justru membangun narasi berbeda. Polisi memeriksa Sum Kuning berhari-hari dan menekannya dengan berbagai pertanyaan. Aparat memperlakukan korban seperti tersangka. Situasi itu memicu kemarahan masyarakat karena hukum terlihat kehilangan nurani.

Padahal, seorang korban seharusnya mendapat perlindungan, bukan intimidasi.

Rekayasa Kasus dan Nama-Nama yang Terlindungi

Tekanan publik terus membesar. Akan tetapi, arah penyelidikan malah bergerak semakin aneh. Polisi menghadirkan seorang tukang bakso bernama Trimo sebagai pelaku tunggal. Langkah itu membuat banyak orang curiga karena cerita yang muncul terasa tidak masuk akal.

Publik melihat pola yang jelas: seseorang sedang melindungi nama besar.

Selain itu, berbagai rumor mengenai “anak pejabat” semakin menyebar dari kampus ke warung kopi. Mahasiswa mulai turun ke jalan. Diskusi publik berubah menjadi gelombang protes. Mereka tidak hanya menuntut keadilan untuk Sum Kuning, tetapi juga mempertanyakan keberanian negara menghadapi elite sendiri.

Di titik itu, kasus Sum Kuning tidak lagi menjadi kasus kriminal biasa.

Kasus ini berubah menjadi simbol tentang bagaimana kekuasaan dapat membelokkan hukum.

Hoegeng Melawan Arus Kekuasaan

Di tengah kekacauan itu, Kapolri Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso turun langsung menangani kasus tersebut. Banyak orang mengenal Hoegeng sebagai polisi yang bersih dan keras terhadap penyimpangan. Karena itu, kehadirannya memberi harapan baru bagi publik.

Hoegeng kemudian membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus Sum Kuning. Ia bahkan mengakui adanya rekayasa dan intervensi dari orang-orang kuat. Pernyataan itu mengguncang situasi politik saat itu.

Namun, keberanian sering membawa harga mahal.

Tekanan politik terus menguat. Tidak lama kemudian, pemerintah mencopot Hoegeng dari jabatannya. Banyak pihak percaya pencopotan itu berkaitan dengan upayanya membongkar kasus Sum Kuning.

Sejak saat itu, harapan publik mulai runtuh.

Ketika Pengadilan Kehilangan Nurani

Setelah Hoegeng tersingkir, proses hukum bergerak cepat. Pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis kepada Sum Kuning atas tuduhan memberikan keterangan palsu. Sementara itu, pelaku yang sebenarnya tidak pernah muncul ke hadapan publik.

Putusan tersebut meninggalkan luka besar dalam sejarah hukum Indonesia.

Pengadilan yang seharusnya melindungi korban justru menghukum orang yang mencari keadilan. Selain itu, media-media yang mencoba mengkritik kasus ini juga menghadapi tekanan keras dari pemerintah Orde Baru. Negara tidak hanya mengontrol hukum, tetapi juga mengendalikan suara publik.

Karena itulah, kasus Sum Kuning berubah menjadi simbol pembungkaman.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menghapus kebenaran secara perlahan. Negara membiarkan korban tenggelam dalam sunyi, sementara publik dipaksa menerima versi resmi yang penuh lubang.

Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Hingga hari ini, jejak kehidupan Sum Kuning nyaris tidak terdengar lagi. Publik hampir tidak menemukan cerita tentang bagaimana ia melanjutkan hidup setelah tragedi itu. Keheningan tersebut terasa seperti bagian dari luka panjang yang belum selesai.

Namun sejarah selalu menyimpan gema.

Kasus Sum Kuning terus hidup dalam ingatan banyak orang sebagai simbol gelap Orde Baru. Tragedi ini mengingatkan publik bahwa hukum bisa kehilangan arah ketika kekuasaan ikut bermain. Selain itu, kasus ini menunjukkan bahwa korban sering menghadapi pertarungan kedua setelah kekerasan terjadi: pertarungan melawan sistem.

Dan sampai hari ini, pertanyaan itu masih menggantung di udara, kalau negara gagal melindungi korban, lalu siapa yang benar-benar aman?

“Ketika kekuasaan takut pada kebenaran, korban sering dipaksa menanggung rasa malu sendirian.” @dimas

Tags: Kekerasan SeksualKetidakadilan HukumOrde BaruSum Kuning

Kamu Melewatkan Ini

Teuku Markam: Dekat dengan Kekuasaan, Jatuh Bersama Rezim

Teuku Markam: Dekat dengan Kekuasaan, Jatuh Bersama Rezim

by Waras
Agustus 23, 2026

Teuku Markam pernah berada di dekat pusat kekuasaan, mengelola bisnis besar, dan ikut membiayai proyek negara. Namun ketika rezim berganti,...

Rumah dan Sekolah Tak Aman, Mengapa Perempuan Jadi Korban?

Rumah dan Sekolah Tak Aman, Mengapa Perempuan Jadi Korban?

by dimas
Agustus 15, 2026

Rumah dan sekolah belum sepenuhnya aman bagi perempuan. Data 2025 mencatat 38.810 korban kekerasan, dengan anak perempuan sebagai korban terbesar....

Guru Ngaji Cabuli Murid di Sukabumi, Kepercayaan yang Dikhianati

Guru Ngaji Cabuli Murid di Sukabumi, Kepercayaan yang Dikhianati

by dimas
Agustus 4, 2026

Guru mengaji di Sukabumi diduga mencabuli murid selama lima tahun. Kasus ini memicu sorotan terhadap lemahnya perlindungan dan pengawasan anak....

Next Post
Capital Volume I: Cara Kapital Hidup dari Kerja Orang Lain – Marx Series #1

Capital Volume I: Cara Kapital Hidup dari Kerja Orang Lain - Marx Series #1

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id