Gowok adalah tradisi yang dulu dianggap sebagai bagian dari pendidikan kehidupan dan persiapan pernikahan, tetapi hari ini masyarakat lebih sering memandangnya sebagai sesuatu yang memalukan, cabul, bahkan berdosa tanpa mencoba memahami konteks budaya dan nilai sosial yang pernah hidup di balik tradisi tersebut.
Tabooo.id – Di Banyumas tempo dulu, keluarga calon pengantin laki-laki kadang mengirim anak mereka ke rumah seorang perempuan dewasa bernama Gowok. Di tempat itu, laki-laki muda mempelajari tubuh, relasi, tanggung jawab, hingga cara menjalani kehidupan rumah tangga.
Dulu masyarakat membicarakan hal itu secara terbuka. Sekarang, banyak orang justru mempelajarinya diam-diam lewat internet.
Ketika Tubuh Menjadi Topik yang Menakutkan
Ada ironi besar dalam cara kita memandang tubuh hari ini.
Teknologi bergerak sangat cepat. Semua informasi hadir di layar ponsel. Orang bisa mencari apa saja dalam hitungan detik. Namun semakin modern dunia berjalan, semakin canggung manusia membicarakan seksualitas secara jujur.
Kita bisa mendebat politik, ekonomi, bahkan perang dunia di meja makan. Tapi begitu obrolan menyentuh tubuh, relasi, atau pendidikan seksual, suasana langsung berubah kaku. Seolah ada alarm moral yang tiba-tiba berbunyi.
Padahal, leluhur kita mungkin pernah jauh lebih dewasa menghadapi hal itu.
Banyumas Pernah Punya “Sekolah Pernikahan”
Tradisi Gowok lahir dari cara pandang masyarakat Jawa tentang kesiapan menikah. Seorang perempuan dewasa mendampingi laki-laki muda sebelum mereka memasuki kehidupan rumah tangga. Fokus utamanya bukan sekadar urusan ranjang, tetapi juga pemahaman tentang pasangan, etika relasi, dan keharmonisan keluarga.
Menariknya, masyarakat saat itu tidak menganggap praktik tersebut sebagai dosa.
Mereka justru melihatnya sebagai bagian penting dari persiapan hidup.
Sekarang, banyak orang langsung menghubungkan kata “Gowok” dengan prostitusi. Banyak orang buru-buru merasa jijik sebelum memahami konteks budaya dan sejarahnya. Kita terlalu cepat menghakimi sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas tanpa mencoba memahami alasan tradisi itu pernah hidup dan diterima masyarakat.
Seks Dijual, Tapi Pendidikan Seks Dianggap Bahaya
Mungkin masalah utamanya bukan Gowok.
Masalah sebenarnya muncul dari cara kita memandang tubuh dan seksualitas.
Hari ini, industri hiburan memakai seks untuk menarik perhatian. Media sosial memanfaatkan sensualitas demi klik dan algoritma. Iklan bahkan menjadikan tubuh sebagai alat pemasaran. Ironisnya, banyak orang justru menganggap pendidikan seksual yang sehat sebagai ancaman.
Banyak orang tua lebih nyaman membiarkan anak belajar dari internet daripada membuka percakapan jujur di rumah.
Generasi yang Tahu Fantasi, Tapi Tidak Siap Relasi
Dampaknya mulai terasa di mana-mana.
Generasi muda tumbuh dengan akses informasi tanpa batas, tetapi tanpa pendampingan emosional. Mereka mengenal istilah seksual dari media sosial sebelum memahami consent, memahami fantasi lebih dulu daripada tanggung jawab dan melihat tubuh sebagai tontonan, bukan bagian dari relasi yang sehat.
Tidak heran jika banyak hubungan modern terasa rapuh dan penuh kebingungan emosional.
Di titik inilah Gowok terasa menarik. Bukan karena sisi erotiknya, melainkan karena keberanian masyarakat lama mengakui bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan mental, emosional, dan seksual.
Hari ini, banyak orang justru menganggap pembicaraan itu terlalu tabu.
Kita Lebih Modern, Atau Lebih Takut?
Zaman memang berubah. Kita tidak harus menghidupkan kembali tradisi lama secara mentah. Namun ada satu hal penting yang layak kita pelajari: kejujuran.
Masyarakat Banyumas dulu mungkin tidak memiliki internet, tetapi mereka cukup berani mengakui bahwa manusia perlu memahami tubuhnya sendiri.
Sebaliknya, masyarakat modern sering berpura-pura suci di depan publik sambil diam-diam menyerahkan seluruh pendidikan seksual kepada algoritma digital.
Lucunya, kita tetap menyebut diri lebih modern.
Padahal bisa jadi kita hanya lebih takut.
Ketika Kejujuran Dianggap Dosa
Mungkin hal paling mengganggu dari Gowok bukan tradisinya. Banyak orang justru merasa tidak nyaman karena leluhur kita pernah cukup dewasa untuk membicarakan tubuh tanpa rasa malu.
Sekarang coba lihat keadaan di sekitar:
semua orang bisa mengakses seksualitas,
tetapi hampir tidak ada yang benar-benar siap membicarakannya secara sehat.
Dan sejak kapan pendidikan tentang manusia terasa lebih berbahaya daripada mesin pencari?
Ini bukan sekadar cerita tentang Gowok. Ini cerita tentang masyarakat modern yang perlahan kehilangan keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri.@eko





