Dulu Teriak Keadilan, Sekarang Diam di Balik Kekuasaan. Dulu melawan ketidakadilan di jalanan, sekarang menikmati kenyamanan kekuasaan. Ketika mantan aktivis reformasi berubah menjadi bagian dari elite, publik mulai bertanya apakah reformasi benar-benar membawa perubahan, atau hanya melahirkan wajah baru dari kekuasaan lama?
Tabooo.id – Hujan pernah turun deras di jalanan Jakarta pada Mei 1998. Asap ban membakar udara. Mahasiswa berdiri di depan moncong senjata sambil meneriakkan satu kata yang terasa sakral saat itu reformasi. Mereka percaya Indonesia bisa berubah. Mereka yakin rakyat mampu memaksa kekuasaan tunduk. Lebih dari itu, mereka percaya keberanian akan selalu menang melawan ketakutan.
Namun hampir tiga dekade berlalu, pertanyaan lama kembali muncul dengan nada yang jauh lebih pahit apakah reformasi benar-benar membawa perubahan, atau justru hanya melahirkan elite baru dengan wajah berbeda?
Hari ini, terlalu banyak orang yang dulu berdiri di jalanan justru duduk nyaman di lingkar kekuasaan. Dahulu mereka berteriak tentang keadilan. Kini sebagian memilih diam di balik meja politik yang dingin. Ironisnya, beberapa mantan aktivis bahkan ikut menjaga sistem yang dulu mereka lawan habis-habisan.
Akibatnya, rakyat lagi-lagi hanya menjadi penonton dalam panggung demokrasi yang semakin terasa jauh.
Dari Perlawanan Menjadi Kenyamanan
Sejarah Indonesia selalu melahirkan tokoh dari jalanan perlawanan. Setelah reformasi bergulir, banyak mantan aktivis masuk parlemen, partai politik, hingga lingkar pemerintahan. Pada awalnya, publik menyambut mereka dengan harapan besar. Rakyat percaya orang-orang yang pernah dipukul aparat tidak akan melupakan penderitaan masyarakat kecil.
Sayangnya, kekuasaan sering punya cara halus untuk mengubah manusia.
Perlahan, kompromi mulai menggantikan idealisme. Jabatan mengambil alih keberanian. Fasilitas mengalahkan suara hati. Akhirnya, banyak mantan aktivis terlihat nyaman duduk bersama elite yang dulu mereka kritik tanpa ampun.
Padahal dulu mereka sangat lantang.
Mereka pernah berbicara soal rakyat miskin yang tertindas. Mereka juga menuntut kebebasan pers dan menolak represi negara. Selain itu, mereka melawan praktik kekuasaan yang anti kritik. Akan tetapi, ketika ruang sipil mulai menyempit hari ini, sebagian justru memilih diam.
Diam mereka terasa jauh lebih menyakitkan dibanding teriakan musuh.
Reformasi yang Kehilangan Ruh
Masalah terbesar reformasi hari ini bukan hanya korupsi atau politik dinasti. Persoalan paling berbahaya justru terletak pada hilangnya ruh perjuangan.
Dulu reformasi lahir dari kemarahan rakyat terhadap ketidakadilan. Sementara sekarang, banyak elite melihat demokrasi sekadar arena perebutan kursi. Politik berubah menjadi industri kekuasaan. Partai sibuk menghitung elektabilitas. Elite berlomba membangun citra. Di sisi lain, rakyat terus bertahan hidup di tengah harga kebutuhan yang naik dan masa depan yang semakin mahal.
Karena itu, generasi muda tumbuh dengan rasa kecewa yang berbeda. Mereka tidak lagi percaya penuh pada slogan perubahan. Mereka menyaksikan terlalu banyak orang berubah setelah dekat dengan kekuasaan. Akibatnya, politik terasa seperti lingkaran yang terus mengulang pengkhianatan yang sama.
Hari ini, rakyat bukan cuma lelah menghadapi ketidakadilan. Banyak orang bahkan mulai lelah berharap.
Ketika Kritik Mulai Dianggap Ancaman
Demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Sebaliknya, demokrasi melemah perlahan ketika kritik mulai dianggap gangguan stabilitas.
Kampus kehilangan keberanian intelektualnya. Sebagian media mulai berhitung sebelum berbicara. Aktivis menghadapi intimidasi, baik di dunia nyata maupun digital. Sementara itu, buzzer politik menyerang siapa saja yang berbeda pendapat. Di saat yang sama, elite kekuasaan terus bicara tentang persatuan sambil alergi terhadap kritik.
Situasi ini terasa semakin ironis karena banyak orang di lingkar kekuasaan hari ini pernah mengalami represi yang sama di masa lalu.
Mereka dulu marah ketika negara membungkam suara rakyat. Mereka pernah turun ke jalan demi demokrasi. Namun sekarang, sebagian justru memakai cara lama untuk menghadapi kritik yang datang kepada mereka.
Seolah-olah kekuasaan selalu memiliki pola serupa semakin nyaman seseorang duduk di kursi kekuasaan, semakin besar rasa takutnya kehilangan kenyamanan itu.
Jalanan yang Mulai Dilupakan
Ada satu hal penting yang perlahan dilupakan banyak elite bekas aktivis: reformasi lahir dari jalanan, bukan dari ruang rapat berpendingin udara.
Mahasiswa bergerak sambil menghadapi gas air mata. Keluarga korban penculikan menanggung kehilangan yang tidak pernah benar-benar sembuh. Selain itu, rakyat miskin hidup bertahun-tahun di bawah tekanan dan ketakutan.
Namun hari ini, suara jalanan justru terasa semakin jauh dari telinga penguasa.
Demonstrasi sering dicurigai sebagai ancaman. Kritik publik dianggap serangan politik. Bahkan suara mahasiswa kadang diperlakukan seperti gangguan ketertiban. Padahal demokrasi sehat justru membutuhkan kegaduhan kritik agar kekuasaan tidak berubah menjadi tirani yang rapi dan tersenyum.
Masalahnya, banyak mantan aktivis kini lebih sibuk menjaga stabilitas kekuasaan daripada menjaga keberanian moral mereka sendiri.
Dan di titik itulah reformasi perlahan kehilangan makna.
Elite Baru dengan Wajah Berbeda
Pada akhirnya, muncul pertanyaan yang paling menyakitkan apakah reformasi hanya mengganti pemain tanpa mengubah sistem?
Dulu rakyat melawan otoritarianisme lama. Sekarang masyarakat menghadapi oligarki dengan wajah yang lebih modern. Dahulu ketakutan datang lewat sensor dan senjata. Kini tekanan hadir melalui manipulasi opini, serangan digital, dan tekanan ekonomi yang membuat banyak orang takut bersuara.
Wajahnya memang berubah. Namun polanya tetap sama.
Kekuasaan masih berkumpul di lingkar elite. Rakyat tetap menjadi objek janji politik. Sementara itu, sebagian mantan pejuang reformasi perlahan berubah menjadi bagian dari status quo yang dulu mereka lawan sendiri.
Tentu tidak semua berubah. Masih ada aktivis, jurnalis, akademisi, dan masyarakat sipil yang terus menjaga idealisme. Mereka tetap bersuara meski tekanan datang dari berbagai arah. Namun publik tetap melihat satu kenyataan pahit: terlalu banyak orang yang dulu berteriak tentang keadilan kini memilih diam demi kenyamanan kekuasaan.
Perjuangan yang Belum Selesai
Meski begitu, sejarah belum benar-benar selesai.
Setiap zaman selalu melahirkan generasi yang berani mempertanyakan keadaan. Bentuk perlawanan memang berubah. Kadang perlawanan hadir lewat tulisan. Kadang muncul dari diskusi kecil di kampus atau warung kopi. Bahkan suara rakyat biasa yang menolak diam juga menjadi bentuk keberanian yang penting.
Karena pada akhirnya, demokrasi bukan hadiah permanen. Demokrasi hanya hidup ketika masih ada orang yang mau menjaganya.
Dan mungkin pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi soal siapa yang paling lantang berbicara tentang reformasi.
Melainkan siapa yang masih memiliki keberanian menjaga nurani ketika kekuasaan menawarkan kenyamanan. @dimas





