Wisuda biasanya terlihat bahagia di foto. Toga rapi, orang tua tersenyum bangga, dan ucapan selamat memenuhi media sosial. Masalahnya, setelah semua itu selesai, kenyataan hidup mulai menghantam keras banyak anak muda. Mereka bertahan di tengah ekonomi yang tidak menentu sambil terus memikul mimpi yang belum sempat mereka raih. Ini bukan cuma soal krisis identitas atau bingung mencari passion. Ini krisis bertahan hidup.
Tabooo.id: Wisuda biasanya terlihat bahagia di foto.
Pakai toga rapi. Orang tua tersenyum bangga. Kamera menangkap pelukan dan ucapan selamat.
Masalahnya, setelah mereka mengunggah foto ke Instagram, banyak lulusan muda langsung kembali menghadapi kenyataan: rumah masih punya cicilan, adik masih sekolah, dan dapur tetap harus mengepul besok pagi.
Di Indonesia, banyak orang membahas quarter life crisis seperti tren psikologi anak muda urban. Isinya soal bingung karier, kehilangan arah hidup, atau galau menentukan passion.
Padahal buat sebagian orang, krisis usia 20-an bukan soal “siapa diri mereka”.
Tapi soal: “bulan depan keluarga makan apa?”
Ketika Gelar Sarjana Berubah Jadi Beban Finansial
Banyak lulusan muda hari ini masuk dunia kerja bukan untuk mengejar mimpi, tapi untuk menyelamatkan kondisi rumah.
Keluarga dan lingkungan langsung menanyakan kapan mereka mulai kerja setelah lulus. Ada yang belum sempat istirahat setelah sidang skripsi, tapi sudah harus kirim CV ke puluhan perusahaan.
Bahkan tidak sedikit yang diam-diam menerima pekerjaan apa saja, bukan karena suka, tapi karena keluarga tidak punya waktu untuk menunggu idealisme.
Dan di situlah tekanan sebenarnya dimulai.
Ekspektasi sosial bilang usia 20-an adalah masa eksplorasi. Masa mencoba hal baru. Masa menemukan diri sendiri.
Masalahnya, eksplorasi terdengar mewah ketika isi rekening bahkan belum cukup untuk bayar listrik rumah.
Ironisnya, media sosial terus menjual narasi bahwa anak muda harus sukses sebelum umur 30. Timeline dipenuhi teman yang terlihat mapan, kerja di kantor estetik, traveling, buka bisnis, atau pamer pencapaian karier.
Sementara di dunia nyata, banyak lulusan muda Indonesia justru sibuk menghitung ongkos transportasi untuk interview berikutnya.
Quarter life crisis Indonesia akhirnya terasa berbeda.
Bukan cuma krisis identitas, tapi krisis bertahan hidup.
Pemerintah Bicara Bonus Demografi. Anak Mudanya Sibuk Bertahan Hidup
Pemerintah Indonesia sering membanggakan bonus demografi.
Katanya generasi muda akan jadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Katanya Indonesia Emas 2045 tinggal menunggu waktu.
Masalahnya, banyak anak muda bahkan belum sempat memikirkan masa depan karena terlalu sibuk bertahan di masa sekarang.
Program pelatihan kerja terus dibuat. Seminar motivasi terus digelar. Kampanye entrepreneur muda terus dipromosikan.
Tapi di lapangan, lowongan kerja entry level tetap sempit. Upah awal sering tidak sebanding dengan biaya hidup kota. Kontrak kerja makin pendek. PHK makin terasa normal.
Lucunya, negara sering meminta anak muda menjadi adaptif, kreatif, dan tahan banting.
Tapi sistem kerja justru membuat mereka hidup tanpa rasa aman.
Ada ironi besar di sini.
Negara ingin generasi muda produktif.
Tapi banyak anak muda bahkan tidak punya ruang untuk sehat secara mental.
Bantuan pendidikan ada.
Tapi setelah lulus, banyak yang dilempar ke dunia kerja yang kompetitif tanpa perlindungan emosional maupun ekonomi yang cukup.
Pemerintah bicara pertumbuhan ekonomi.
Sementara generasi mudanya tumbuh bersama kecemasan.
Dan mungkin itu alasan kenapa burnout sekarang terasa seperti identitas kolektif anak muda Indonesia.
“Malas” Tapi Sedang Menanggung Banyak Hal
Lucunya, masyarakat masih sering menganggap generasi muda kurang tahan banting.
Padahal banyak dari mereka sedang menanggung beban yang bahkan tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Menjadi tulang punggung keluarga di usia muda sering kali membuat seseorang kehilangan hak untuk gagal.
Karena gagal bukan cuma soal diri sendiri.
Ada orang tua yang berharap.
Ada adik yang butuh biaya sekolah.
Dan ada rumah yang bergantung pada satu transfer bulanan.
Dan tekanan itu diam-diam menggerus kesehatan mental.
Banyak anak muda terlihat “baik-baik saja” di luar. Tetap bercanda. Masih aktif di media sosial. Tetap datang kerja setiap pagi.
Padahal di dalam kepala mereka, hidup terasa seperti lomba maraton tanpa garis akhir.
Mereka lelah. Tapi tidak bisa berhenti.
Mereka takut. Tapi tetap harus terlihat kuat.
Quarter Life Crisis Indonesia Bukan Sekadar Soal Passion
Ini bukan sekadar soal quarter life crisis.
Ini pola sosial yang lebih besar.
Akhirnya banyak anak muda tumbuh terlalu cepat.
Mereka belum selesai memahami dirinya sendiri, tapi sudah dipaksa memahami beban hidup satu rumah.
Dan mungkin itu alasan kenapa generasi sekarang terlihat gampang lelah.
Karena sebagian dari mereka tidak pernah benar-benar punya kesempatan menjadi muda dengan tenang.
Di usia ketika orang lain sibuk mencari passion, mereka sibuk memastikan orang rumah tetap bisa makan.
Lalu society masih bertanya kenapa generasi sekarang mudah burnout.
Padahal hidup mereka bukan sedang berjalan.
Mereka sedang menopang banyak kehidupan sekaligus.
Mungkin masalah terbesar generasi muda hari ini bukan karena mereka lemah.
Tapi karena terlalu lama dipaksa kuat sendirian.
Dan selama negara masih sibuk menjual mimpi besar tanpa memastikan anak mudanya bisa hidup layak hari ini, quarter life crisis di Indonesia akan terus terasa lebih brutal daripada sekadar tren psikologi internet.
Karena di balik toga dan foto wisuda yang terlihat bahagia itu, ada banyak anak muda yang sebenarnya sedang panik memikirkan cara bertahan hidup besok pagi.
“Quarter life crisis jadi terasa mewah ketika hidupmu bukan cuma tentang mimpi, tapi juga tagihan keluarga.” @waras


