Ada masa ketika film Mortal Kombat II harus punya simbolisme rumit supaya dianggap “berkualitas.” Sebagian kritikus berharap plot terasa filosofis. Ada juga ekspektasi bahwa ending mesti ambigu. Kalau penonton terlalu senang, malah muncul kecurigaan “Jangan-jangan ini film dangkal.”
Tabooo.id – Ketika secara bersamaan muncul film Mortal Kombat II. Dimana film ini seperti berkata santai “Tenang bro, orang cuma pengen lihat Sub-Zero mukul orang sampai pecah.” Anehnya, publik tampak baik-baik saja dengan itu bahkan sangat menikmatinya.
Kritikus Kesal, Penonton Malah Tepuk Tangan
Di satu sisi, para kritikus terlihat frustrasi. Mereka merasa sutradara Simon McQuoid terlalu sibuk menyenangkan penggemar hingga lupa membangun cerita yang dianggap “berisi”.
Di Rotten Tomatoes, respons kritikus memang terlihat campuran. Mortal Kombat II hanya meraih 70 persen Tomatometer dari puluhan ulasan.
Kyle Smith dari Wall Street Journal bahkan menyebut film ini kehilangan “hati”.
“Sayangnya, karena tidak ada pertaruhan emosional, adegan aksinya sama membosankannya dengan melihat tomat dimasukkan ke mesin pengolah makanan. Yang kurang adalah hati.”
Kritik serupa datang dari Alison Willmore dari New York Magazine. Ia menyindir film ini seperti mesin besar bertuliskan fan service.
“Mortal Kombat II hanyalah McQuoid yang memutar tombol besar bertuliskan ‘fan service’ sambil melihat kembali reaksi penonton uji coba.”
Sementara itu, Jake Wilson dari Sydney Morning Herald menilai alurnya terlalu absurd untuk dianggap serius.
Masalahnya, mungkin memang tidak semua orang datang ke bioskop untuk serius.
Penonton Datang untuk Fatality, Bukan Terapi Emosional
Lucunya, saat kritikus sibuk mencari makna, penonton justru ramai bilang “Ini seru banget.”
Di Popcornmeter, skor penonton mencapai 91 persen. Jomplang. Bahkan terlalu jomplang untuk diabaikan. Kenapa bisa begitu? Barangkali karena publik sedang lelah.
Hidup terasa makin kompleks. Timeline penuh krisis yang tidak pernah selesai. Pada saat bersamaan, sebagian orang mulai jenuh dengan film yang terasa seperti tugas kuliah filsafat berkedok hiburan.
Tidak semua penonton datang untuk mencari makna hidup. Ada yang cuma ingin melihat seseorang ditendang menembus tembok selama dua jam penuh.
Di titik itulah Mortal Kombat II tampak memahami kebutuhan penontonnya dengan sangat percaya diri.
Amon Warmann dari Empire Magazine justru melihat sisi positif film ini.
“Terdapat cukup variasi dan kreativitas untuk membuat setiap pertarungan tetap menghibur.”
Meagan Navaro dari Bloody Disgusting juga menilai babak akhirnya berhasil memberi kepuasan bagi penggemar gim aslinya.
“Jajaran karakternya yang menawan dan fatality yang sangat berdarah memastikan cukup banyak pemain untuk ikut bergoyang mengikuti lagu tema ikonis setelah kredit akhir muncul.”
Kita Sedang Capek Sama Film yang Terlalu Dalam?
Mungkin ini bukan cuma soal Mortal Kombat II. Yang terlihat sebenarnya adalah benturan dua cara menikmati film.
Sebagian orang percaya film harus meninggalkan renungan panjang setelah kredit akhir muncul. Namun kelompok lain cuma ingin pulang kerja, beli popcorn, lalu melihat Joe Taslim bertarung brutal selama dua jam.
Dan mungkin tidak ada yang salah dengan itu. Zaman sekarang terasa berat. Politik bikin penat. Ekonomi makin tidak ramah. Relasi juga sering terasa rumit. Timeline? Sama melelahkannya.
Perspektif Akademisi Pop Culture
Menurut Henry Jenkins, fandom modern sering menikmati karya bukan karena sempurna secara artistik, tetapi karena memberi pengalaman emosional kolektif. Dalam budaya pop, rasa memiliki kadang lebih penting daripada penilaian elite budaya.
Artinya? Kadang fans tidak sedang mencari film terbaik. Mereka cuma mencari alasan buat bersenang-senang bersama fandom-nya.
Ironisnya, hiburan justru dituntut ikut berat. Padahal mungkin publik cuma sedang berkata pelan “Bro, aku cuma pengen senang sebentar.”
Pada akhirnya, tidak semua film harus menang Oscar. Bagi sebagian orang, hiburan cukup memberi jeda kecil dari kenyataan yang terlalu bising selama dua jam. @teguh





