Senin, Juni 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mortal Kombat II Dibantai Kritikus: Film Buruk atau Kritikus Kehilangan Vibes?

by teguh
Mei 11, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Ada masa ketika film Mortal Kombat II harus punya simbolisme rumit supaya dianggap “berkualitas.” Sebagian kritikus berharap plot terasa filosofis. Ada juga ekspektasi bahwa ending mesti ambigu. Kalau penonton terlalu senang, malah muncul kecurigaan “Jangan-jangan ini film dangkal.”

Tabooo.id – Ketika secara bersamaan muncul film Mortal Kombat II. Dimana film ini seperti berkata santai “Tenang bro, orang cuma pengen lihat Sub-Zero mukul orang sampai pecah.” Anehnya, publik tampak baik-baik saja dengan itu bahkan sangat menikmatinya.

Kritikus Kesal, Penonton Malah Tepuk Tangan

Di satu sisi, para kritikus terlihat frustrasi. Mereka merasa sutradara Simon McQuoid terlalu sibuk menyenangkan penggemar hingga lupa membangun cerita yang dianggap “berisi”.

Di Rotten Tomatoes, respons kritikus memang terlihat campuran. Mortal Kombat II hanya meraih 70 persen Tomatometer dari puluhan ulasan.

Kyle Smith dari Wall Street Journal bahkan menyebut film ini kehilangan “hati”.

“Sayangnya, karena tidak ada pertaruhan emosional, adegan aksinya sama membosankannya dengan melihat tomat dimasukkan ke mesin pengolah makanan. Yang kurang adalah hati.”

Kritik serupa datang dari Alison Willmore dari New York Magazine. Ia menyindir film ini seperti mesin besar bertuliskan fan service.

Ini Belum Selesai

Emil Dardak dan Bagus Panuntun Serukan Persaudaraan Pendekar

Lulus Seleksi, Gugur di Barak: Tragedi Lima Calon Manajer Kopdes

“Mortal Kombat II hanyalah McQuoid yang memutar tombol besar bertuliskan ‘fan service’ sambil melihat kembali reaksi penonton uji coba.”

Sementara itu, Jake Wilson dari Sydney Morning Herald menilai alurnya terlalu absurd untuk dianggap serius.

Masalahnya, mungkin memang tidak semua orang datang ke bioskop untuk serius.

Penonton Datang untuk Fatality, Bukan Terapi Emosional

Lucunya, saat kritikus sibuk mencari makna, penonton justru ramai bilang “Ini seru banget.”

Di Popcornmeter, skor penonton mencapai 91 persen. Jomplang. Bahkan terlalu jomplang untuk diabaikan. Kenapa bisa begitu? Barangkali karena publik sedang lelah.

Hidup terasa makin kompleks. Timeline penuh krisis yang tidak pernah selesai. Pada saat bersamaan, sebagian orang mulai jenuh dengan film yang terasa seperti tugas kuliah filsafat berkedok hiburan.

Tidak semua penonton datang untuk mencari makna hidup. Ada yang cuma ingin melihat seseorang ditendang menembus tembok selama dua jam penuh.

Di titik itulah Mortal Kombat II tampak memahami kebutuhan penontonnya dengan sangat percaya diri.

Amon Warmann dari Empire Magazine justru melihat sisi positif film ini.

“Terdapat cukup variasi dan kreativitas untuk membuat setiap pertarungan tetap menghibur.”

Meagan Navaro dari Bloody Disgusting juga menilai babak akhirnya berhasil memberi kepuasan bagi penggemar gim aslinya.

“Jajaran karakternya yang menawan dan fatality yang sangat berdarah memastikan cukup banyak pemain untuk ikut bergoyang mengikuti lagu tema ikonis setelah kredit akhir muncul.”

Kita Sedang Capek Sama Film yang Terlalu Dalam?

Mungkin ini bukan cuma soal Mortal Kombat II. Yang terlihat sebenarnya adalah benturan dua cara menikmati film.

Sebagian orang percaya film harus meninggalkan renungan panjang setelah kredit akhir muncul. Namun kelompok lain cuma ingin pulang kerja, beli popcorn, lalu melihat Joe Taslim bertarung brutal selama dua jam.

Dan mungkin tidak ada yang salah dengan itu. Zaman sekarang terasa berat. Politik bikin penat. Ekonomi makin tidak ramah. Relasi juga sering terasa rumit. Timeline? Sama melelahkannya.

Perspektif Akademisi Pop Culture

Menurut Henry Jenkins, fandom modern sering menikmati karya bukan karena sempurna secara artistik, tetapi karena memberi pengalaman emosional kolektif. Dalam budaya pop, rasa memiliki kadang lebih penting daripada penilaian elite budaya.

Artinya? Kadang fans tidak sedang mencari film terbaik. Mereka cuma mencari alasan buat bersenang-senang bersama fandom-nya.

Ironisnya, hiburan justru dituntut ikut berat. Padahal mungkin publik cuma sedang berkata pelan “Bro, aku cuma pengen senang sebentar.”

Pada akhirnya, tidak semua film harus menang Oscar. Bagi sebagian orang, hiburan cukup memberi jeda kecil dari kenyataan yang terlalu bising selama dua jam. @teguh

Tags: Budaya PopJoe TaslimMortal Kombat IIPop Culture

Kamu Melewatkan Ini

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

by teguh
Juni 21, 2026

Tiga puluh tujuh tahun setelah SWAMI merilis album debutnya pada 1989, “Bento” dan “Bongkar” masih terdengar seperti surat terbuka untuk...

Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

by teguh
Juni 17, 2026

Pujian di dunia film datang setiap hari. Namun ketika Sutradara James Gunn mengangkat satu judul secara terbuka, industri hiburan biasanya...

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

by teguh
Juni 4, 2026

Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari...

Next Post
Dosen UIN Walisongo Diduga Lecehkan Mahasiswa, Korban Pilih Diam Karena Takut

Dosen UIN Walisongo Diduga Lecehkan Mahasiswa, Korban Pilih Diam Karena Takut

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id