Tabooo.id: Edge – Prabowo baru saja nge-update patch sejarah menambahkan 10 nama ke daftar “Pahlawan Nasional DLC 2025” kayak game yang nggak mau tamat-tamat. Ada Gus Dur si pluralis sejati, Marsinah si buruh pemberani, sampai Soeharto, bapak stabilitas yang… ya, stabil banget sampai semua orang diam.
1. Pembuka Lucu (ala komedi situasi)
Bayangkan: kamu lagi nonton upacara Hari Pahlawan di TV, masih pakai daster dan sendal jepit, tiba-tiba nama Soehartodisebut di antara daftar penerima gelar Pahlawan Nasional 2025. Kamu tersedak kopi, kucing kamu kaget, dan Wi-Fi tiba-tiba lemot karena semesta pun butuh waktu memproses plot twist ini.
“Lah… bukannya beliau udah punya museum sendiri?”
Tenang, Indonesia memang suka rebranding. Dulu jenderal, terus presiden, sekarang pahlawan. Versi 3.0.
2. Fakta Singkat (biar tetap kelihatan pintar)
Presiden Prabowo menetapkan sepuluh Pahlawan Nasional baru, dari Gus Dur sampai Marsinah, dari Sultan Tidore sampai Jenderal Soeharto.
Keluarga penerima menangis haru, pemerintah bagi tunjangan Rp50 juta per tahun, dan internet pun langsung berubah jadi ruang debat terbuka dengan tone: “Serius nih?”
3. Komentar Sosial (tajam tapi ngakak)
Negara kita memang punya keahlian langka: multiverse of heroism. Di satu podium, Gus Dur ikon pluralisme dan demokrasi berdampingan dengan Soeharto, simbol stabilitas versi Orde Baru (baca: diam adalah emas, kritik adalah masalah).
Bayangin mereka berdua satu grup WhatsApp “Pahlawan Nasional 2025”:
Gus Dur: “Pluralisme itu penting, Bro.”
Soeharto: “Yang penting stabil.”
Marsinah: “Stabil apanya? Aku diculik sistem!”
Admin grup: left the chat.
Tapi mungkin inilah beauty of Indonesia: semuanya bisa jadi pahlawan, tergantung siapa yang pegang pena Keppres. Di negara ini, sejarah bukan ditulis pemenang, tapi direvisi editor politik tiap lima tahun.
4. Punchline Penutup (ironis, reflektif)
Lucunya, tiap tahun kita nambah daftar pahlawan, tapi bukan jumlah orang yang berani berjuang kayak mereka.
Kita makin sering pakai baju batik bertema perjuangan, tapi makin malas mikirin siapa yang masih dijajah entah oleh utang, sistem, atau algoritma.
Karena di Republik Seribu Gelar ini, jadi pahlawan itu bukan soal darah dan air mata… tapi siapa yang approve di Istana.
“Kalau semua bisa jadi pahlawan, siapa yang masih belajar jadi rakyat?” (Sigit)





