;:
Cuma 22 detik. Namun video dua petugas Bea Cukai yang masuk ke Warung Madura pada malam hari langsung mengubah timeline menjadi ruang sidang nasional.
Tabooo.id – Saat video itu muncul, publik belum mendapat fakta lengkap. Klarifikasi resmi pun belum hadir. Akibatnya, banyak orang langsung mencurigai sesuatu. Padahal, persoalan ini mungkin lebih besar dari sekadar razia rokok ilegal. Masalah utamanya masyarakat makin sulit percaya pada negara.
Negara Datang Malam Hari, Netizen Datang Lebih Cepat
Awalnya, seorang pemilik akun TikTok mengunggah video tersebut. Tak lama kemudian, pengguna media sosial menyebarkannya ke X.
Dalam rekaman singkat itu, dua pria memakai rompi Bea Cukai memeriksa sejumlah titik di dalam warung pada malam hari.
Penjaga warung tampak bingung. Ia mempertanyakan alasan petugas datang malam hari sambil meminta surat tugas.
Namun video berhenti tepat setelah pertanyaan itu muncul. Karena itu, publik langsung mengisi bagian kosong dengan asumsi masing-masing.
Sebagian netizen menuding petugas itu gadungan. Sebagian lain mencurigai pungutan liar. Bahkan, beberapa akun ikut menyebarkan lokasi yang keliru dan mengaitkan peristiwa itu dengan Balaraja, Tangerang, Banten.
Akan tetapi, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai langsung meluruskan narasi tersebut. Bea Cukai memastikan petugas memeriksa warung di Desa Balamoa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan Bea Cukai Tegal, Aflachul, menegaskan dua orang dalam video itu memang petugas resmi.
“Pemeriksaan tersebut benar dilakukan oleh petugas Bea Cukai Tegal dalam rangka menindaklanjuti informasi masyarakat mengenai dugaan pengiriman rokok ilegal,” kata Aflachul dalam keterangan resmi.
Selain itu, ia menjelaskan petugas menunjukkan identitas dan surat tugas sesuai prosedur.
Di Era Viral, Klarifikasi Selalu Datang Belakangan
Masalahnya, media sosial tidak mengikuti ritme prosedur negara. Sebaliknya, platform digital bergerak memakai emosi.
Begitu publik melihat video yang terasa mencurigakan, banyak orang langsung menyusun kesimpulan sendiri. Prosesnya cepat. Reaksinya keras. Bahkan, sebagian orang mengambil keputusan sebelum mencari konteks.
Pengamat komunikasi digital dari Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, menilai rendahnya kepercayaan publik ikut mempercepat ledakan opini.
“Ketika masyarakat sudah memiliki trauma kolektif terhadap aparat atau birokrasi, video singkat tanpa konteks pun bisa langsung menjadi bukti di mata publik,” ujarnya.
Sementara itu, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, melihat masyarakat Indonesia mengalami “kelelahan sosial”.
“Orang terlalu sering melihat kasus penyalahgunaan wewenang. Akibatnya, publik lebih cepat percaya pada kecurigaan dibanding klarifikasi,” katanya.
Ironisnya, petugas Bea Cukai tidak menemukan rokok ilegal ataupun pelanggaran apa pun saat pemeriksaan berlangsung.
“Tidak terdapat permintaan atau penerimaan uang dalam bentuk apa pun,” tegas Aflachul.
Yang Viral Bukan Razianya, Tapi Ketidakpercayaan Publik
Bea Cukai menjelaskan pemeriksaan itu masuk dalam program “Gempur Rokok Ilegal”. Selain itu, petugas bergerak berdasarkan laporan masyarakat.
Mereka juga mengungkap jaringan toko tersebut pernah menerima denda atas penjualan rokok ilegal pada 2025.
Meski begitu, konteks sering kalah cepat dibanding potongan video di internet.
Budayawan Sujiwo Tejo pernah mengatakan:
“Di zaman sekarang, orang lebih percaya potongan video daripada penjelasan panjang.” Ucapan itu terasa relevan dengan situasi hari ini.
Satu video pendek memicu ribuan opini. Sebagian orang merasa paling tahu. Sementara itu, sebagian lain buru-buru memilih posisi paling benar.
Padahal, publik bahkan belum melihat keseluruhan kejadian.
Ini Bukan Sekadar Razia. Ini Alarm Sosial
Kasus ini sebenarnya lebih besar daripada soal rokok ilegal.
Hubungan negara dan rakyat mulai dipenuhi prasangka. Saat petugas datang malam hari, publik langsung takut. Ketika kamera menangkap seragam petugas, netizen buru-buru curiga. Lalu, saat klarifikasi muncul, sebagian orang sudah kehilangan minat untuk mendengar.
Karena itu, masalah ini tidak berhenti pada urusan razia.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, menilai pemerintah perlu memperbaiki pendekatan komunikasi lapangan.
“Di era digital, prosedur saja tidak cukup. Aparat juga harus memahami persepsi publik,” ujarnya.
Hari ini, tantangan terbesar negara bukan cuma pelanggaran hukum. Melainkan, hilangnya rasa percaya.
Yang Retak Bukan Warungnya, Tapi Rasa Percaya
Di Indonesia tahun 2026, kadang yang paling menakutkan bukan razia malam hari.
Yang lebih mengkhawatirkan justru fakta bahwa publik sudah lebih dulu yakin aparat menyimpan sesuatu.
Sebab, ketika rasa percaya mulai habis, bahkan senter petugas pun bisa terlihat seperti ancaman. @teguh





