Kemunculan kluster virus hanta di kapal pesiar memicu kewaspadaan baru di dunia kesehatan global. Strain virus Andes yang diduga dapat menular antarmanusia kembali mendorong ilmuwan dan otoritas kesehatan menilai ulang potensi virus zoonosis ini sebagai ancaman lintas negara.
Tabooo.id – Wabah virus hanta di kapal pesiar MV Hondius membuka babak baru perhatian global terhadap penyakit dari hewan pengerat. Otoritas kesehatan di berbagai negara kini melacak penumpang yang sempat turun dan kembali ke negara asalnya.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan strain Andes. Varian ini diketahui dapat menular antar manusia dalam situasi kontak dekat. Para ahli tetap menilai risiko pandemi global masih rendah, tetapi kewaspadaan meningkat di tengah mobilitas manusia yang tinggi.
Kluster Infeksi dan Temuan WHO
Dunia kesehatan kembali menghadapi kekhawatiran baru setelah muncul kluster infeksi virus hanta di kapal pesiar MV Hondius. Strain Andes menjadi perhatian karena mampu menyebar antar manusia dalam kondisi tertentu.
World Health Organization (WHO) melaporkan delapan kasus terkait kluster ini. Tiga orang meninggal, lima kasus terkonfirmasi, dan tiga lainnya masih dalam penyelidikan.
Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut insiden ini serius. Ia menegaskan bahwa risiko kesehatan global masih tergolong rendah.
Kronologi Kasus di Kapal Pesiar
Kasus pertama muncul pada seorang pria yang mengalami gejala pada 6 April. Ia meninggal lima hari kemudian.
Istrinya menyusul menjadi korban kedua. Ia mengalami gejala setelah turun di Pulau Saint Helena dan kemudian meninggal.
Korban ketiga adalah seorang perempuan yang jatuh sakit pada 25 April dan meninggal tujuh hari kemudian.
Penyelidikan menemukan dua korban pertama melakukan perjalanan observasi burung di Amerika Selatan. Mereka mengunjungi Chile, Argentina, dan Uruguay, wilayah dengan populasi tikus pembawa virus hanta.
Otoritas kesehatan Argentina menelusuri perjalanan mereka. WHO juga mengirim ribuan alat diagnostik ke beberapa negara untuk mempercepat deteksi kasus baru.
Virus Lama dengan Pola Baru
Virus hanta bukan penyakit baru. Kasusnya pertama kali tercatat luas pada era Perang Korea di awal 1950-an. Sejak itu, virus ini dikenal sebagai penyakit langka di wilayah dengan populasi tikus tinggi.
Penularan terjadi saat manusia menghirup partikel udara yang mengandung virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengering. Aktivitas di bangunan lama sering memicu paparan ini.
Ilmuwan telah mengidentifikasi hampir 40 jenis virus hanta di dunia. Namun hanya strain Andes yang terbukti dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat.
Ahli virologi dari US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases, Jay Hooper, menilai virus zoonotik sulit diprediksi. Ia menyebut banyak wabah besar berawal dari kasus kecil yang tidak terdeteksi.
Dokter penyakit menular dari University of Michigan Health, Emily Abdoler, menjelaskan virus Andes dapat menyebar lewat droplet saat batuk atau berbicara. Penularan juga bisa terjadi melalui cairan tubuh.
Namun peneliti mencatat penularan antarmanusia tetap jarang. Angkanya hanya sekitar dua hingga lima persen dari total kasus.
Gejala Berat dan Penularan Terbatas
Virus hanta tetap menjadi perhatian karena tingkat kematiannya tinggi. Pada Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), angka kematian mencapai 30–50 persen.
Gejala awal sering menyerupai flu. Pasien mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan kelelahan. Kondisi dapat memburuk dengan cepat saat paru-paru terisi cairan.
Ahli epidemiologi WHO Maria Van Kerkhove menegaskan pola penularan virus ini berbeda dari COVID-19 atau influenza. Virus ini membutuhkan kontak dekat dan waktu yang lama untuk menular.
Namun mobilitas global membuat risiko tetap ada. Masa inkubasi bisa mencapai enam minggu. Hal ini memungkinkan virus menyebar sebelum gejala muncul.
Tanpa Vaksin, Risiko Tetap Ada
Hingga kini belum ada vaksin yang tersedia secara luas untuk virus hanta. Obat antivirus spesifik juga belum ditemukan.
Perawatan pasien hanya bersifat suportif. Tenaga medis memberikan oksigen, ventilator, cairan infus, atau dialisis jika ginjal gagal.
Militer Amerika Serikat mulai mengembangkan vaksin sejak 1980-an. Namun uji klinis sulit dilakukan karena kasusnya jarang dan tersebar.
Pasar vaksin juga dinilai kecil. Kelompok risiko terbatas pada pekerja lapangan, militer, dan pelancong ke wilayah endemik.
Bukan Pandemi, Tapi Tetap Ancaman
Sebagian besar ilmuwan menilai virus hanta kecil kemungkinannya menjadi pandemi seperti Covid-19. Virus ini tidak menular secepat virus pernapasan.
Namun risiko wabah regional tetap ada. Tingkat kematian tinggi dan keberadaan hewan pembawa virus membuat ancaman ini tidak bisa diabaikan.
Kasus di kapal pesiar Hondius menunjukkan satu hal penting virus yang tampak lokal bisa bergerak global dalam sistem perjalanan modern.
Dengan fatalitas tinggi, perubahan ekologi, dan ketiadaan vaksin, virus hanta tetap berada dalam daftar ancaman laten yang terus dipantau dunia kesehatan. @dimas





