1859, di tengah medan perang Solferino, Italia, udara dipenuhi jeritan, darah, dan tubuh-tubuh yang tak lagi bisa diselamatkan. Sekitar 38.000 prajurit tergeletak tanpa pertolongan yang layak, sementara sistem medis militer benar-benar lumpuh. Di tengah kekacauan itu, Henry Dunant seorang pengusaha asal Swiss justru berhenti, bukan untuk melanjutkan perjalanan bisnisnya, melainkan menyaksikan langsung runtuhnya batas kemanusiaan di hadapannya.
Tabooo.id: Figures – Dari pengalaman itu, Dunant kemudian mengguncang sejarah dunia lewat gagasan tentang organisasi kemanusiaan netral yang kelak melahirkan Palang Merah. Tapi pertanyaannya tidak berhenti di sana: apakah dunia benar-benar belajar dari Solferino, atau kita hanya terus mengulang tragedi dengan wajah yang berbeda?
Henry Dunant lahir di Jenewa, Swiss, dari keluarga pengusaha terpandang. Ayahnya, Jean-Jacques Dunant, dan ibunya, Antoinette Dunant-Colladon, membesarkannya dalam lingkungan yang akrab dengan bisnis sekaligus nilai sosial.
Sejak muda, Dunant tidak sepenuhnya mengikuti jalur keluarganya. Ia lebih sering tertarik pada urusan sosial dibanding keuntungan. Pada usia 19 tahun, ia mendirikan Thursday Association, sebuah kelompok kecil yang rutin membantu kaum miskin. Ia juga aktif mengunjungi penjara dan terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di sekitarnya.
Pada 1852, Dunant memperluas aktivitas sosialnya dengan mendirikan cabang YMCA di Jenewa. Ia kemudian ikut mendorong organisasi tersebut berkembang ke tingkat internasional melalui pertemuan di Paris beberapa tahun setelahnya.
Solferino: Titik Retak Kemanusiaan
Tahun 1859 menjadi titik balik hidupnya.
Dalam perjalanan bisnis untuk menemui Napoleon III, Dunant justru terseret ke medan Perang Solferino di Italia. Di sana, ia menyaksikan pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: puluhan ribu tentara tergeletak tanpa perawatan, tanpa evakuasi, tanpa sistem yang bekerja.
Sistem medis militer runtuh total. Tidak ada koordinasi yang mampu menjawab skala korban yang begitu besar. Di tengah situasi itu, Dunant memilih bertindak.
Ia menggerakkan warga lokal untuk membantu para korban. Gereja, rumah, dan bangunan sekitar diubah menjadi ruang perawatan darurat. Ia bekerja tanpa membedakan pihak yang terluka, karena yang ia lihat bukan lagi tentara melainkan manusia.
Dari Catatan Pribadi Menjadi Gagasan Global
Pengalaman itu tidak berhenti sebagai peristiwa emosional.
Dunant menuliskannya dalam buku Un Souvenir de Solferino (1862). Dalam tulisan itu, ia tidak hanya menggambarkan kengerian perang, tetapi juga mengkritik kegagalan sistem dunia dalam melindungi korban konflik.
Dari situ muncul gagasan baru yang saat itu dianggap radikal: membentuk organisasi netral yang secara khusus menangani korban perang tanpa memihak pihak mana pun.
Lahirnya Palang Merah
Gagasan Dunant menyebar cepat di Eropa. Ia kemudian melakukan perjalanan untuk mempromosikan ide tersebut kepada berbagai pihak. Dukungan mulai terbentuk.
Pada 1863, bersama sejumlah tokoh lain, terbentuklah Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Organisasi ini menjadi fondasi sistem kemanusiaan modern yang kita kenal hari ini.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah perang modern, muncul konsep bahwa korban harus dilindungi terlepas dari pihak mana mereka berasal.
Warisan yang Lebih Besar dari Nama
Dunant tidak memiliki kekuasaan politik. Ia tidak memimpin pasukan. Ia juga bukan bagian dari elite militer dunia.
Namun ia mengubah cara dunia memandang penderitaan.
Dari satu peristiwa di Solferino, lahir sistem kemanusiaan global yang kini hadir di tengah perang, bencana, dan krisis di berbagai belahan dunia.
Penutup: Pertanyaan yang Belum Selesai
Tahun 1901, Henry Dunant menerima Nobel Perdamaian pertama dalam sejarah.
Namun penghargaan itu bukan akhir dari ceritanya.
Yang tersisa justru sebuah pertanyaan yang terus relevan hingga hari ini:
Ketika sistem kembali gagal, dan manusia kembali tergeletak tanpa pertolongan apakah masih ada yang berani berhenti seperti Dunant, atau kita sudah terlalu terbiasa untuk terus berjalan? @dimas




