Semua orang sedang sibuk bicara soal teknologi pengolah sampah jadi listrik. Nilainya miliaran. Bahasanya modern. Presentasinya futuristik. Tapi di saat yang sama, masih ada orang yang lempar bungkus kopi dari motor sambil berharap kota tetap bersih.
Tabooo.id: Edge – Ironisnya, kita ingin kota seperti Tokyo, tapi urusan sampah masih mental “yang penting bukan depan rumah gue.”
Kota Modern Butuh Teknologi. Tapi Juga Butuh Malu.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menggandeng Danantara untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bantargebang dan Tanjung Kamal Muara. Proyek itu jadi bagian ambisi Jakarta mengejar sistem pengelolaan sampah modern.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan teknologi saja tidak cukup. Menurutnya, warga tetap harus memilah sampah dari rumah.
“Saya sudah menandatangani instruksi gubernur untuk proses pemilahan,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (04/05/2026).
Masalahnya sederhana. Banyak orang ingin kota bersih. Tapi sedikit yang mau repot memilah sampah.
Orang marah lihat sungai penuh plastik. Tapi masih malas bawa tumbler sendiri.
Orang protes TPS bau. Tapi masih campur sisa makanan, popok, dan botol plastik dalam satu kantong hitam.
Jakarta akhirnya seperti rumah mewah dengan kebiasaan buang sampah ke bawah kasur.
Proyek Triliunan vs Budaya “Nanti Juga Diangkut”
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan sampah yang menumpuk nantinya akan diubah menjadi listrik untuk kota.
Kalimat itu terdengar canggih. Dan memang penting.
Tapi ada pertanyaan yang lebih dekat dengan realita warga kalau sumber sampahnya masih kacau, teknologi sebesar apa pun mau kerja dari mana?
Sosiolog perkotaan dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, pernah mengingatkan bahwa krisis sampah di kota besar bukan hanya soal fasilitas, tapi soal budaya kolektif yang gagal tumbuh.
“Kota modern dibangun bukan hanya dengan infrastruktur, tapi dengan disiplin sosial,” ujarnya dalam diskusi pengelolaan kota berkelanjutan.
Dan di sinilah ironi itu hidup Kita cepat upload video jalan kotor ke media sosial. Tapi lambat merasa bersalah saat buang sampah sembarangan.
Pemerintah Sering Bergerak Setelah Bau dan Viral
Instruksi gubernur soal pemilahan sampah sebenarnya bukan hal baru. Jakarta sudah punya aturan pengelolaan sampah sejak lama. Tapi seperti banyak kebijakan lain di negeri ini, aturan sering hidup di dokumen, bukan di kebiasaan.
Pengamat lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, menilai penegakan hukum soal sampah di Indonesia masih lemah dan tidak konsisten.
“Selama pelanggaran dianggap biasa, perilaku masyarakat tidak akan berubah,” ujar salah satu peneliti WALHI dalam kajian pengelolaan limbah perkotaan.
Lucunya, birokrasi sering bergerak cepat saat masalah sudah viral. Sungai hitam dulu, baru sidak. Gunungan sampah muncul dulu, baru rapat koordinasi.
Padahal sampah bukan bencana dadakan. Sampah itu kebiasaan yang dibiarkan bertahun-tahun.
Bukan Sekadar Sampah. Ini Cara Kita Memperlakukan Ruang Bersama.
Budayawan Sujiwo Tejo pernah mengatakan bahwa bangsa besar terlihat dari cara mereka memperlakukan ruang publik.
Dan ruang publik kita sering diperlakukan seperti halaman kosong tanpa pemilik.
Masalah sampah akhirnya bukan cuma urusan kebersihan. Ini soal tanggung jawab sosial. Soal apakah kita merasa hidup bersama orang lain, atau hidup sendirian.
Sebab kota yang sehat tidak lahir dari teknologi saja.
Ia lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Memilah sampah. Tidak buang sembarangan. Tidak merasa “ada petugas yang nanti beresin.”
Karena sejujurnya, teknologi bisa membakar sampah jadi listrik. Tapi teknologi belum tentu bisa membakar mental cuek warga kota.
Yang Sebenarnya Bau, Bukan Sampahnya Saja
Pemprov DKI kini menyiapkan tiga fasilitas PLTSa, termasuk di Sunter. Semua terlihat ambisius. Semua terdengar progresif.
Namun pertanyaan paling penting tetap sama Apa gunanya kota pintar, kalau warganya masih memperlakukan trotoar seperti tempat sampah berjalan?
Sebab pada akhirnya, masalah terbesar Jakarta mungkin bukan volume sampahnya. Tapi rasa memiliki yang makin tipis terhadap kota tempat mereka tinggal.
Kota Modern, Mental Masih Buang Sembarangan.
“Kita mau kota modern, tapi masih buang sampah kayak hidup tanpa tetangga.”
“Jakarta sedang membangun mesin pembakar sampah. Sayangnya, belum ada mesin pembakar mental cuek.”. @teguh





