Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kota Modern Selalu Kalah oleh Sampahnya Sendiri. Kenapa?

by teguh
Mei 7, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Setiap pagi, Jakarta bangun bersama ribuan ton sampah baru. Plastik kopi, sisa makanan, kardus belanja online, hingga limbah gaya hidup urban terus bergerak menuju gunungan raksasa di TPST Bantargebang. Ironisnya, semakin modern sebuah kota, semakin besar sampah yang muncul setiap hari.

Tabooo.id: Deep – Kini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dan PLTSa sebagai jalan keluar. Tapi pertanyaannya belum selesai apakah teknologi benar-benar menyelesaikan masalah, atau hanya memperpanjang umur krisis?

Ketika Kota Tumbuh, Sampah Ikut Membesar

Jakarta tidak kekurangan teknologi. Masalah utama justru muncul dari pola hidup yang tumbuh lebih cepat daripada kesadaran manusianya.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendorong pembangunan fasilitas PSEL di Bantargebang dan Tanjung Kamal Muara. Pemerintah juga menggandeng Danantara untuk mempercepat proyek tersebut.

“Teknologi saja tidak cukup. Kunci utama tetap pada masyarakat yang memilah sampah dari rumah,” ujar Pramono dalam keterangannya di Balai Kota Jakarta, Senin (04/05/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru di situlah akar masalah kota modern muncul.

Ini Belum Selesai

G30S, PKI dan Ingatan yang Dibentuk Kekuasaan

Danyang dan Roh Leluhur: Mengapa Masih Dipercaya?

Masyarakat kota hidup dalam budaya konsumsi cepat. Mereka memesan makanan instan, membeli barang secara online, lalu membuang kemasannya dalam hitungan menit. Semua aktivitas itu terus menambah volume sampah.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan kota besar Indonesia menghasilkan jutaan ton sampah setiap tahun. Rumah tangga urban dan limbah makanan menyumbang angka terbesar. Namun, kesadaran memilah sampah masih tertinggal.

Sosiolog perkotaan dari Universitas Indonesia, Nirwono Yoga, menilai krisis sampah kota besar bukan sekadar persoalan teknis.

“Kota modern menciptakan budaya konsumsi yang agresif, tetapi gagal membangun budaya tanggung jawab setelah konsumsi terjadi.” Dan Jakarta bukan satu-satunya.

Kota-Kota Dunia Pernah Mengalami Hal Sama

Tokyo pernah kewalahan menghadapi ledakan limbah plastik. New York pernah mengirim sampah ke luar wilayah karena tempat pembuangannya penuh. Napoli di Italia bahkan lumpuh akibat gunungan sampah yang menutup jalan kota.

Artinya, krisis sampah sering muncul justru di kota yang tumbuh modern.

Antropolog budaya dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Faruk HT, menilai sistem ekonomi kota mendorong masyarakat terus membeli dan membuang barang.

“Kapitalisme kota bekerja dengan cara sederhana: semakin banyak dibeli, semakin ekonomi dianggap tumbuh. Sampah akhirnya menjadi jejak paling jujur dari gaya hidup manusia modern.”

Masalahnya, teknologi pengolahan sampah tumbuh lebih lambat daripada ledakan konsumsi masyarakat.

Akibatnya, kota modern terus mengejar masalah yang mereka ciptakan sendiri.

PLTSa: Jalan Keluar atau Tambalan Modern?

Pemerintah kini menjadikan PLTSa sebagai simbol modernisasi pengelolaan sampah. Teknologi itu mengubah sampah menjadi energi listrik. Secara teknis, konsep itu memang terdengar revolusioner.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut sampah Jakarta nantinya akan berubah menjadi energi yang mengaliri kota.

Namun sejumlah pengamat lingkungan mengingatkan bahwa PLTSa bukan solusi mutlak.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Zenzi Suhadi, menilai pendekatan pembakaran sampah berisiko membuat kota bergantung pada produksi sampah itu sendiri.

“Kalau sistem listrik bergantung pada sampah, maka kota justru membutuhkan sampah terus-menerus agar mesin tetap hidup.”

Ironinya muncul di sini. Kota ingin mengurangi sampah. Tapi industri pengolahan sampah justru membutuhkan pasokan sampah dalam jumlah besar.

Lalu siapa yang menikmati keuntungan terbesar?

Perusahaan teknologi. Pengelola limbah. Investor energi. Bahkan industri konsumsi yang terus menjual produk sekali pakai.

Sampah akhirnya berubah menjadi komoditas ekonomi baru.

Pemerintah Melawan Sampah, Warga Melawan Kebiasaan

Pramono sadar teknologi tidak cukup. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta mulai mendorong Instruksi Gubernur tentang pemilahan sampah dari rumah.

Pemerintah menggerakkan seluruh struktur birokrasi. Sekda, wali kota, camat, Jakarta

lurah, hingga karang taruna ikut menjalankan gerakan tersebut.

RW yang berhasil mencapai 100 persen pemilahan sampah akan menerima dukungan sarana dan prasarana.

Masalahnya, mengubah kebiasaan warga kota jauh lebih sulit daripada membangun mesin raksasa.

Budayawan Ridwan Saidi pernah mengatakan Jakarta tumbuh terlalu cepat sebagai kota konsumsi, tetapi berjalan lambat dalam membangun budaya kolektif.

Orang kota terbiasa membuang barang. Namun, mereka jarang memikirkan ke mana sampah itu bergerak setelah keluar dari rumahnya.

Padahal, sampah tidak pernah benar-benar hilang. Sampah hanya berpindah tempat. Dari rumah elit menuju pinggir kota. Dari apartemen mewah menuju gunungan Bantargebang.

Kota Modern Terus Memproduksi Krisisnya Sendiri

Ini bukan sekadar soal sampah. Ini pola kota modern yang terus menciptakan krisisnya sendiri.

Kota membangun pusat belanja lebih cepat daripada fasilitas daur ulang. Aplikasi antar makanan tumbuh lebih cepat daripada kesadaran memilah limbah. Konsumsi berubah menjadi simbol kemajuan, sementara orang menganggap sampah sebagai urusan belakang rumah.

Padahal keduanya lahir dari sistem yang sama. Dan mungkin itu ironi terbesar kota modern: manusia menciptakan kenyamanan dengan cara yang perlahan merusak ruang hidupnya sendiri.

Dampaknya Buat Kamu

Krisis sampah bukan cuma urusan pemerintah atau petugas kebersihan.

Masalah ini memengaruhi udara yang kamu hirup, banjir yang kamu hadapi, makanan yang terpapar mikroplastik, hingga biaya hidup kota yang terus naik akibat pengelolaan limbah.

Semakin banyak sampah muncul, semakin mahal kota bertahan hidup.

Dan ketika kota terus tumbuh tanpa mengubah pola konsumsi, teknologi secanggih apa pun hanya menjadi plester di atas luka yang terus terbuka setiap hari.

Suara Terakhir dari Gunungan Sampah

Jakarta kini membangun PLTSa, memperluas gerakan pemilahan sampah, dan mencoba mengejar ketertinggalan sistem pengelolaan limbahnya.

Tapi pertanyaan paling penting mungkin bukan soal teknologi apa yang pemerintah bangun.

Melainkan: apakah manusia kota benar-benar siap mengubah cara hidupnya sendiri?

Karena kalau tidak, kota modern akan terus melakukan hal yang sama menciptakan kenyamanan di depan, lalu menyimpan krisisnya di belakang. @teguh

Tags: BudayawanKotaKrisis GlobalModernSampahSosiologUniversitas Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Dua Musuh, Satu Kepentingan

by dimas
Juni 7, 2026

Di balik ancaman dan negosiasi yang tak berujung, AS dan Iran ternyata terjebak dalam kepentingan yang sama: sama-sama membutuhkan lawannya...

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

by teguh
Juni 7, 2026

Mangga, semangka, stroberi, hingga campuran buah tropis membuat vape semakin populer di kalangan anak muda. Banyak pengguna juga meyakini vape...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Next Post
Gultik: Lahir di Tikungan, Kini Balik Lagi ke FYP-mu

Gultik: Lahir di Tikungan, Kini Balik Lagi ke FYP-mu

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id