Setiap tanggal 3 Mei, dunia kembali mengingat satu hal sederhana namun krusial kebenaran sering kali membutuhkan keberanian untuk ditulis. Bagi sebagian jurnalis, keberanian itu bahkan berujung pada risiko kehilangan nyawa. Salah satu kisah paling kuat datang dari seorang editor Kolombia yang memilih menantang kartel narkoba dan akhirnya dibungkam peluru.
Tabooo.id: Figures – Nama Guillermo Cano Isaza masih dikenang sebagai simbol keberanian pers. Editor harian El Espectador itu tewas pada 17 Desember 1986 setelah bertahun-tahun menulis tajuk keras yang mengungkap kekuasaan kartel narkoba pimpinan Pablo Escobar. Kisah hidupnya terus mengingatkan dunia bahwa kebebasan pers sering menuntut harga yang mahal.
Setiap tanggal 3 Mei, dunia memperingati World Press Freedom Day. Hari ini menegaskan satu prinsip penting kebebasan pers menjadi fondasi bagi demokrasi. Peringatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan. Dunia memanfaatkannya sebagai ruang refleksi untuk menilai kondisi kebebasan media dan menghormati jurnalis yang gugur saat menyampaikan kebenaran kepada publik.
Di antara banyak nama yang tercatat dalam sejarah perjuangan pers dunia, Guillermo Cano Isaza menempati posisi istimewa. Ia memimpin El Espectador dan secara terbuka menantang kekuasaan kartel narkoba Kolombia. Keberanian itu akhirnya membuatnya menjadi target pembunuhan.
Kisah hidup Cano menunjukkan bahwa jurnalisme yang jujur sering menghadapi risiko paling ekstrem.
Tradisi Pers Kritis dari Bogotá
Guillermo Cano lahir di Bogotá pada 12 Agustus 1925. Ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi kuat dalam dunia pers. Kakeknya, Fidel Cano Gutiérrez, mendirikan El Espectador dan membangun reputasi surat kabar itu sebagai media yang kritis terhadap kekuasaan.
Sejak muda Cano sudah akrab dengan ruang redaksi. Setelah lulus dari Gimnasio Moderno pada 1942, ia langsung bergabung dengan El Espectador sebagai penulis kronik. Ia menulis tentang adu banteng, olahraga, pacuan kuda, budaya, hingga politik.
Pengalaman tersebut membentuknya menjadi jurnalis yang tajam sekaligus sensitif terhadap dinamika sosial.
Pada 17 September 1952, Cano mengambil alih posisi editor surat kabar tersebut. Selama lebih dari empat dekade, ia mengarahkan El Espectador menjadi media yang konsisten mengkritik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kekerasan politik.
Bagi Cano, jurnalisme tidak hanya menyampaikan berita. Ia melihatnya sebagai tanggung jawab moral untuk menjaga demokrasi tetap hidup.
Menantang Kerajaan Narkotika
Konflik besar Cano dengan dunia narkotika muncul pada awal 1980-an. Saat itu Kolombia menjadi pusat jaringan perdagangan kokain global.
Salah satu tokoh yang sedang naik daun adalah Pablo Escobar. Ia tidak hanya membangun kerajaan narkoba, tetapi juga mencoba memasuki dunia politik nasional.
Pada 1983, Cano mempublikasikan laporan investigatif yang mengungkap masa lalu kriminal Escobar. Ia menemukan kembali arsip penangkapan Escobar pada 1976 terkait penyelundupan kokain yang disembunyikan di ban mobil curian.
Publikasi tersebut mengguncang ambisi politik Escobar yang saat itu berusaha memperkuat posisinya di Kongres Kolombia.
Sejak saat itu konflik antara Cano dan kartel Medellín berkembang menjadi pertarungan terbuka. Melalui tajuk rencana dan laporan investigatif, Cano terus menyoroti pengaruh narkotika dalam politik dan institusi negara.
Tulisan-tulisan itu membuat El Espectador menjadi salah satu media paling vokal dalam menentang kartel narkoba.
Namun keberanian itu juga membawa risiko besar. Ancaman terhadap Cano semakin sering muncul.
Peluru di Depan Kantor Redaksi
Sore 17 Desember 1986 menjadi hari paling gelap dalam sejarah jurnalisme Kolombia.
Ketika Cano meninggalkan kantor El Espectador dengan mobil Subaru Leone miliknya, dua pria bersenjata yang mengendarai sepeda motor menunggu di persimpangan jalan.
Salah satu dari mereka mengangkat senapan mesin Uzi dan melepaskan tembakan.
Empat peluru menghantam dada Cano. Mobilnya kehilangan kendali dan menabrak tiang lampu di tepi jalan. Para penyerang langsung melarikan diri dari lokasi kejadian.
Petugas membawa Cano ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal beberapa saat sebelum pukul tujuh malam.
Banyak pihak meyakini serangan tersebut sebagai balasan atas kampanye jurnalistik Cano yang secara konsisten mengungkap kekuasaan kartel narkoba.
Kekerasan tidak berhenti setelah kematiannya. Tiga tahun kemudian sebuah bom besar menghancurkan kantor El Espectador. Pelaku juga membunuh pengacara keluarga Cano dan membakar rumah musim panas keluarganya.
Warisan Kebebasan Pers Dunia
Meski peluru menghentikan hidupnya, gagasan Cano justru melampaui batas negara.
UNESCO mengabadikan namanya melalui penghargaan tahunan UNESCO/Guillermo Cano World Press Freedom Prize. Penghargaan ini menghormati individu atau organisasi yang menunjukkan keberanian luar biasa dalam membela kebebasan pers.
Pada tahun 2000, International Press Institute juga memasukkan Cano dalam daftar 50 Pahlawan Kebebasan Pers Dunia abad ke-20.
Kisah hidupnya bahkan muncul dalam budaya populer. Aktor Germán Quintero memerankan Cano dalam serial televisi Escobar, el patrón del mal.
Namun warisan terbesar Cano bukanlah penghargaan atau pengakuan. Warisan itu terletak pada prinsip yang ia pegang sepanjang hidupnya: jurnalisme harus berdiri di sisi kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu berhadapan dengan kekuasaan paling berbahaya.
Peringatan Dunia bagi Jurnalisme
Deklarasi Windhoek Declaration kemudian mendorong United Nations General Assembly menetapkan tanggal 3 Mei sebagai hari peringatan resmi pada 1993 atas rekomendasi UNESCO.
Namun pesan dari peringatan ini tetap relevan hingga hari ini.
Di banyak negara, jurnalis masih menghadapi tekanan politik, kekerasan fisik, dan ancaman digital. Karena itu, Hari Kebebasan Pers Sedunia tidak hanya merayakan kebebasan berekspresi. Hari ini juga mengingatkan dunia untuk terus melindungi jurnalisme independen.
Di balik setiap berita, terdapat kerja panjang yang jarang terlihat publik. Jurnalis bekerja di bawah tekanan waktu dan risiko keselamatan. Media berjuang menjaga independensi di tengah berbagai kepentingan.
Sementara itu, masyarakat membutuhkan informasi yang jujur dan terbuka.
Kisah Guillermo Cano menunjukkan betapa mahalnya harga dari prinsip tersebut.
Selama dunia masih memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, nama Cano akan terus hidup bukan hanya sebagai editor yang gugur, tetapi sebagai pengingat bahwa demokrasi membutuhkan pers yang berani. @dimas




