Tidak semua sistem memaksa manusia secara langsung. Sebaliknya, sebagian sistem bekerja lebih halus: ia membuat manusia merasa sedang berpikir, padahal hanya mengikuti pola. Dari titik inilah konsep “Ritual” muncul.
Tabooo.id: Deep – Konsep ini tidak berangkat sebagai cerita tentang seminar. Sebaliknya, ia berfungsi sebagai metafora tentang bagaimana pikiran manusia terbentuk, diarahkan, lalu dijalankan tanpa disadari.
Di dalamnya, “ritual” bukan sekadar aktivitas.
Ia bekerja sebagai mekanisme.
Seseorang mengulang sesuatu cukup lama, hingga akhirnya ia tidak lagi melihatnya sebagai pilihan.
Keseragaman yang Tidak Terasa Dipaksakan
Dalam konsep ini, tidak ada tekanan yang terlihat.
Tidak ada ancaman. Tidak ada larangan.
Sebaliknya, sistem menghadirkan sesuatu yang terasa lebih nyaman: kebebasan yang tampak natural.
Setiap orang menjalani prosesnya masing-masing.
Setiap orang merasa sedang berpikir.
Namun, pada akhirnya, hasilnya tetap sama.
Di titik ini, keseragaman tidak lagi terlihat sebagai kontrol.
Sebaliknya, ia muncul sebagai sesuatu yang wajar.
Dan justru di situlah masalahnya.
Karena ketika sesuatu terasa wajar, manusia berhenti mempertanyakannya.
Ilusi Menjadi Berbeda
Selanjutnya, konsep ini tidak hanya mengkritik sistem.
Ia juga membongkar ilusi individu.
Seseorang mulai merasakan kejanggalan.
Ia merasa tidak selaras.
Ia merasa berbeda.
Namun kemudian, pertanyaan muncul:
Apakah itu benar kesadaran?
Atau hanya bentuk lain dari identitas yang masih berada dalam sistem yang sama?
Dalam banyak kasus, manusia tidak benar-benar keluar dari pola.
Sebaliknya, mereka hanya berpindah ke variasi pola yang terasa lebih personal.
Karena terasa personal, mereka menganggapnya sebagai kebebasan.
Sistem yang Tidak Terlihat
Konsep ini tidak menampilkan sistem sebagai kekuasaan yang keras.
Ia tidak melarang. Ia tidak menghukum.
Sebaliknya, sistem hanya mengarahkan.
Kalimat-kalimat yang terdengar memberi ruang justru membentuk keseragaman.
Bukan dengan memaksa manusia untuk sama, tetapi dengan membawa mereka menuju kesimpulan yang sama.
Dengan demikian, sistem mencapai bentuk kontrol yang paling efisien:
ia tidak terlihat sebagai kontrol.
Konflik yang Terjadi di Dalam Kepala
Tidak ada pertarungan besar dalam konsep ini.
Tidak ada musuh yang jelas.
Sebaliknya, konflik terjadi di dalam diri.
Seseorang berhadapan dengan dua hal:
apa yang ia rasakan sebagai “diri sendiri”
dan apa yang sebenarnya telah dikondisikan.
Di titik tertentu, keduanya tidak lagi selaras.
Masalahnya, manusia tidak selalu mampu membedakan mana yang asli.
Akibatnya, konflik tidak terlihat dari luar, tetapi terus bekerja di dalam kepala.
Kebebasan yang Bersifat Fisik, Bukan Mental
Selain itu, konsep ini menyoroti satu hal yang sering terlewat:
keluar tidak selalu berarti bebas.
Manusia bisa berpindah tempat.
Mereka bisa mengganti lingkungan.
Mereka bahkan bisa mengubah situasi.
Namun, mereka tetap membawa cara berpikir yang sama.
Selama pola itu tidak berubah, sistem tetap ada.
Pertanyaan yang Tidak Nyaman
Pada akhirnya, konsep “Ritual” tidak memberikan jawaban.
Sebaliknya, ia meninggalkan pertanyaan.
Jika sebagian besar pikiran hanyalah hasil pengulangan,
lalu di mana letak pikiran yang benar-benar milik kita?
Dan jika kesadaran pun bisa terserap oleh sistem,
lalu apa arti menjadi sadar?
Penutup
Yang paling mengganggu dari konsep ini bukan ceritanya,
melainkan implikasinya.
Manusia bukan sedang kehilangan kebebasan.
Sebaliknya, mereka mungkin tidak pernah benar-benar memilikinya.
Dan mungkin, apa yang selama ini disebut “berpikir”
hanyalah kebiasaan yang terus diulang
hingga akhirnya dipercaya sebagai kebenaran. @jeje





