Kamis, Juni 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sertifikasi Guru Naik, Pendidikan Ikut Naik? Ini Program Atau Ini Arah Sistem?

by teguh
Mei 3, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Setiap 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan optimisme. Pemerintah menyampaikan capaian, sekolah menggelar seremoni, dan publik diajak percaya bahwa pendidikan terus bergerak maju.

Tabooo.id: Deep – Namun, di tengah narasi itu, ada kegelisahan yang diam-diam bertahan. Perjuangan guru ternyata belum selesai ia hanya berganti bentuk. Jika dulu mereka menghadapi penjajahan fisik, kini mereka berhadapan dengan tekanan sistem yang tak kalah kompleks.

Dari Filosofi ke Regulasi: Perubahan yang Tidak Netral

Sejak awal, pendidikan Indonesia dibangun di atas fondasi nilai.
Ki Hadjar Dewantara pernah menegaskan pada 1935:

“Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.”

Akan tetapi, seiring waktu, pendekatan itu mengalami pergeseran. Kini, pendidikan tidak hanya berbicara soal tuntunan, melainkan juga soal standar dan pengukuran.

Sebagai contoh, kebijakan sertifikasi guru menjadi simbol perubahan tersebut.
Pemerintah mencatat lonjakan signifikan dari 65% (1,9 juta guru) menjadi 92% (2,7 juta guru) pada 2026.

Lebih lanjut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, pada 30/04/2026, menyatakan:

Ini Belum Selesai

Dari Buku ke Perubahan: Saat Ibu Rumah Tangga Menjadi Agen Iklim Indonesia

Otoriter Populis: Saat Demokrasi Dilemahkan dari Dalam

“Semakin banyak guru yang tersertifikasi, maka semakin banyak pula guru kita yang profesional dan sejahtera.”

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan ini agar tidak ada lagi guru tanpa sertifikasi di masa depan.

Analisis Sistem: Ketika Standar Bertemu Realitas

Secara teoritis, hubungan antara sertifikasi dan kualitas terlihat linear. Namun, dalam praktiknya, relasi itu tidak selalu berjalan lurus.

Pertama, sertifikasi lebih dekat ke administrasi dibanding transformasi

Sertifikat memang menunjukkan kelayakan formal. Meski demikian, kualitas mengajar tetap ditentukan oleh interaksi nyata di ruang kelas.

Dalam diskusi pendidikan tahun 2015, Prof. Anies Baswedan pernah mengingatkan:

“Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sertifikat, tapi oleh praktik mengajar sehari-hari.”

Dengan kata lain, pengakuan administratif belum tentu sejalan dengan pengalaman belajar siswa.

Kedua, kesejahteraan meningkat, tetapi dilema baru muncul

Di satu sisi, sertifikasi membuka akses terhadap Tunjangan Profesi Guru (TPG). Hal ini tentu menjadi langkah penting untuk memperbaiki kesejahteraan.

Namun demikian, muncul pertanyaan baru apakah orientasi profesi ikut bergeser?

Sosiolog pendidikan Prof. Azyumardi Azra pada 2012 menilai:

“Ketika pendidikan terlalu birokratis, maka nilai kemanusiaannya bisa tereduksi.”

Artinya, ketika sistem semakin dominan, ruang idealisme berpotensi menyempit.

Ketiga, percepatan angka belum tentu berarti percepatan kualitas

Lonjakan dari 65% ke 92% dalam waktu singkat memang impresif.
Akan tetapi, perubahan mendasar dalam pendidikan biasanya berlangsung lebih lambat.

Sebaliknya, indikator kualitas justru terlihat dari hal-hal yang lebih subtil:

  • kemampuan berpikir kritis
  • kreativitas siswa
  • kekuatan karakter

Oleh karena itu, angka tinggi tidak otomatis menjawab persoalan mendasar pendidikan.

Tabooo Twist: Ini Bukan Sekadar Kebijakan, Ini Arah Pendidikan

Jika dilihat lebih dalam, kebijakan ini bukan sekadar langkah teknis. Sebaliknya, ia mencerminkan arah besar sistem pendidikan Indonesia.

Arah tersebut bergerak mulai dari nilai Menjadi standar dan berakhir sebagai sistem.

Masalahnya, pendidikan tidak selalu bisa diperlakukan seperti sistem produksi. Ketika semua diukur secara seragam, ada risiko bahwa aspek manusiawi justru terpinggirkan.

Filosofi: Antara Yang Terlihat dan Yang Tersembunyi

Yang terlihat di permukaan:
  • peningkatan kesejahteraan guru
  • standarisasi kompetensi
  • dorongan profesionalisme
Yang tersembunyi di balik kebijakan:
  • kepercayaan berlebih pada sistem pengukuran
  • formalisasi peran guru sebagai profesi teknis
  • pergeseran makna pendidikan dari panggilan menjadi pekerjaan

Dari Pengabdian ke Prosedur: Pergeseran yang Halus Tapi Nyata

Pada masa kemerdekaan, guru mengajar dengan keterbatasan. Namun demikian, mereka membawa visi besar: membangun bangsa.

Saat ini, kondisi material memang lebih baik. Akan tetapi, tantangan baru muncul dalam bentuk tekanan administratif dan target sistem.

Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah menyampaikan:

“Pendidikan itu bukan transfer ilmu, tapi perjumpaan jiwa.”

Pertanyaannya kemudian menjadi relevan apakah ruang “perjumpaan jiwa” itu masih cukup luas hari ini?

Human Impact: Dampaknya Tidak Jauh dari Hidupmu

Bagi siswa, realitas ini berarti tidak semua guru inspiratif meski sudah tersertifikasi.

Bagi orang tua, sistem terlihat rapi, tetapi hasilnya belum selalu terasa dalam karakter anak.

Sementara itu, bagi guru sendiri, kesejahteraan meningkat, namun beban administratif ikut bertambah.

Inspirasi: Apa yang Bisa Dipelajari Generasi Sekarang

Sejarah menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah bergantung sepenuhnya pada sistem. Sebaliknya, ia bertumpu pada manusia yang menjalankannya.

Karena itu, generasi hari ini bisa mengambil pelajaran penting yaitu nilai, integritas, dan keberanian berpikir tetap menjadi inti pendidikan.

Sistem boleh berubah. Namun, makna belajar tidak boleh ikut hilang.

Closing: Pertanyaan yang Tidak Nyaman Tapi Perlu

Hari Pendidikan Nasional selalu membawa nama besar Ki Hadjar Dewantara. Namun, relevansi perjuangannya justru diuji hari ini.

Apakah pendidikan kita sedang bergerak menuju kualitas yang lebih hidup?, Ataukah kita justru sedang menyempurnakan sistem yang rapi, tetapi semakin dingin?

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan soal berapa banyak guru yang tersertifikasi.Melainkan tentang seberapa banyak manusia yang benar-benar tercerahkan. @teguh

Tags: FilosofiguruKualitasPendidikanpresidenRegulasiSekolahSertifikasiWakil Menteri Pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

by teguh
Juni 18, 2026

Media sosial sering mengabadikan kesalahan lebih lama daripada kebaikan. Satu unggahan bisa berubah menjadi ruang sidang publik dalam hitungan menit....

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

by teguh
Juni 15, 2026

Seorang ayah Langkahnya pelan ketika memasuki halaman rumah pemilik toko. Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki yang terus menunduk. Tak...

Next Post
Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id