Setiap 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan optimisme. Pemerintah menyampaikan capaian, sekolah menggelar seremoni, dan publik diajak percaya bahwa pendidikan terus bergerak maju.
Tabooo.id: Deep – Namun, di tengah narasi itu, ada kegelisahan yang diam-diam bertahan. Perjuangan guru ternyata belum selesai ia hanya berganti bentuk. Jika dulu mereka menghadapi penjajahan fisik, kini mereka berhadapan dengan tekanan sistem yang tak kalah kompleks.
Dari Filosofi ke Regulasi: Perubahan yang Tidak Netral
Sejak awal, pendidikan Indonesia dibangun di atas fondasi nilai.
Ki Hadjar Dewantara pernah menegaskan pada 1935:
“Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.”
Akan tetapi, seiring waktu, pendekatan itu mengalami pergeseran. Kini, pendidikan tidak hanya berbicara soal tuntunan, melainkan juga soal standar dan pengukuran.
Sebagai contoh, kebijakan sertifikasi guru menjadi simbol perubahan tersebut.
Pemerintah mencatat lonjakan signifikan dari 65% (1,9 juta guru) menjadi 92% (2,7 juta guru) pada 2026.
Lebih lanjut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, pada 30/04/2026, menyatakan:
“Semakin banyak guru yang tersertifikasi, maka semakin banyak pula guru kita yang profesional dan sejahtera.”
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan ini agar tidak ada lagi guru tanpa sertifikasi di masa depan.
Analisis Sistem: Ketika Standar Bertemu Realitas
Secara teoritis, hubungan antara sertifikasi dan kualitas terlihat linear. Namun, dalam praktiknya, relasi itu tidak selalu berjalan lurus.
Pertama, sertifikasi lebih dekat ke administrasi dibanding transformasi
Sertifikat memang menunjukkan kelayakan formal. Meski demikian, kualitas mengajar tetap ditentukan oleh interaksi nyata di ruang kelas.
Dalam diskusi pendidikan tahun 2015, Prof. Anies Baswedan pernah mengingatkan:
“Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sertifikat, tapi oleh praktik mengajar sehari-hari.”
Dengan kata lain, pengakuan administratif belum tentu sejalan dengan pengalaman belajar siswa.
Kedua, kesejahteraan meningkat, tetapi dilema baru muncul
Di satu sisi, sertifikasi membuka akses terhadap Tunjangan Profesi Guru (TPG). Hal ini tentu menjadi langkah penting untuk memperbaiki kesejahteraan.
Namun demikian, muncul pertanyaan baru apakah orientasi profesi ikut bergeser?
Sosiolog pendidikan Prof. Azyumardi Azra pada 2012 menilai:
“Ketika pendidikan terlalu birokratis, maka nilai kemanusiaannya bisa tereduksi.”
Artinya, ketika sistem semakin dominan, ruang idealisme berpotensi menyempit.
Ketiga, percepatan angka belum tentu berarti percepatan kualitas
Lonjakan dari 65% ke 92% dalam waktu singkat memang impresif.
Akan tetapi, perubahan mendasar dalam pendidikan biasanya berlangsung lebih lambat.
Sebaliknya, indikator kualitas justru terlihat dari hal-hal yang lebih subtil:
- kemampuan berpikir kritis
- kreativitas siswa
- kekuatan karakter
Oleh karena itu, angka tinggi tidak otomatis menjawab persoalan mendasar pendidikan.
Tabooo Twist: Ini Bukan Sekadar Kebijakan, Ini Arah Pendidikan
Jika dilihat lebih dalam, kebijakan ini bukan sekadar langkah teknis. Sebaliknya, ia mencerminkan arah besar sistem pendidikan Indonesia.
Arah tersebut bergerak mulai dari nilai Menjadi standar dan berakhir sebagai sistem.
Masalahnya, pendidikan tidak selalu bisa diperlakukan seperti sistem produksi. Ketika semua diukur secara seragam, ada risiko bahwa aspek manusiawi justru terpinggirkan.
Filosofi: Antara Yang Terlihat dan Yang Tersembunyi
Yang terlihat di permukaan:
- peningkatan kesejahteraan guru
- standarisasi kompetensi
- dorongan profesionalisme
Yang tersembunyi di balik kebijakan:
- kepercayaan berlebih pada sistem pengukuran
- formalisasi peran guru sebagai profesi teknis
- pergeseran makna pendidikan dari panggilan menjadi pekerjaan
Dari Pengabdian ke Prosedur: Pergeseran yang Halus Tapi Nyata
Pada masa kemerdekaan, guru mengajar dengan keterbatasan. Namun demikian, mereka membawa visi besar: membangun bangsa.
Saat ini, kondisi material memang lebih baik. Akan tetapi, tantangan baru muncul dalam bentuk tekanan administratif dan target sistem.
Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah menyampaikan:
“Pendidikan itu bukan transfer ilmu, tapi perjumpaan jiwa.”
Pertanyaannya kemudian menjadi relevan apakah ruang “perjumpaan jiwa” itu masih cukup luas hari ini?
Human Impact: Dampaknya Tidak Jauh dari Hidupmu
Bagi siswa, realitas ini berarti tidak semua guru inspiratif meski sudah tersertifikasi.
Bagi orang tua, sistem terlihat rapi, tetapi hasilnya belum selalu terasa dalam karakter anak.
Sementara itu, bagi guru sendiri, kesejahteraan meningkat, namun beban administratif ikut bertambah.
Inspirasi: Apa yang Bisa Dipelajari Generasi Sekarang
Sejarah menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah bergantung sepenuhnya pada sistem. Sebaliknya, ia bertumpu pada manusia yang menjalankannya.
Karena itu, generasi hari ini bisa mengambil pelajaran penting yaitu nilai, integritas, dan keberanian berpikir tetap menjadi inti pendidikan.
Sistem boleh berubah. Namun, makna belajar tidak boleh ikut hilang.
Closing: Pertanyaan yang Tidak Nyaman Tapi Perlu
Hari Pendidikan Nasional selalu membawa nama besar Ki Hadjar Dewantara. Namun, relevansi perjuangannya justru diuji hari ini.
Apakah pendidikan kita sedang bergerak menuju kualitas yang lebih hidup?, Ataukah kita justru sedang menyempurnakan sistem yang rapi, tetapi semakin dingin?
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan soal berapa banyak guru yang tersertifikasi.Melainkan tentang seberapa banyak manusia yang benar-benar tercerahkan. @teguh





